Posted on Leave a comment

Polres Sanggau Gelar Pasukan Operasi Aman Nusa II Karhutla Kapuas-2026

Polres Sanggau menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” di Halaman Mapolres Sanggau, Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 09.00 WIB.
Polres Sanggau menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” di Halaman Mapolres Sanggau, Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 09.00 WIB.
Polres Sanggau menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” di Halaman Mapolres Sanggau, Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 09.00 WIB.

 

Sanggau – Polres Sanggau menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” dalam rangka penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Halaman Mapolres Sanggau, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Beringin, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kamis, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 09.00 WIB.

Apel tersebut dipimpin langsung Kapolres Sanggau AKBP Kadek Ary Mahardika, S.I.K., M.H., sebagai langkah memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana sekaligus menyatukan pola tindakan seluruh unsur yang terlibat dalam operasi penanggulangan Karhutla.

Sejumlah unsur Forkopimda dan instansi terkait turut hadir, di antaranya Dandim 1204/Sgu Letkol Inf Nurrachman Gindha Dradhizya, S.I.P., Danyon TP 833/Bumi Daranante Letkol Inf Riska Imron Rosadi, S.I.P., M.Han., Staf Ahli Bupati Sanggau Agus Sutanto, S.Hut., serta perwakilan Kejaksaan Negeri Sanggau dan Pengadilan Negeri Sanggau.

Turut hadir Kepala BPBD Kabupaten Sanggau Ir. Didit Richardi, M.T., Kepala Seksi Penanganan Bencana Kebakaran Damkar Sanggau Zulkifli, Komandan Regu Manggala Agni Sanggau Heriadi, serta unsur terkait lainnya. Kehadiran lintas instansi tersebut mencerminkan pentingnya penanganan Karhutla secara bersama dan terpadu.

Kekuatan pasukan yang mengikuti apel terdiri dari unsur Polres Sanggau, Yonif TP 833/Bumi Daranante, Kompi Brimob Sanggau dan personel BKO Brimob, Sat Samapta, Sat Pamobvit, Satlantas, staf Polres, Bhabinkamtibmas, Satreskrim, Satintel, Satpol PP dan Damkar, BPBD, serta gabungan Manggala Agni, Tagana, Masyarakat Peduli Api dan UPT KPH Sanggau.

Dalam amanat Kapolda Kalimantan Barat yang dibacakan Kapolres Sanggau, ditegaskan bahwa Operasi Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” merupakan penguatan langkah pencegahan, deteksi dini, pemadaman, penegakan hukum dan dukungan operasional secara terpadu.


Secara keseluruhan, operasi tersebut melibatkan 112 personel Polda Kalbar, 228 personel Polres/Ta jajaran Polda Kalbar, serta 304 personel BKO Korps Brimob dan Bareskrim. Kekuatan tersebut diperkuat dengan 110 personel Tim Edukasi Polri yang berasal dari penyidik Bareskrim Polri, perwira menengah Lemdiklat Polri, mahasiswa S2 PTIK, Serdik Setukpa dan Serdik Sespimma.

Kapolres Sanggau AKBP Kadek Ary Mahardika mengatakan, apel gelar pasukan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memastikan seluruh unsur benar-benar siap bergerak menghadapi potensi Karhutla. Menurutnya, kecepatan respons harus dibarengi koordinasi yang kuat agar setiap kejadian dapat ditangani sejak dini.

“Operasi ini harus menghasilkan kerja nyata di lapangan. Setiap informasi mengenai titik api harus segera diverifikasi, ditindaklanjuti dan ditangani secara terkoordinasi. Kami ingin memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan secara cepat sekaligus mencegah api berkembang menjadi bencana yang lebih luas,” ujar AKBP Kadek Ary.

Ia menambahkan, patroli terpadu dan ground checking akan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi. Setiap titik api yang terdeteksi harus dipastikan kondisi sebenarnya di lapangan, kemudian dilakukan pemadaman, pendinginan dan pembasahan hingga benar-benar aman.

