Pimpinan Umum media Exclusive News, Tomi, S.Pd.,M.E., menghadiri Technical Meeting, pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, di Gedung Galeri Prestasi Kabupaten Sanggau.
SANGGAU – Guna mematangkan persiapan menjelang perhelatan ajang olah vokal bergengsi, Pimpinan Umum dan Redaksi Media Exclusive News, Tomi, S.Pd.,M.E., menghadiri acara Technical Meeting (TM) Lomba Karaoke SAMER IDOL Season 2 yang digelar pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, di Gedung Galeri Prestasi Kabupaten Sanggau, pukul 15:00 WIB hingga selesai.
Kehadiran jajaran pimpinan pers tersebut menjadi bukti nyata dukungan insan media terhadap pengembangan bakat seni dan seni tarik suara di masyarakat. Keikutsertaan Exclusive News sekaligus memperkuat sinergi media dalam mengawal dan mensukseskan jalannya acara dari awal hingga puncak pergelaran.
Pada SAMER IDOL Season 1 di tahun 2025, Media Exclusive News juga ikut berpartisipasi sebagai peserta lomba, yang pada tahun lalu di laksanakan di Lapangan Taman Sabang Merah Kabupaten Sanggau.
“Ini tahun kedua saya mengikuti lomba karaoke ini. Tahun lalu saya membawakan lagu dangdut ciptaan saya sendiri berjudul “LENA”. Untuk tahun ini, saya akan membawakan lagu ciptaan saya sendiri lagi bergenre Pop berjudul “KASIH”, ungkap Tomi.
Dalam sesi Technical Meeting, panitia penyelenggara memaparkan sejumlah aturan main, kriteria penilaian juri, penentuan nomor urut tampil, hingga teknis penampilan bagi para peserta. Suasana TM berlangsung tertib dan interaktif, di mana para peserta dan pendamping mendapatkan penjelasan detail terkait jalannya kompetisi.
Tomi menyampaikan apresiasinya atas konsistensi penyelenggaraan SAMER IDOL yang kini telah memasuki musim kedua.
“Kami sangat mendukung ruang-ruang ekspresi positif seperti SAMER IDOL Season 2 ini. Selain menjadi ajang unjuk bakat, kegiatan ini merupakan wadah silaturahmi yang efektif. Sebagai media, Exclusive News siap memberikan pemberitaan yang objektif, menarik, dan mengedukasi sepanjang ajang ini berlangsung,” ujarnya di sela-sela kegiatan.
Lomba Karaoke SAMER IDOL Season 2 sendiri diprediksi bakal berlangsung lebih semarak dibanding musim sebelumnya. Sebanyak 41 peserta dari utusan OPD dan Umum telah mendaftarkan diri untuk memperebutkan gelar juara yang disiapkan oleh panitia.
Dengan selesainya tahapan Technical Meeting ini, seluruh peserta kini bersiap mengikuti perlombaan yang akan dilaksanakan pada hari Kamis dan Jum’at, 20 dan 21 Agustus 2026, pukul 19:30 hingga selesai, di panggung Taman Arongk Belopa Kabupaten Sanggau. (Red)
Tomi Menjadi Narasumber Tentang Aksara Gholiks Dalam Seminar Pelestarian Aksara Lokal
Jakarta, Tom’S Book – Panitia Penyelenggara Seminar Pelestarian Aksara Lokal sukses menggelar forum diskusi aksara lokal nusantara. Acara ini menjadi momentum untuk merumuskan langkah strategis dalam menyelamatkan aksara-aksara daerah di Indonesia dari ancaman kepunahan.
Salah satu narasumber dalam seminar tersebut, Tomi, peneliti dan penemu Aksara Gholiks dari Kabupaten Sanggau, membawakan materi mendalam mengenai keberadaan Aksara Gholiks. Dalam paparannya, Tomi menekankan bahwa aksara lokal bukan sekadar simbol tulisan sejarah, melainkan cerminan identitas, pandangan hidup, serta rekam jejak peradaban masyarakat pemiliknya.
