Posted on Leave a comment

Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalbar di Hotel Ibis Pontianak

Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalbar di Hotel Ibis Pontianak
Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalbar di Hotel Ibis Pontianak

Pontianak, Exclusive News— Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalimantan Barat di Hotel Ibis, di Jalan Jenderal Ahmad Yani Pontianak, pada Sabtu, 5 Juli 2025. Study bertujuan untuk menggali lebih lanjut tentang sejarah Kesenian Hadrah di Kalimantan Barat, sekaligus bertukar informasi dan data tentang kesenian yang mendapat pengaruh agama Islam itu.

 Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai narahubung, ketika ditemui awak media ini mengungkapkan bahwa study ini sebagai tindak lanjut pertemuan beberapa waktu sebelumnya, pada 29-31 Mei 2025 di Jakarta.

“Study ini sebagai tindak lanjut pertemuan beberapa waktu sebelumnya di Jakarta, pada 29 hingga 31 Mei 2025. Dan kami patut berbangga karena kesenian Hadrah Kalbar telah menarik minat peneliti,” ungkap Werda.

Sebagai bahan study, buku berjudul ‘Seni Hadrah Kalimantan Barat’, tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., menjadi referensi untuk penelitian lebih lanjut.

“Buku tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., berjudul ‘Seni Hadrah Kalimantan Barat’, menjadi referensi study, yang nantinya akan dilakukan penelitian lebih lanjut,” sambung Werda.

Dalam kegiatan study, juga diperkenalkan buku ‘Sejarah Adat Dayak Cupang Desa’. Buku yang diterbitkan pada bulan Desember 2023 itu, diharapkan menjadi salah satu sumber informasi tentang sejarah masyarakat Kalimantan Barat.

Sekilas Tentang Seni Hadrah Kalbar

Kesenian Hadrah merupakan satu diantara kesenian tradisional di daerah Kalimantan Barat. Hadrah tumbuh dan berkembang pada saat Indonesia mendapat pengaruh agama Islam.

Hadrah merupakan kesenian yang berasal dari negeri Arab yang diiringi musik Terbang/Tar/Tahar dan kemudian alat musik ini menjadi ciri khas pengiring musik dalam suku Melayu di Kalimantan Barat.

Dari segi bahasa, hadrah berarti kehadiran yang berasal dari kosa kata bahasa Arab Hadhoro-yahdhuru-hadhrotan (hadrah). Sedangkan menurut istilah atau pada prakteknya menurut sebagian orang, hadrah merupakan irama yang diperdengarkan yang berasal dari alat musik rebana.

Pada pendapat yang lainnya lagi menyebutkan bahwa nama hadrah berasal dari nama kota di Semenanjung Arab, Yaman Selatan yaitu Hadramaut. Hal tersebut berlatarbelakang bahwa yang mengembangkan jenis kesenian ini di nusantara adalah para pendatang dari Hadramaut Yaman yang kebanyakan merupakan kaum pedagang.

Sejarah seni Hadrah tertua di Kalimantan Barat terdapat di Kerajaan Tanjungpura dan Sambas. Karena jenis kesenian ini merupakan salah satu jenis kesenian dari tanah Arab yang identik dengan agama Islam, dan Kerajaan Tanjungpura dan Sambas merupakan salah satu kerajaan tertua di Kalimantan Barat yang telah dimasuki agama Islam sejak periode tahun 628 Masehi.

Pada periode permulaan masuknya Islam di kerajaan Tanjungpura, jenis kesenian tanah Arab dari alat musik rebana ini belum bernama Hadrah. Hingga ketika Panembahan Giri Kesuma mengukuhkan dan mengumumkan bahwa Tanjung Pura telah menjadi Kerajaan Islam Sukadana Tanjung Pura-Matan pada tahun 1590, barulah jenis kesenian ini disebut Hadrah, karena banyaknya penyebar Islam dan pedagang dari Hadramaut datang ke negeri Matan.

Pada periode tahun 1740-an Masehi, seni Hadrah di Kerajaan Tanjungpura berkembang menjadi seni Hadrah Al-Banjari, karena dipengaruhi oleh jenis irama dan teknik pukulan hadrah dari negeri Banjar, Kalimantan Selatan.