Selain aspek pemadaman, Polres Sanggau akan memperkuat komunikasi dengan masyarakat, perusahaan, pemerintah daerah, TNI, BPBD, Manggala Agni dan seluruh pemangku kepentingan. Edukasi mengenai bahaya pembakaran, larangan land clearing dengan cara membakar serta pentingnya pelaporan dini akan terus dilakukan dengan pendekatan yang humanis.

Kapolres juga menekankan pentingnya optimalisasi peran Bhabinkamtibmas sebagai penghubung langsung antara kepolisian dan masyarakat. Menurutnya, pemahaman terhadap karakteristik wilayah dan masyarakat diperlukan agar pesan pencegahan Karhutla dapat diterima secara efektif dan mendorong masyarakat menjadi bagian dari sistem deteksi dini.

Dalam pelaksanaan operasi, seluruh sarana pendukung seperti pos tanggap darurat, sumber air, kendaraan, peralatan pemadaman, drone, command center dan sistem informasi akan dimaksimalkan. Setiap personel juga diminta memahami kondisi medan serta mengutamakan keselamatan diri dan rekan saat menjalankan tugas.

“Penanganan Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Kami mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, segera melaporkan jika menemukan titik api dan ikut menjaga lingkungan. Polri bersama TNI, pemerintah daerah dan seluruh stakeholder akan terus hadir untuk memberikan perlindungan dan memastikan situasi tetap aman serta kondusif,” tegasnya.

Operasi Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” di wilayah Sanggau diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan sekaligus mempercepat penanganan setiap kejadian Karhutla.

Melalui kesiapan personel, dukungan sarana prasarana, sinergitas lintas sektor dan partisipasi masyarakat, penanggulangan Karhutla diharapkan berjalan cepat, terpadu dan efektif sehingga dampak terhadap lingkungan, kesehatan, aktivitas masyarakat dan perekonomian dapat ditekan. (Red)

Baca juga: Pemred Metro Voice Berikan Kuliah Umum tentang Aksara Gholiks

Posted on Leave a comment

Buku Haji Rais Abdoerracman dilaunching di Hotel Mercure Pontianak

Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai Inisiator Launching Buku Haji Rais Abdoerracman di Hotel Mercure Pontianak, Senin, 12 Mei 2025
Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai Inisiator Launching Buku Haji Rais Abdoerracman di Hotel Mercure Pontianak, Senin, 12 Mei 2025

Pontianak, Dekade— Buku Haji Rais Abdoerracman dilaunching di Hotel Mercure, di Jalan Jenderal Ahmad Yani Pontianak, pada Senin, 12 Mei 2025, pukul 09:00.

Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai Inisiator Launching Buku Haji Rais Abdoerracman, mengemukakan bahwa Launching ini seyogianya dilaksanakan pada bulan Maret 2025, namun baru terealisasi pada bulan Mei 2025.

“Buku Haji Rais Abdoerracman telah dipersiapkan sejak bulan November 2024 untuk dilaunching pada bulan Maret 2025. Karena bertepatan dengan bulan puasa dan lebaran, sehingga rencana launching itu kami tunda dan baru bisa direalisasikan pada hari ini,” ungkap Werda.

Buku Haji Rais Abdoerracman telah lama ditulis oleh Tomi, S.Pd.,M.E., yaitu pada bulan Oktober 2015 hingga April 2016.

“Penulis buku ini adalah Tomi, S.Pd.,M.E., yang mulai ditulis pada 30 Oktober 2015 hingga 8 April 2016. Hampir 10 tahun buku ini telah selesai ditulis dan baru ditahun 2025 ini diterbitkan dan dilaunching,” kata Werda.

Dalam acara Launching buku Haji Rais Abdoerracman, juga diperkenalkan buku Khazanah Pantun Kalimantan Barat. Buku tersebut menjadi bahan presentasi dalam pertemuan dengan Relawan Indonesia Cerdas yang berlangsung pada Senin malam, 12 Mei 2025, pukul 20:00 – 23:00 wib.