Tomi memaparkan bahwa masyarakat yang mampu membaca dan menulis Aksara Gholiks sudah sulit ditemukan akibat tergerus arus modernisasi dan dominasi alfabet latin.
“Ketika sebuah aksara berhenti digunakan, kita tidak hanya kehilangan sistem tulisan, tetapi juga kehilangan pintu masuk untuk memahami literatur, mantra, sejarah, dan nilai-nilai kearifan yang tersimpan di dalamnya. Kita harus bergerak sebelum aksara ini benar-benar menjadi artefak mati,” tegas Tomi di hadapan para peserta seminar.
Tiga Langkah Strategis Penyelamatan Aksara Gholiks
Untuk menyelamatkan keberadaan Aksara Gholiks, Tomi merumuskan tiga pilar solusi konkret dan adaptif agar Aksara ini tidak punah oleh perubahan zaman:
Digitalisasi dan Standardization Unicode: Mendorong pembuatan font standar berbasis Unicode agar Aksara Gholiks dapat diakses secara teknis di berbagai perangkat digital seperti ponsel pintar, komputer, dan platform media sosial.
Integrasi Edukasi Kreatif: Mengubah metode pengajaran dari doktrinal yang kaku menjadi media interaktif melalui pembuatan komik, gim edukatif, serta konten visual di platform media sosial.
Aktivasi Ruang Publik dan Komunitas: Menghidupkan penggunaan aksara dalam kehidupan sehari-hari melalui pembentukan klub baca-tulis lokal dan penerapannya pada papan nama ruang publik maupun fasilitas umum.
Tentang Aksara Gholiks
Aksara Gholiks
Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks.
Gholiks merupakan nama salah satu kelompok suku tertua di Kalimantan. Suku ini dahulunya adalah suku terbesar di negeri Thang Raya. Mereka membangun tempat tinggal di wilayah bebatuan, pemukiman mereka menjulang tinggi dan terbuat dari batu. Ketika terjadinya letusan Gunung Niut, orang-orang Gholiks terpisah-pisah.
Aksara Gholiks sebagai salah satu peninggalan sistim tulisan orang-orang Kalimantan pada zaman dahulunya, memiliki bentuk dan gaya aksara yang tidak sama dengan aksara-aksara yang banyak bertebaran di wilayah nusantara.
Bahkan Aksara Gholiks tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada tujuh buah Prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Aksara Gholiks juga tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada Papan Turai milik warisan leluhur orang-orang Iban, dan Papan Turai ini kini tersimpan di Musium Sarawak, Malaysia. Aksara Gholiks tidak sama juga dengan bentuk dan gaya aksara Dunging milik orang-orang Iban dan aksara Gagarit milik orang-orang Kadazan Dusun.
Aksara Gholiks yang ditemukan pada pahatan batu di Batu Pahat dan Batu Sampai, meskipun berasal dari sistim tulisan yang sama dan berasal dari bahasa yang sama yaitu bahasa Sangen dan bahasa Sangiang, namun kedua pahatan tulisan tersebut memiliki gaya penulisan yang berbeda. Pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat memiliki gaya penulisan yang lebih tua dari gaya penulisan Aksara Gholiks di Batu Sampai.
Gaya penulisan pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat cenderung tidak beraturan dan lebih banyak dalam bentuk simbol-simbol yang tidak membentuk sebuah kata atau sebuah kalimat. Masing-masing abjad aksara terdapat saling berdiri sendiri dan membentuk makna sendiri. Belum memiliki tanda baca dan terdapat juga abjad-abjad aksara yang terputus antara satu dengan lainnya.