Pada periode tahun 1750-an Masehi, jenis seni Hadrah Al-Banjari mulai berkembang di negeri Mempawah. Pada periode berikutnya berkembang di negeri Pontianak dan Sambas. Kemudian berkembang lagi ke negeri Landak. Selanjutnya berkembang di negeri Sanggau dan Sintang hingga ke Hulu Kapuas dan negeri Meliau-Tayan. (Red)

Baca juga :

Gusti Sulung Lelanang Menyindir para Penguasa agar Tidak Bersikap Licik dalam Majalah Kesedaran 4 Juli 1940 berjudul “Bertjermin dari roeboehnja koeasa Ratoe Betoeng jang litjik”

Posted on 1 Comment

Gusti Sulung Lelanang Menyindir para Penguasa agar Tidak Bersikap Licik dalam Majalah Kesedaran 4 Juli 1940 berjudul “Bertjermin dari roeboehnja koeasa Ratoe Betoeng jang litjik”

Terbitan Majalah Kesedaran edisi 4 Juli 1940
Terbitan Majalah Kesedaran edisi 4 Juli 1940

PONTIANAK, Dasawarsa Courant Gusti Sulung Lelanang, pengasuh roeang sedjarah di majalah Kesedaran, menyindir para penguasa agar tidak bersikap licik dalam terbitan majalah Kesedaran edisi 4 Juli 1940. Gusti Sulung Lelanang mengangkat tulisan tentang Ratu Betung Kerajaan Tanjung Pura dengan artikel berjudul “Bertjermin dari roeboehnja koeasa Ratoe Betoeng jang litjik”.

Pada roeang sedjarah itu Gusti Sulung Lelanang menyindir para penguasa agar tidak bersikap zalim dan licik, karena perbuatan itu membuat musnahnya kekuasaan yang telah dititipkan Tuhan. Bahkan dapat juga menghilangkan keturunan di muka bumi, seperti yang terjadi pada Ratu Betung, seorang Ratu di Kerajaan Tanjung Pura yang telah berbuat licik untuk mendapatkan segala keinginannya.

Dalam artikelnya yang panjang itu, Gusti Sulung Lelanang menuliskan bahwa Ratu Betung telah memerintahkan suaminya, Siak Bahulun, untuk menyerang Kerajaan Panggau Banyau di pedalaman sungai Sekayam akibat cemburu dan berambisi ingin memiliki emas yang berbentuk buah mentimun milik Kranamuning.

Untuk mencapai ambisinya itu, Ratu Betung memerintahkan Siak Bahulun untuk menebarkan racun dan kotoran manusia di Kerajaan Panggau Banyau itu sehingga kerajaan itu dapat dikuasainya.

Akibat perbuatan liciknya tersebut, Ratu Betung mendapat kutukan dari kerajaan Panggau Banyau. Dan kurang lebih sepuluh tahun sejak dihancurkannya kerajaan Panggau Banyau oleh kerajaan Tanjung Pura, yaitu pada tahun 1330 Kerajaan Tanjung Pura diserang Kerajaan Wilwatikta yang berakibat terbunuhnya Ratu Betung dan Siak Bahulun lari bersembunyi diKerajaan Ulu Aik. Sehingga raja-raja Tanjung Pura tergantikan oleh keturunan Prabu Jaya dengan Ratu Lawai atau Puteri Junjung Buih.

Dalam artikelnya itu juga, Gusti Sulung Lelanang membeberkan kronologis penyerangan terhadap kerajaan Panggau Banyau, riwayat Ratu Betung dan Siak Bahulun, serta keberadaan kerajaan Hulu Aik. (Red)

Baca juga :

Dasawarsa Courant Pre-Launching Buku Goesti Soeloeng Lelanang

Posted on Leave a comment

Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 Kembali Mengkritik Panembahan Sanggau “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”

Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 mengkritik Panembahan Sanggau
Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Pontianak, Dasawarsa Courant- Surat Kabar Berani terbitan 12 Oktober 1925 kembali mengkritik Panembahan Sanggau dalam artikel berjudul “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”. Surat kabar Berani beralamat redaksi di Kampung Darat Pontianak dengan redakturnya bernama Boullie.