“Selain Launching buku, terdapat dua rangkaian kegiatan yang berhubungan dengan launching buku ini yaitu Bedah Buku bersama Forum Kolektor Media Lawas (Komal). Dan telah dilaksanakan kemarin malam, pada hari Minggu, 11 Mei 2025, pukul 20:00-23:00. Kemudian diskusi Buku Khazanah Pantun Kalimantan Barat bersama Relawan Indonesia Cerdas, yang akan dilaksanakan pada malam ini,” kata Werda.

Sekilas Tentang Haji Rais Abdoerracman

Haji Rais Bin Haji Abdoerrachman merupakan salah seorang Pahlawan Perintis Kemerdekaan di Kalimantan Barat. Haji Rais lahir pada tahun 1904 di kampung Parit Mayor yang sebagian besar penduduknya berasal dari suku Banjar. Ayah Haji Rais bernama Haji Abdoerrachman dan ibunya bernama Kesum. Haji Rais merupakan anak tertua dari lima bersaudara.

Haji Rais bin Abdoerrachman terkenal sebagai seorang jurnalis yang membangkitkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya pers. Haji Rais beranggapan bahwa pers mempunyai peran penting dalam perjuangan untuk melakukan perubahan dalam bidang politik, ekonomi, maupun sosial budaya. Bangkit dari kemiskinan dan kebodohan, serta perlawanan terhadap kekuatan yang menindas rakyat, merupakan hal yang disampaikannya kepada masyarakat.

Kemampuan jurnalis yang dipelajari Haji Rais selama di Jakarta dimanfaatkannya untuk mengelola beberapa media yang terbit di Kalimantan Barat. Ia ikut merintis kelahiran majalah Kesedaran yang merupakan media resmi dari organisasi Persatuan Anak Borneo (PAB), sebelum ia mengundurkan diri sebagai pengurus. Haji Rais Abdoerrachman menjadi pemimpin redaksi Majalah Kesedaran yang pertama terbit tahun 1939 itu.

Kiprah Haji Rais dalam dunia junalistik dan organisasi Sarekat Rakyat juga membuatnya ditangkap dan ditahan di Batavia dan mengantarkan Haji Rais ke pembuangan di Boven Digul. Apalagi setelah pemerintah Hindia Belanda mengetahui keterlibatan Haji Rais dan teman-temannya pada Kongres Pemuda I pada tanggal 30 April hingga 2 Mei 1926 di Lapangan Banteng, Jakarta.

Haji Rais dan semua tokoh Sarekat Rakyat, yaitu Gusti Hamzah dari Teluk Melano-Ketapang, Djeranding Sari Sawang Amasundin atau Jeranding Abdurrahman dari Malapi Kapuas Hulu, Achmad Marzuki dari Pontianak, Gusti Sulung Lelanang, Gusti Moehammad Situt Machmud, Gusti Djohan Idrus, Achmad Sood, Mohammad Hambal atau Bung Tambal, dan Mohammad Sohor dari Landak, diputuskan dibuang seumur hidup ke Tanah Merah, Boven Digul, Irian Jaya (Papua) melalui pengadilan Batavia berdasarkan keputusan Gubernur Jenderal Hindia Belanda tanggal 1 April 1927. Pada akhirnya, tahun 1944 Haji Rais ditangkap dan dibunuh oleh Jepang.

Kemajuan pers di Kalimantan Barat tidak lepas dari peran Haji Rais yang aktif di dunia jurnalistik. Pemikiran-pemikirannya tentang kemandirian dalam segala bidang disampaikan kepada masyarakat melalui pers, untuk mendorong mayarakat agar tidak bergantung kepada orang lain atau pemerintah Belanda. (Red)

Baca juga :

Tom’S Book Publishing Pre-Launching Buku Haji Rais Abdoerracman

Posted on Leave a comment

Penerbit Nasional Tak Membayarkan Hak Royalti Penulis Daerah

Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis dari Kabupaten Sanggau, yang menulis buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’, yang diterbitkan oleh Feliz Books. Namun tidak mendapatkan kontrak penerbitan dan tidak dibayarkan Hak Royaltinya
Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis dari Kabupaten Sanggau, yang menulis buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’, yang diterbitkan oleh Feliz Books. Namun tidak mendapatkan kontrak penerbitan dan tidak dibayarkan Hak Royaltinya

Sanggau, Dekade- Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis dari Kabupaten Sanggau mengutarakan bahwa dua buah judul bukunya yang telah diterbitkan oleh Feliz Books, yang merupakan penerbit nasional di Jakarta, tidak membayarkan Hak Royaltinya. Hal itu ia utarakan pada salah satu media nasional yang mewawancarainya pada hari Rabu malam, 9 April 2025 lalu.