Aksara Gholiks pada pahatan batu di Batu Sampai, merupakan gaya penulisan yang jauh lebih muda dari gaya penulisan di Batu Pahat. Pahatan abjad-abjad aksara Gholiks tersebut telah membentuk sebuah kata dan sebuah kalimat yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Telah terdapat tanda baca, yaitu sebuah abjad terdapat tanda sehingga membentuk bunyi sebuah kata, sehingga sedikit mempermudah dalam melacak maksud dari aksara-aksara yang terpahat pada Batu Sampai tersebut.
Terdapat juga tanda penekanan dan tanda berhenti pada sebuah kalimat. Bentuk tulisannya cenderung beraturan dan gaya penulisan pada aksara-aksaranya juga telah membentuk suatu jenis seni dalam penulisan.
Secara umum, Aksara Gholiks memiliki jumlah abjad yang cukup banyak karena banyaknya jenis-jenis bunyi pada bahasa Sangen atau bahasa Sangiang. Terdapat penekanan pada tenggorokan dan cenderung berbunyi sengau serta berbunyi desis sehingga cukup sulit dalam menirukannya jika tidak terbiasa atau bukan penutur aslinya.
Pada abjad-abjad tertentu yang membentuk kata-kata tertentu terdapat penyambungan antara abjad yang satu dengan abjad yang lainnya. Begitu juga tanda-tanda baca, terdapat penyambungan baik antara sama-sama tanda baca maupun penyambungan tanda baca pada abjad.
Dalam Aksara Gholiks, terdapat beberapa abjad yang berfungsi sebagai konsonan atau huruf mati sedangkan tanda baca, terdapat beberapa yang berfungsi sebagai vokal atau huruf hidup. Kemudian terdapat juga huruf konsonan nasal atau sengau.
Konsonan nasal atau sengau adalah fonem yang di realisasikan melalui bantuan rongga hidung, atau dengan kata lainnya adalah kualitas bunyi yang disampaikan melalui hidung atau yang secara khusus dibuat dengan menurunkan langit-langit lunak.
Pada beberapa bunyi dengan penutupan bagian mulut sehingga suara menegeluarkan bunyi baik secara seluruhnya atau sebagian melalui hidung, atau bunyi dasar yang diucapkan tersebut melalui kedua hidung dan mulut secara bersamaan.
Kemudian terdapat beberapa abjad yang berbunyi desis yaitu bunyi yang bersuara lebih lembut seperti suara meniup atau berbisik.
Metode penulisan Aksara Gholiks ini dari kiri ke kanan seperti metode penulisan aksara Latin.
Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan
Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias melontarkan pertanyaan terkait teknik membaca Aksara Gholiks hingga tantangan teknis dalam proses digitalisasinya.
Melalui seminar ini, kehadiran Tomi sebagai narasumber telah berhasil memperkenalkan keberadaan Aksara Gholiks dan membuka perspektif baru bahwa pelestarian aksara lokal bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan berjalan berdampingan dengannya.
Sesi seminar ditutup dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber. Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh para peserta seminar yang berkomitmen mendukung digitalisasi dan pembelajaran Aksara Gholiks secara berkelanjutan. (Red)
Aksara Gholiks resmi tercatat di Kementerian Hukum dengan Nomor Pencatatan 000929867.
JAKARTA, Dekade— Buku Aksara Gholiks tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., resmi tercatat di Kementerian Hukum dengan Nomor Pencatatan 000929867. Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau.
Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks. Gholiks merupakan nama salah satu kelompok suku tertua di Kalimantan.
Penelitian dan penulisan terhadap Aksara Gholiks dimulai pada bulan Mei 2012 hingga bulan Desember 2016. Kemudian dibukukan dan diumumkan penerbitannya pada 23 Desember 2016 di Kabupaten Sanggau.
Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sanggau No. 286/DIKBUD/2024 memutuskan susunan Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sanggau yaitu Agus Satrianto, S.Sos, Jamal Misrad, S.Sos, Nobertus Sutino, ST, Timur Triono, S.S, Sri Supriyanti, S.Sos, telah menetapkan Batu Sampai yang terdapat tulisan Aksara Gholiks menjadi Cagar Budaya.
Aksara Gholiks di Batu Sampai Sanggau
Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau.
Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks. Gholiks merupakan nama salah satu kelompok suku tertua di Kalimantan.
Menurut kisahnya, Suku Gholiks ini dahulunya adalah suku terbesar di negeri Thang Raya. Mereka membangun tempat tinggal di wilayah bebatuan, pemukiman mereka menjulang tinggi dan terbuat dari batu. Ketika terjadinya letusan Gunung Niut, orang-orang Gholiks terpisah-pisah.
Untuk sekarang ini, keturunan orang-orang Gholiks banyak bermukim di wilayah Kecamatan Beduai, Kabupaten Sanggau.
Di Kecamatan Beduai, tepatnya di Desa Thang Raya juga terdapat salah satu peninggalan orang-orang Gholiks yaitu sebuah gua besar yang disebut sebagai Gua Thang Raya. Gua Thang Raya ini sebagai salah satu sisa-sisa peninggalan negeri Thang Raya. Gua ini dahulunya adalah bagian dari tempat tinggal orang-orang Gholiks.
Batu Sampai di Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau merupakan sebuah batu besar alami yang mempunyai nilai sejarah yang cukup panjang bagi Kabupaten Sanggau.
Menurut kisahnya, asal muasal nama Batu Sampai ini bermula dari kedatangan rombongan Dara Nante ke kawasan sungai Sekayam.
Rombongan ini kemudian singgah ke Batu Sampai untuk mengobati Dara Nante yang terserang sakit demam setelah rombongan ini memotong pohon Bayam.
Pahatan aksara di Batu Sampai memiliki kemiripan dengan tulisan beberapa jimat milik beberapa orang tua di Kabupaten Sanggau.
Menurut beberapa orang tua itu bahwa aksara dalam jimat tersebut merupakan tulisan orang Gholiks sehingga dapat disebutkan aksara tersebut merupakan Aksara Gholiks. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks.
Pada pahatan aksara Gholiks di Batu Sampai Kabupaten Sanggau, terdapat tulisan dalam bahasa Sangen atau bahasa Sangiang, yaitu “Diing’ d’oo’… Hyaa Kaiinangaxaii zaa’oona’ rhiinayith”.
Diing’ berarti Langit dan Bumi, dan D’oo’ berarti Keduanya. Hyaa artinya Tuhan atau Dia. Kaiinangaxaaii artinya Maha Permulaan. Zaa’oona’ artinya Maha Berkuasa. Rhiinayith artinya Menciptakan Kehidupan.
Adapun arti secara lengkapnya adalah “Langit dan Bumi, Keduanya… Tuhan Yang Maha Permulaan dan Maha Berkuasa Menciptakan Kehidupan”.
Bahasa Sangen atau Bahasa Sangiang adalah bahasa tertua sekaligus sebagai induk bahasa masyarakat di Kalimantan.
Aksara Gholiks di Batu Pahat, Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau
Batu Pahat merupakan sebuah batu Andesit yang terpahatkan aksara atau tulisan di Kampung Pahit, Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.
Aksara dan bentuk pada Batu Pahat ini memiliki kemiripan dengan tulisan dan bentuk jimat warisan dari orang-orang tua masyarakat Sungkung. Pada jimat tersebut terdapat bentuk tiang Dhug atau Chatra yang membentuk empat arah.
Tiang Dhug atau Chatra merupakan simbol dari tiang payung yang bermakna sebagai pelindung kehidupan. Selain itu dimaknai juga sebagai jalan menuju ke alam abadi yang terlindungi.
Bentuk dari tiang Dhug atau Chatra ini bergerigi di masing-masing sisinya dan memiliki kemiripan dengan bentuk simbol pada pahatan di Batu Pahat Sekadau.