Surat kabar ini dicetak oleh percetakan Hoea Kiauw Pontianak, yang merupakan perusahaan percetakaan pertama di Pontianak. Surat kabar ini pertama kali terbit pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 1925. Harga berlangganannya sebesar f.3,- selama 3 bulan.

Surat kabar Berani memuat slogan “Barang siapa yang benci pada kita, ialah musuh kita” yang tercantum pada halaman muka. Surat kabar Berani menerima aduan dari rakyat apabila mengalami kesewenang-wenangan dari siapapun juga dan akan melakukan pembelaan terhadap aduan dari rakyat tersebut.

Kritik sosial diutarakan melalui berita-berita artikel yang memuat tentang kesengsaraan rakyat. Surat kabar Berani juga menyinggung tingkah polah penguasa lokal di Borneo Barat seperti mengkritik Panembahan Sanggau. Sebagaimana dalam artikel terbitan 12 Oktober 1925 berjudul “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”.

Berikut ini artikelnya,

“Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”

Iaitoe lah satoe negeri Sanggau jang telah binasa riwajatnja semendjak naiklah radjanja jang boekan ketoeroenan langsoeng dari radjanja jang sjah. Ialah itoe Moehammad Thahir II. Ianja menantoe Panembahan Moehammad, ia poela anaknja Panembahan Mempawah Ibrahim Moehammad Tsafioeddin.

Ada poela Panembahan sebelah Mempawah itoe berkahwin dengan Utin Saripah. Ialah itoe poetri daripada Soeltan Moehammad Ali. Jang mana Soeltan Sanggau ini berkahwin dengan Utin Malaja.

Ianja Moehammad Thahir II itoe soedah poen meminta-minta padanja pemerintah Belanda oentoeknja diangkat djadi radja Sanggau. Perilakoe kedjamnja lagi ianja soedah poela mengoesir pangeran mahkota Sanggau iaitoe Pangeran Abdoel Pata, iaitoe anaknja Soeltan Moehammad Ali. Jang djoega ianja pangeran itoe tjoetjoenja Soeltan Zainoeddin.

Sehingga lah Pangeran Abdoel Pata itoe meninggal doenia di Balai Nanga tanggal 17 OEktober 1867. Pangeran Abdoel Pata itoe lah Radjanja Sanggau jang kesebelas. Ianja itoe tersingkir ke Balai Nanga setelah melawan pemerintah Belanda sedjak tanggal 30 Desember 1830.

Perilakoe kedjamnja dari Moehammad Thahir II itoe soedah poen meroesak riwajat negeri itoe. Sedang ianja hanja orang datang dari sebelah negeri Mempawah. Ianja hanja satoe menantoe jang berboeat semena-semena di negeri orang. Soenggoeh satoe radja jang tak tau dioentoeng.

Beloem lagi ianja soedah mengabarkan kabar doesta pada pemerintah Belanda bahwasanja ianja itoe sebagai Goesti lebih tinggi deradjatnja dari mertoeanja itoe. Makalah ianja soedah berboeat doerhaka pada mertoeanja jang radja sjah itoe.

Makanja ia poela berbolak-balik ke Bogor meminta-minta diangkat djadi radja Sanggau mengganti mertoeanja itoe. Hingga soedah poen ia teken Zegel pengangkatan tanggal 30 April 1860 dengan poela Soerat Kepoetoesan Nomor 6 tanggal 27 DJanoeari 1862 dengan pangkatnja Pangeran Ratoe Padoeka Seri Maharadja. Dengan poela ia minta pangkat Goesti kehadapan pemerintah Belanda.

Sedjak itoe poela soedah mati riwajatnja negeri Sanggau. Ia ambil paksa djabatan mertoeanja itoe, laloe ia oesir pangeran mahkota dari negeri lahirnja.

Hingga lah hari ini anak tjoetjoenja berboeat kedjam lagi. Iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III soedah menghinakan deradjat orang Bangsa Kampong, orang Bangsa Sangchrah, orang Bangsa Boeroeng, orang Bangsa Sanggau jang djadi poenja negeri Sanggau. Ianja mengabarkan lagi kabar doesta bahawasanja ianja Goesti lebih terhormat dari empat orang Roemah itoe.