Dua buah bukunya yaitu Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’, diterbitkan pada bulan Mei 2014 oleh penerbit Feliz Books yang beralamat di Jalan Pulo Cempaka Raya No. 73 Jakarta.

“Buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’ ini diterbitkan oleh Feliz Books pada bulan Mei 2014, yang hingga bulan April 2025 ini, saya tidak mendapatkan pembayaran Hak Royaltinya,” ujar Tomi.

Selain tidak dibayarkan Hak Royaltinya, dua buah buku yang telah diterbitkan dan telah tersebar luas penjualannya ke seluruh Indonesia itu juga tidak ada kontrak penerbitannya antara penerbit dan Tomi, sebagai penulisnya.

“Ketika diterbitkan pada bulan Mei 2014 itu, hingga tahun 2025 ini, saya tidak mendapatkan kontrak penerbitannya. Padahal sebelum diterbitkan, pihak Feliz Books menyampaikan bahwa penerbitan kedua buku itu dilakukan setelah saya menandatangani kontrak penerbitan dari Feliz Books. Namun hingga saat ini saya tidak menerima kontraknya, apalagi menandatanganinya,” celoteh Tomi.

Sebelum diterbitkan, pihak Feliz Books mengatakan bahwa kedua buku itu akan dicetak sebanyak 10.000 eksemplar, dengan biaya penerbitan dan cetak sebesar 40 juta.

“Pada akhir tahun 2012, saya bertemu pihak Feliz Books di salah satu cafe di Jakarta, dan mereka mengatakan bahwa biaya terbit dan cetak kedua buku itu sebesar 40 juta, dan akan dicetak sebanyak 10.000 eksemplar. Kedua buku itu akan didistribusikan ke berbagai toko buku seluruh Indonesia. Bahkan akan di jual secara online. Karena biayanya sangat besar dan uang saya tidak cukup pada saat itu, sehingga saya meminta waktu untuk mengumpulkan uangnya. Namun pada pertemuan itu saya sudah memberikan file tulisan kedua judul buku itu kepada pihak Feliz Books,” kata Tomi.

Pada bulan Juni 2013, pihak Feliz Books menghubungi Tomi, untuk mempertanyakan kepastiannya menerbitkan buku-bukunya itu melalui Feliz Books. Pada saat itu Tomi mengatakan jika uangnya belum cukup, dan meminta keringanan biaya.

Pihak Feliz Books pun memberikan pengurangan biaya terbit dan cetak dari 40 juta menjadi 30 juta. Tomi pun mengatakan akan mengusahakan mempersiapkan biaya tersebut.

Pada bulan selanjutnya, yaitu bulan Juli 2013, kembali Tomi dihubungi pihak Feliz Books. Saat itu Tomi hanya siap uang 14 juta, sehingga ia menanyakan apakah bisa diterbitkan satu buku dahulu dengan biaya 14 juta.

Pada saat itu pihak Feliz Books mengatakan akan membicarakannya terlebih dahulu ke manajemen penerbitan. Hingga beberapa hari berikutnya, Tomi dihubungi kembali, dan Feliz Books mengatakan jika ia bisa menerbitkan satu bukunya dengan biaya 14 juta itu.

“Saya akhirnya bisa menerbitkan satu judul buku dengan biaya 14 juta. Maka saya pilih penerbitan buku Faradje’ terlebih dahulu. Karena file tulisannya sudah saya berikan, sehingga kata mereka proses penerbitanya menunggu 3 bulan kedepan, diakibatkan banyaknya antrian terbitan dan cetakan buku-buku milik penulis lain,” ujar Tomi.