Bedanya pada jimat milik orang Sungkung tersebut bentuk tiang Dhug atau Chatranya membentuk empat arah, sedangkan bentuk tiang Dhug atau Chatra pada bentuk pahatan di Batu Pahat Sekadau berbentuk tegak lurus keatas sebanyak delapan tiang.
Dalam jimat itu terdapat tulisan di tengah, yang pada pahatan Batu Pahat, tulisan tersebut terdapat pada bagian atas pada tiang Dhug atau Chatra di tengah.
Bunyi dan makna aksara di Batu Pahat Sekadau berdasarkan persamaan bentuk dan bunyi dengan jimat orang Sungkung yang dibacakan dalam bentuk Pomang atau Mantra, yaitu membacanya dari tiang Dhug atau Chatra kiri ke kanan adalah sebagai berikut :
Pada Tiang Dhug atau Chatra yang pertama tertulis dengan bunyi : “Whisak pavitramay atmavinay dharaḷaṁ kannukalikay arukkan penaktiyay savikkunnay”. Maknanya adalah pada masa purnama mengabdilah ke langit atas dengan memotong hewan ternak lembu yang banyak agar suci ruh dan jiwa menjadi tenang.
Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kedua tertulis dengan bunyi : “Mukaylilum taleyumay senehikkappetay nallay bhaṣa satayasandhamay sukṣikkuka”. Maknanya adalah jaga bahasa yang baik dengan jujur agar disayangi di alam atas dan alam bawah.
Pada Tiang Dhug atau Chatra yang ketiga tertulis dengan bunyi : “Niyamannay illayet sekharikkarut karanam raktam measam sevabhavattilay viylunnu”. Maknanya adalah jangan berkumpul tanpa aturan atau jangan berzinah karena akan merusak keturunan yang akan sering berbuat jahat.
Pada Tiang Dhug atau Chatra yang keempat tertulis dengan bunyi : “Jivitavasanam pare janika acchaneaṭum am mayeaṭum anusaraṇatteate samadhana paramay adarap pular tuka vitinra tamas asthalay bahaksanay nalki sapat ommikkukay annay rajayattinay semam nelay nilkayay”. Maknanya adalah hiduplah damai dengan hormat dan patuh kepada ayah dan ibu yang telah melahirkan hingga akhir hidup mereka dan nafkahi orang tua selama tinggal bersama di rumah agar sejahtera negerimu.
Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kelima tertulis dengan bunyi : “Samadhanatteatay jipikkukay whesak kannukalikay anum pennam ara jead tamasikkunnay rajyam santamakkukay”. Maknanya adalah agar hidup damai maka pada masa purnama potonglah hewan ternak lembu jantan betina satu pasang agar tentram negeri tempat tinggalmu.
Pada Tiang Dhug atau Chatra yang keenam tertulis dengan bunyi : “Perakrati nalkiyay senehat behinnippik ellay manusya reyum senehikkukay”. Maknanya adalah sayangi semua makhluk manusia dengan membagi kasih sayang yang diberikan alam atas yang bercahaya.
Pada Tiang Dhug atau Chatra yang ketujuh tertulis dengan bunyi : “Samadhanatteay jivikkukay whesak areagya mulatum sampan navumay ara kuṭumba bhavanattinay an kannuk alikay ara jeati kannukalikay murikkukay”. Maknanya adalah agar hidup damai pada purnama potonglah hewan ternak lembu jantan betina satu pasang agar sejahtera dan sehat semua keluarga di rumah.
Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kedelapan tertulis dengan bunyi : “Perakrati ayacca kalppanaprakaram ella verkasanna luteyum vanam paripalikkukay”. Maknanya adalah peliharalah alam hutan sesuai perintah yang diutus alam atas.