Darimana terhormatnja deradjatnja itoe? Dari merampas hak-hak anak tjoetjoe orang Roemah.

Daripada itoe soenggoeh poen malang nasib Sanggau. Soedah poen riwajatnja mati, negerinja poela dikoeasai orang datang. Malahan ianja djoega roesak itoe Sanggau poenja riwajat dengan semau hawa nafsoenja. Hanja oentoek tamaknja ia pada koeasa jang boekan miliknja. (Red)

Baca juga :

Penerbit Nasional Tak Membayarkan Hak Royalti Penulis Daerah

Posted on 2 Comments

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau
Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Pontianak, Dasawarsa Courant- Surat Kabar Berani terbitan 24 Juli 1925, dalam tulisan berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, mengkritik Panembahan Sanggau yang dinilai terlalu congkak karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Surat kabar Berani pertama kali terbit pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 1925. Dalam terbitan pertama tersebut tercantum nama Boullie sebagai redaktur.

Alamat redaksi dan administrasi surat kabar Berani di Kampung Darat Pontianak. Surat kabar ini dicetak oleh percetakan Hoea Kiauw Pontianak. Hoea Kiauw sendiri merupakan perusahaan percetakaan pertama yang ada di Pontianak.

Harga langganan selama 3 bulan sebesar f.3,- saja. Pada edisi pertamanya surat kabar Berani memuat slogan “Barang siapa yang benci pada kita, ialah musuh kita” yang tercantum pada halanan muka.

Surat kabar Berani sebagaimana disampaikan oleh Redakturnya menerima aduan dari rakyat apabila mengalami kesewenang-wenangan dari siapapun juga dan akan melakukan pembelaan sepantasnya akan aduan dari rakyat tersebut.

Surat kabar Berani lahir untuk nenentang kesewenang-wenangan kaum kapitalis dan imperialis terhadap kaum buruh dan tani khususnya yang ada di Borneo Barat. Melalui surat kabar Berani maka segala kesengsaraan rakyat khususnya kaum buruh dapat terekspos dan melalui pemikiran-pemikiran anti kapitalis dan imperialis yang termuat dalam isi surat kabar Berani diharapkan rakyat semakin sadar akan nasibnya yang mengalami penindasan.

Suara-suara kritik sosial diutarakan melalui berita-berita artikel yang memuat tentang kesengsaraan rakyat dalam berpenghidupan, bersekolah, pengobatan bagi yang sakit dan lain-lain sebagainya.

Semua keluh kesah rakyat yang dimuat dalam surat kabar Berani akibat merajalelanya kapitalisme dan imperialisme. Dan semuanya akan sirna apabila seluruh rakyat bersatu padu dalam memperjuangkan kehidupan yang penuh persaudaraan dan persamaan diantara rakyat semuanya. Demikianlah yang diberitakan dalam surat kabar Berani.

Surat kabar Berani juga menyinggung tingkah polah penguasa lokal di Borneo Barat seperti kebijakan Panembahan Sanggau yang membeda-bedakan golongan dan derajat.

Hal ini ditentang karena dianggap sebagai tindakan semena-mena dan membeda-bedakan ciptaan Tuhan berdasarkan derajatnya.

Dalam artikel terbitan 24 Juli 1925 berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, surat kabar Berani mengkritik Panembahan Sanggau yang dianggap sangat sombong karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Berikut ini artikelnya,

“Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Sanggau satoe negeri jang ketjil telah poen mewariskan kekaloetan sedjak ini hari hingga masa jang akan datang oentoek anak tjoetjoenja jang diakibatkan riwajatnja soedah mati. Hal itoe tak lain sebab akibat dari oelah radjanja jang kedji.

Kekaloetan di negeri Sanggau djadi meloeas hal akibat daripada radjanja jang tjongkak meninggikan deradjatnja iaitoe orang Goesti lebih tinggi dari golongan orang Roemah. Iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III telah poen merendahkan deradjat golongan orang roemah iaitoe orang Bangsa Kampong, orang Bangsa Sangchrah, orang Bangsa Boeroeng, orang Bangsa Sanggau jang mendjadi pemilik tanah Sanggau.