Hingga pada bulan November 2013, Feliz Books menghubunginya lagi. Mereka mengatakan bahwa buku Faradje’ sedang dalam proses editing, dan mereka mengirimkan file hasil editannya ke Tomi untuk ia baca dan revisi, jika ada kekeliruan dalam hasil editannya itu.

Selain menyampaikan tentang buku Faradje’, Feliz Books juga menyampaikan tentang buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 yang bisa diterbitkan dengan biaya yang sama yaitu 14 juta. Dan Tomi berkata akan ia usahakan.

“Pada bulan November 2013 itu, ketika hasil editing dari Feliz Books sudah saya baca dan tidak ada kekeliruan, Feliz Books mengatakan jika saya bisa menerbitkan buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dengan biaya yang sama yaitu 14 juta. Saya menanggapinya dengan mengatakan akan saya usahakan. Dan dari bulan November 2013 itu, Feliz Books mengatakan saya harus menunggu 3 bulan lagi dari proses editing hingga ke cetak, karena mengantri dengan yang lain,” kata Tomi.

Pada bulan Januari 2014, kembali Feliz Books menghubunginya. Feliz Books mengatakan jika buku Faradje’ sedang proses pengurusan ISBN dan desain cover. Mereka juga mempertanyakan tentang kesiapan Tomi untuk menerbitkan buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822.

Pada saat itu Tomi mengatakan jika uangnya itu siap pada bulan Februari depan. Maka pada bulan Februari 2014 itu buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 mulai proses editing. Hingga bulan Mei 2014 kedua buku tersebut diterbitkan.

Karena tidak mendapatkan kontrak penerbitannya, Tomi akhirnya mengurus Hak Cipta ke Kementerian Hukum dan HAM. Dan kedua buku tersebut pun telah memiliki Sertifikat Hak Cipta.

“Ketika penerbitan kedua buku tersebut, Feliz Books mengirimkan draft kontrak penerbitan. Namun draft tersebut terdapat kesalahan, karena sepertinya hasil copy paste milik penulis lain. Draft itu saya kirim balik. Kemudian dikirimkan lagi. Namun kembali terdapat kesalahan, bahkan sudah ada tanda tangannya atas nama orang lain. Draft itu saya kirim balik lagi. Dan hingga sekarang saya tidak pernah dikirimkan draft kontraknya lagi,” tutur Tomi.

Menurut Tomi, terakhir ia dihubungi oleh salah seorang karyawan Feliz Books tanggal 19 Juli 2022 melalui Messanger pukul 16:25. Orang tersebut meminta nomor HPnya dengan alasan nomornya itu hilang terinstal. Dan janjinya setelah itu akan dihubungi pihak Feliz Books. Tapi hingga hari ini, ia tidak juga dihubungi pihak Feliz Books.

Buku-Bukunya Masih Terjual Secara Online

Berdasarkan penelusuran salah satu media nasional yang mewawancarainya itu, buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’, tulisan Tomi, hingga kini masih dijual secara online. Kedua buku itu dijual kisaran Rp50.000 hingga Rp98.000.

Misalnya pada Website Yayasan Pustaka Obor Indonesia, http://obor.or.id, buku Faradje’ dijual seharga Rp50.000,- dengan status Tersedia. Buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dijual seharga 65.000, dengan status Tersedia.

Pada Google Books, buku Faradje’ dijual seharga 41.458,- dan buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 Rp41.919,-.

Pada Gramedia Digital, buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dijual seharga Rp35.000,- dan buku Faradje’ Rp49.000,-. Sedangkan pada toko-toko online lainnya dijual antara Rp50.000 – Rp98.000,-.

Selain buku Faradje’ dan Pasak Negeri Kapuas 1616-1822, Feliz Books juga menerbitkan dua buah buku lainnya karya Tomi, yaitu Kumpulan Cerita Anak Kabupaten Sanggau dan Kumpulan Cerita Legenda Kabupaten Sanggau yang diterbitkan bulan Oktober 2014. Buku-buku ini juga tidak ada kontrak penerbitannya, dan tidak dibayarkan Hak Royaltinya. (Red)

Baca juga :

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Posted on 2 Comments

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau
Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Pontianak, Dasawarsa Courant- Surat Kabar Berani terbitan 24 Juli 1925, dalam tulisan berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, mengkritik Panembahan Sanggau yang dinilai terlalu congkak karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Surat kabar Berani pertama kali terbit pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 1925. Dalam terbitan pertama tersebut tercantum nama Boullie sebagai redaktur.