Batu Pahat Sekadau maknanya berisi delapan perintah atau aturan kehidupan dan ibadah yang berada dalam tiang Dhug atau Chatra sebagai simbol pelindung menuju ke alam atas. Salah satu perintah atau aturan kehidupan itu adalah kewajiban memotong atau berkurban lembu atau sapi pada masa bulan purnama.
Hal ini memiliki persamaan dengan Prasasti Yupa Kutai yaitu memotong lembu atau sapi seperti dilakukan Raja Mulawarmman memberikan banyak sapi kepada kaum Brahmana untuk dipotong sebagai kurban.
Berdasarkan persamaan pelaksanaan ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi yang terdapat dalam makna bunyi tulisan di Batu Pahat Sekadau dengan Prasasti Yupa Kutai, maka tulisan di Batu Pahat Sekadau ini memiliki masa yang sama atau sezaman dengan keberadaan Prasasti Yupa Kutai.
Namun jika di telaah dari aksaranya yang tidak beraturan dengan begitu banyak jenis abjad, maka kemungkinan aksara di Batu Pahat Sekadau ini lebih tua dari aksara pada Prasasti Yupa Kutai.
Selanjutnya, ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi ini juga memiliki kemiripan dengan ritual yang dilaksanakan agama asli Kalimantan yaitu agama Kaharingan. Ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi dilaksanakan dalam ritual Tiwah.
Artinya bahwa Batu Pahat Sekadau ini merupakan warisan peradaban masyarakat Kalimantan pada masa dahulu karena terdapat kemiripan dengan ritual Tiwah yang menjadi tradisi dalam agama asli Kalimantan yaitu agama Kaharingan.
Adapun cara membaca aksara atau tulisan pada Batu Pahat di Sekadau ini berdasarkan cara baca jimat Orang Sungkung yang dibunyikan sebagai Pomang atau Mantra adalah dari bawah ke atas. (Red)
Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalbar di Hotel Ibis Pontianak
Pontianak, Exclusive News— Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalimantan Barat di Hotel Ibis, di Jalan Jenderal Ahmad Yani Pontianak, pada Sabtu, 5 Juli 2025. Study bertujuan untuk menggali lebih lanjut tentang sejarah Kesenian Hadrah di Kalimantan Barat, sekaligus bertukar informasi dan data tentang kesenian yang mendapat pengaruh agama Islam itu.
Werda Ningsih, S.Pd, Pimpinan Redaktur Media Exclusive News, sebagai narahubung, ketika ditemui awak media ini mengungkapkan bahwa study ini sebagai tindak lanjut pertemuan beberapa waktu sebelumnya, pada 29-31 Mei 2025 di Jakarta.
“Study ini sebagai tindak lanjut pertemuan beberapa waktu sebelumnya di Jakarta, pada 29 hingga 31 Mei 2025. Dan kami patut berbangga karena kesenian Hadrah Kalbar telah menarik minat peneliti,” ungkap Werda.
Sebagai bahan study, buku berjudul ‘Seni Hadrah Kalimantan Barat’, tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., menjadi referensi untuk penelitian lebih lanjut.
“Buku tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., berjudul ‘Seni Hadrah Kalimantan Barat’, menjadi referensi study, yang nantinya akan dilakukan penelitian lebih lanjut,” sambung Werda.
Dalam kegiatan study, juga diperkenalkan buku ‘Sejarah Adat Dayak Cupang Desa’. Buku yang diterbitkan pada bulan Desember 2023 itu, diharapkan menjadi salah satu sumber informasi tentang sejarah masyarakat Kalimantan Barat.
Sekilas Tentang Seni Hadrah Kalbar
Kesenian Hadrah merupakan satu diantara kesenian tradisional di daerah Kalimantan Barat. Hadrah tumbuh dan berkembang pada saat Indonesia mendapat pengaruh agama Islam.