Sedjak poen tanah Sanggau telah dibangoen oleh datoek mojang golongan orang roemah jang dimoelai diboeka hoetan rimbanja iaitoe dimoelai tahoen 1302 oleh doea saudara kembar dari orang Bangsa Sangchrah iaitoe Danoem dan Dakdoedak. Iaitoe pada peristiwa mereka itoe memotong pohon Bajam jang roeboeh melintang pada saat mereka mau masoek kedalam soengai Sekajam.

Pohon itoe daunnja lebar seperti daun Bajam maka dari itoe mereka seboet itoe pohon adalah pohon Bajam. Jang telah poen beberapa malam mereka diganggoe oleh boenji kokok ajam dari pohon itoe. Dan siangnja mereka potong pohon itoe tapi adjaibnja besoknja pohon itoe oetoeh lagi. Jang akibatnja djadi sakit demamnja poetri Dara Menante. Dan bisa lah semboeh poetri malang itoe saat dibawa berobat ke goea batoe jang ada toelisan diatasnja. Iaitoe lah mereka seboet tempat batoe toelisan itoe batoe Sompaj. Maka dari itoe tempat mereka potong pohon Bajam itoe djadilah ia tanah Kantoek.

Laloe apa hal Panembahan itoe Moehammad Thahir III mentjongkakkan dirinja itoe sebagai Goesti jang lebih tinggi dari golongan orang Roemah?

Sedangkan Allah Taala poen tidak membeda-bedakan deradjat manoesia di moeka boemi. Hanja ketaqwaan dan amal ibadah sadja djadinja deradjat tertinggi dihadapan Allah Taala.

Ia itoe lah Panembahan jang tak tau diri. Jang loepa asal oesoel dirinja jang boekan ketoeroenan langsoeng dari golongan orang Roemah itoe. Jang tak lain berderadjat menantoe dari golongan orang Roemah.

Ia itoe Moehammad Thahir III anaknja Panembahan Moehammad Ali II. Daripada itoe Panembahan Moehammad Ali II itoe anaknja Ahmad Poetera. Hingga lah Ahmad Poetera itoe anaknja Moehammad Thahir II.

Ia itoe lah Moehammad Thahir II itoe anaknja dari sebelah Panembahan Mempawah iaitoe Panembahan Ibrahim Moehammad Tsafioeddin. Ia poen poela djadi menantoenja Panembahan Moehammad jang berkawin dengan Dajang Mastika.

DJadi soedah poen terang seterang-terangnja ia itoe hanjalah berderadjat menantoe di negeri Sanggau. Tapi berperilakoe tjongkak merampas hak golongan orang Roemah.

Soedah poen datoeknja itoe Moehammad Thahir II soedah kedji meninggikan deradjatnja sebagai ia orang Goesti lebih terhormat dari orang Roemah dikehadapan pemerintah Belanda di Bogor. Jang saat itoe ia nja meminta-minta djabatan padanja pemerintah Belanda hinggalah meneken Zegel pengangkatan dari pemerintah Belanda tanggal 30 April 1860 di Bogor.

Ia poela soedah menghasoet pemerintah Belanda itoe goena mengoesir ia nja Pangeran Abdoel Pata bin Soeltan Moehammad Ali itoe jang sebagai radja sjah di negeri Sanggau itoe. Perilakoenja itoe soenggoeh kedji kepada jang tak lain pamannja itoe.

Hingganja ini hari iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III itoe berboeat kedji jang seroepa datoeknja masa lampau dengannja merendahkan golongan orang Roemah. Ia nja telah boeat itoe riwajat negeri Sanggau djadi mati. Jang akan djadi kekaloetan pada anak tjoetjoe negeri Sanggau itoe sehingga masa jang akan datang. (Red)

Baca juga :

Tom’S Book Publishing Pre-Launching Buku Haji Rais Abdoerracman

Posted on 2 Comments

Dasawarsa Courant Pre-Launching Buku Goesti Soeloeng Lelanang

Tomi, S.Pd.,M.E., penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan materinya di acara Pre-Launching, pada Sabtu, 1 Maret 2025
Tomi, S.Pd.,M.E., penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan materinya di acara Pre-Launching, pada Sabtu, 1 Maret 2025