Alamat redaksi dan administrasi surat kabar Berani di Kampung Darat Pontianak. Surat kabar ini dicetak oleh percetakan Hoea Kiauw Pontianak. Hoea Kiauw sendiri merupakan perusahaan percetakaan pertama yang ada di Pontianak.

Harga langganan selama 3 bulan sebesar f.3,- saja. Pada edisi pertamanya surat kabar Berani memuat slogan “Barang siapa yang benci pada kita, ialah musuh kita” yang tercantum pada halanan muka.

Surat kabar Berani sebagaimana disampaikan oleh Redakturnya menerima aduan dari rakyat apabila mengalami kesewenang-wenangan dari siapapun juga dan akan melakukan pembelaan sepantasnya akan aduan dari rakyat tersebut.

Surat kabar Berani lahir untuk nenentang kesewenang-wenangan kaum kapitalis dan imperialis terhadap kaum buruh dan tani khususnya yang ada di Borneo Barat. Melalui surat kabar Berani maka segala kesengsaraan rakyat khususnya kaum buruh dapat terekspos dan melalui pemikiran-pemikiran anti kapitalis dan imperialis yang termuat dalam isi surat kabar Berani diharapkan rakyat semakin sadar akan nasibnya yang mengalami penindasan.

Suara-suara kritik sosial diutarakan melalui berita-berita artikel yang memuat tentang kesengsaraan rakyat dalam berpenghidupan, bersekolah, pengobatan bagi yang sakit dan lain-lain sebagainya.

Semua keluh kesah rakyat yang dimuat dalam surat kabar Berani akibat merajalelanya kapitalisme dan imperialisme. Dan semuanya akan sirna apabila seluruh rakyat bersatu padu dalam memperjuangkan kehidupan yang penuh persaudaraan dan persamaan diantara rakyat semuanya. Demikianlah yang diberitakan dalam surat kabar Berani.

Surat kabar Berani juga menyinggung tingkah polah penguasa lokal di Borneo Barat seperti kebijakan Panembahan Sanggau yang membeda-bedakan golongan dan derajat.

Hal ini ditentang karena dianggap sebagai tindakan semena-mena dan membeda-bedakan ciptaan Tuhan berdasarkan derajatnya.

Dalam artikel terbitan 24 Juli 1925 berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, surat kabar Berani mengkritik Panembahan Sanggau yang dianggap sangat sombong karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Berikut ini artikelnya,

“Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Sanggau satoe negeri jang ketjil telah poen mewariskan kekaloetan sedjak ini hari hingga masa jang akan datang oentoek anak tjoetjoenja jang diakibatkan riwajatnja soedah mati. Hal itoe tak lain sebab akibat dari oelah radjanja jang kedji.

Kekaloetan di negeri Sanggau djadi meloeas hal akibat daripada radjanja jang tjongkak meninggikan deradjatnja iaitoe orang Goesti lebih tinggi dari golongan orang Roemah. Iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III telah poen merendahkan deradjat golongan orang roemah iaitoe orang Bangsa Kampong, orang Bangsa Sangchrah, orang Bangsa Boeroeng, orang Bangsa Sanggau jang mendjadi pemilik tanah Sanggau.

Sedjak poen tanah Sanggau telah dibangoen oleh datoek mojang golongan orang roemah jang dimoelai diboeka hoetan rimbanja iaitoe dimoelai tahoen 1302 oleh doea saudara kembar dari orang Bangsa Sangchrah iaitoe Danoem dan Dakdoedak. Iaitoe pada peristiwa mereka itoe memotong pohon Bajam jang roeboeh melintang pada saat mereka mau masoek kedalam soengai Sekajam.