 

Kubu Raya, Dasawarsa Courant – Dalam rangka peluncuran buku Goesti Soeloeng Lelanang yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulan April 2025, Media Dasawarsa Courant berkerjasama dengan CV. Tom’S Book Publishing menggelar Pre-Launching di kantor Redaksi Dasawarsa Courant di Komplek Mega Griya, Jalan Raya Kakap, Kabupaten Kubu Raya, pada Sabtu, 1 Maret 2025, pukul 16.00 – 18.00, diikuti oleh pegiat Kolektor Media Lawas (Komal) dari berbagai daerah.

Goesti Soeloeng Lelanang merupakan pejuang Kalimantan Barat berasal dari daerah Ngabang. Gusti Sulung Lelanang merupakan salah seorang yang diasingkan ke Boven Digoel karena keberaniannya melawan penjajah Hindia Belanda. Sehingga untuk mengingat perjuangannya didirikanlah monumen “Tugu Digulis”. Tugu berbentuk bambu runcing yang berjumlah 11 buah menandakan bahwa ada 11 pejuang dari Kalimantan Barat yang pernah diasingkan ke Boven Digoel.

Goesti Soeloeng Lelanang memiliki kekerabatan dengan Kerajaan Landak dari ayahnya, Pangeran Laksamana Gusti Mahmud. Sebagai keturunan bangsawan, ia dapat mengenyam pendidikan di Hollandsche Indische School (HIS) Jatinegara, Batavia. Sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar itu setara dengan Sekolah Dasar yang dapat ditempuh 6-7 tahun.

Perjuangan Gusti Sulung Lelanang berakhir ketika Jepang masuk ke Kalimantan Barat. Semua sekolah yang pernah ia rintis ditutup kecuali beberapa sekolah yang menurut Jepang boleh tetap beroperasi. Akhir hayat Gusti Sulung Lelanang terungkap pada pemberitaan Koran Borneo Shinbun 28 Juni 1944, ia bersama ribuan kaum cendikiawan di Kalimantan Barat ini dibunuh oleh Jepang.

Pada acara Pre-Launching tersebut, Tomi, S.Pd.,M.E., sebagai penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan dalam paparan materinya, bahwa buku Goesti Soeloeng Lelanang ini banyak memberikan informasi tentang kondisi dan situasi Kalimantan Barat pada masa kolonial Belanda, khususnya sejarah lahirnya pers di Kalimantan Barat.

“Buku ini mengulas tentang permulaan lahirnya pers di Kalimantan Barat. Selain itu juga terdapat beberapa tulisan Goesti Soeloeng Lelanang tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat, yang bisa menjadi rujukan untuk penulisan sejarah”, demikian Tomi menjelaskan.

Acara Pre-Launching yang bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadhan tahun 2025 itu, dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama dan Sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu dilanjutkan diskusi tentang rencana peluncuran buku Goesti Soeloeng Lelanang bulan depan. Kemudian ditutup dengan sholat Isya dan Tarawih berjamaah.

Diakhir acara, Tomi yang ditemui media ini menyampaikan harapannya agar dengan terbitnya buku Goesti Soeloeng Lelanang ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pegiat sejarah tentang Kalimantan Barat. Karena cukup banyak tulisan-tulisan yang di publikasikan pada masa itu yang menjelaskan tentang sejarah di Kalimantan Barat.

“Saya berharap, buku Goesti Soeloeng Lelanang ini bisa menjadi salah satu referensi bagi pegiat dan penulis sejarah dalam menulis sejarah tentang Kalimantan Barat. Khususnya tentang sejarah hubungan kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat. Begitu juga buku Haji Rais Abdoerracman yang telah siap untuk di Launching, yang sebelumnya telah direncanakan untuk di Launching bulan Januari 2025 lalu, tetapi terkendala karena pihak penerbitnya mendahulukan persiapan Launching media Exclusive News. Semoga saja bulan April nanti kedua buku tersebut bisa di Launching secara bersamaan”, ujar Tomi. (Red)