Pohon itoe daunnja lebar seperti daun Bajam maka dari itoe mereka seboet itoe pohon adalah pohon Bajam. Jang telah poen beberapa malam mereka diganggoe oleh boenji kokok ajam dari pohon itoe. Dan siangnja mereka potong pohon itoe tapi adjaibnja besoknja pohon itoe oetoeh lagi. Jang akibatnja djadi sakit demamnja poetri Dara Menante. Dan bisa lah semboeh poetri malang itoe saat dibawa berobat ke goea batoe jang ada toelisan diatasnja. Iaitoe lah mereka seboet tempat batoe toelisan itoe batoe Sompaj. Maka dari itoe tempat mereka potong pohon Bajam itoe djadilah ia tanah Kantoek.

Laloe apa hal Panembahan itoe Moehammad Thahir III mentjongkakkan dirinja itoe sebagai Goesti jang lebih tinggi dari golongan orang Roemah?

Sedangkan Allah Taala poen tidak membeda-bedakan deradjat manoesia di moeka boemi. Hanja ketaqwaan dan amal ibadah sadja djadinja deradjat tertinggi dihadapan Allah Taala.

Ia itoe lah Panembahan jang tak tau diri. Jang loepa asal oesoel dirinja jang boekan ketoeroenan langsoeng dari golongan orang Roemah itoe. Jang tak lain berderadjat menantoe dari golongan orang Roemah.

Ia itoe Moehammad Thahir III anaknja Panembahan Moehammad Ali II. Daripada itoe Panembahan Moehammad Ali II itoe anaknja Ahmad Poetera. Hingga lah Ahmad Poetera itoe anaknja Moehammad Thahir II.

Ia itoe lah Moehammad Thahir II itoe anaknja dari sebelah Panembahan Mempawah iaitoe Panembahan Ibrahim Moehammad Tsafioeddin. Ia poen poela djadi menantoenja Panembahan Moehammad jang berkawin dengan Dajang Mastika.

DJadi soedah poen terang seterang-terangnja ia itoe hanjalah berderadjat menantoe di negeri Sanggau. Tapi berperilakoe tjongkak merampas hak golongan orang Roemah.

Soedah poen datoeknja itoe Moehammad Thahir II soedah kedji meninggikan deradjatnja sebagai ia orang Goesti lebih terhormat dari orang Roemah dikehadapan pemerintah Belanda di Bogor. Jang saat itoe ia nja meminta-minta djabatan padanja pemerintah Belanda hinggalah meneken Zegel pengangkatan dari pemerintah Belanda tanggal 30 April 1860 di Bogor.

Ia poela soedah menghasoet pemerintah Belanda itoe goena mengoesir ia nja Pangeran Abdoel Pata bin Soeltan Moehammad Ali itoe jang sebagai radja sjah di negeri Sanggau itoe. Perilakoenja itoe soenggoeh kedji kepada jang tak lain pamannja itoe.

Hingganja ini hari iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III itoe berboeat kedji jang seroepa datoeknja masa lampau dengannja merendahkan golongan orang Roemah. Ia nja telah boeat itoe riwajat negeri Sanggau djadi mati. Jang akan djadi kekaloetan pada anak tjoetjoe negeri Sanggau itoe sehingga masa jang akan datang. (Red)

Baca juga :

Tom’S Book Publishing Pre-Launching Buku Haji Rais Abdoerracman

Posted on Leave a comment

Penulis Sejarah Sanggau diisukan Meninggal Dunia

Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, yang diisukan meninggal dunia
Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, yang diisukan meninggal dunia

Sanggau, Exclusive News- Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, diisukan meninggal dunia. Isu tersebut santer sejak November 2024 lalu. Dan sempat mereda setelah Tomi mengklarifikasi ketidak benaran berita itu melalui media sosialnya. Namun pertengahan puasa 2025, isu tersebut muncul lagi.

Isu meninggal dunianya Penulis sejarah Sanggau itu, yang juga sebagai Pimpinan Umum media Exclusive News, dipertanyakan oleh awak media salah satu media nasional yang mewawancarainya pada hari Rabu malam, 9 April 2025.

Awak media nasional ini sempat kebingungan untuk bertemu dengan Tomi, karena informasi yang mereka terima adalah Penulis sejarah Sanggau itu telah meninggal dunia. Sedangkan mereka juga tidak memiliki nomor kontaknya.

Syukurnya melalui website http://tomsbook.co.id, awak media ini berhasil melakukan kontak langsung kepada Penulis sejarah Sanggau itu, yang juga sebagai Pimpinan Umum Majalah Dekade.

“Kami sempat kebingungan ketika mendapat informasi jika Bang Tomy sudah meninggal dunia. Tapi informasi tersebut juga masih simpang siur. Makanya ketika kami ketemu websitenya Bang Tomy, langsung kami hubungi. Dan syukurnya, website tersebut langsung terhubung ke nomor kontak Bang Tomy,” kata awak media itu.

Kepada awak media nasional itu, Tomi menceritakan jika isu meninggal dunia dirinya itu bukan baru kali ini saja. Sudah beberapa kali terjadi.

“Isu saya sudah meninggal dunia telah beberapa kali terjadi. Yang barusan santer itu di bulan November 2024, tapi mereda setelah saya mengklarifikasi ketidak benaran berita tersebut di media sosial saya. Kemudian muncul lagi pada pertengahan puasa lalu,” ujar Tomi menjelaskan kepada awak media nasional itu.

Menurut Tomi, isu meninggal dunia dirinya itu yang paling santer terjadi pada tahun 2019. Kemudian awal puasa tahun 2024 muncul lagi. Dan pada kedua tahun itu dirinya memang sedang sakit yang cukup mengkhawatirkan. Dimana dirinya tidak bisa berbicara dan bergerak.

“Pada tahun 2019 dan awal puasa 2024, saya sedang sakit. Saya tidak bisa berbicara dan tubuh saya mengejang tidak bisa digerakkan,” kata Tomi.

Mendapat Ancaman

Kepada awak media nasional itu, Tomi menceritakan lika likunya selama menulis sejarah Sanggau. Ia pernah mendapat ancaman dari beberapa orang tak dikenal (OTK) melalui telpon, WA dan SMS.

“Tahun 2017, 2018 dan 2019, saya beberapa kali mendapat ancaman melalui telpon, SMS dan WA dari beberapa orang tak dikenal. Orang-orang ini menyuruh saya untuk menghapus semua tulisan-tulisan saya di media sosial saya. Mereka juga melarang saya untuk melanjutkan menulis tentang sejarah. Jika saya tidak menurutinya, maka saya akan dibinasakan,” ujar Tomi.

Meski telah mendapat ancaman, Tomi tetap melanjutkan aktivitasnya sebagai Penulis sejarah Sanggau. Ia tidak menggubris ancaman-ancaman tersebut.

“Saya akan tetap menulis, karena sudah menjadi hobby saya. Toh yang saya tulis juga bukan hanya tentang sejarah budaya saja. Ada tentang Novel, Agama dan Umum. Yang semuanya sudah dibukukan, dan telah ber-ISBN serta telah diterbitkan. Semoga buku-buku saya itu bermanfaat dan dapat ikut serta berkontribusi terhadap tujuan Negara Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa,” kata Tomi.

Sepanjang tahun 2025 ini, Tomi berencana akan menyelesaikan tulisannya sebanyak lima judul. Dan di bulan April ini, ia sedang mempersiapkan penerbitan dua judul bukunya yaitu Haji Rais Abdoerracman dan Goesti Soeloeng Lelanang.

Kedua judul buku tersebut sudah dilaksanakan Pre-Launching. Untuk Launchingnya direncanakan di Pontianak. Dan waktu pelaksanaannya belum ditentukan.

“Buku Haji Rais Abdoerracman dan Goesti Soeloeng Lelanang sedang dalam proses untuk penerbitan. Sedangkan untuk Launchingnya, masih kita koordinasikan. Yang pastinya akan dilaksanakan di hari Sabtu, Minggu atau hari libur Nasional. Karena status saya sebagai ASN sehingga pada hari-hari libur saja saya bisa menghadiri acara Launching tersebut,” kata Tomi. (Red)

Baca juga :

Kapok Gabung Grup Sejarah dan Budaya