Hadrah merupakan kesenian yang berasal dari negeri Arab yang diiringi musik Terbang/Tar/Tahar dan kemudian alat musik ini menjadi ciri khas pengiring musik dalam suku Melayu di Kalimantan Barat.
Dari segi bahasa, hadrah berarti kehadiran yang berasal dari kosa kata bahasa Arab Hadhoro-yahdhuru-hadhrotan (hadrah). Sedangkan menurut istilah atau pada prakteknya menurut sebagian orang, hadrah merupakan irama yang diperdengarkan yang berasal dari alat musik rebana.
Pada pendapat yang lainnya lagi menyebutkan bahwa nama hadrah berasal dari nama kota di Semenanjung Arab, Yaman Selatan yaitu Hadramaut. Hal tersebut berlatarbelakang bahwa yang mengembangkan jenis kesenian ini di nusantara adalah para pendatang dari Hadramaut Yaman yang kebanyakan merupakan kaum pedagang.
Sejarah seni Hadrah tertua di Kalimantan Barat terdapat di Kerajaan Tanjungpura dan Sambas. Karena jenis kesenian ini merupakan salah satu jenis kesenian dari tanah Arab yang identik dengan agama Islam, dan Kerajaan Tanjungpura dan Sambas merupakan salah satu kerajaan tertua di Kalimantan Barat yang telah dimasuki agama Islam sejak periode tahun 628 Masehi.
Pada periode permulaan masuknya Islam di kerajaan Tanjungpura, jenis kesenian tanah Arab dari alat musik rebana ini belum bernama Hadrah. Hingga ketika Panembahan Giri Kesuma mengukuhkan dan mengumumkan bahwa Tanjung Pura telah menjadi Kerajaan Islam Sukadana Tanjung Pura-Matan pada tahun 1590, barulah jenis kesenian ini disebut Hadrah, karena banyaknya penyebar Islam dan pedagang dari Hadramaut datang ke negeri Matan.
Pada periode tahun 1740-an Masehi, seni Hadrah di Kerajaan Tanjungpura berkembang menjadi seni Hadrah Al-Banjari, karena dipengaruhi oleh jenis irama dan teknik pukulan hadrah dari negeri Banjar, Kalimantan Selatan.
Pada periode tahun 1750-an Masehi, jenis seni Hadrah Al-Banjari mulai berkembang di negeri Mempawah. Pada periode berikutnya berkembang di negeri Pontianak dan Sambas. Kemudian berkembang lagi ke negeri Landak. Selanjutnya berkembang di negeri Sanggau dan Sintang hingga ke Hulu Kapuas dan negeri Meliau-Tayan. (Red)
PONTIANAK, Dasawarsa Courant—Gusti Sulung Lelanang, pengasuh roeang sedjarah di majalah Kesedaran, menyindir para penguasa agar tidak bersikap licik dalam terbitan majalah Kesedaran edisi 4 Juli 1940. Gusti Sulung Lelanang mengangkat tulisan tentang Ratu Betung Kerajaan Tanjung Pura dengan artikel berjudul “Bertjermin dari roeboehnja koeasa Ratoe Betoeng jang litjik”.
Pada roeang sedjarah itu Gusti Sulung Lelanang menyindir para penguasa agar tidak bersikap zalim dan licik, karena perbuatan itu membuat musnahnya kekuasaan yang telah dititipkan Tuhan. Bahkan dapat juga menghilangkan keturunan di muka bumi, seperti yang terjadi pada Ratu Betung, seorang Ratu di Kerajaan Tanjung Pura yang telah berbuat licik untuk mendapatkan segala keinginannya.
Dalam artikelnya yang panjang itu, Gusti Sulung Lelanang menuliskan bahwa Ratu Betung telah memerintahkan suaminya, Siak Bahulun, untuk menyerang Kerajaan Panggau Banyau di pedalaman sungai Sekayam akibat cemburu dan berambisi ingin memiliki emas yang berbentuk buah mentimun milik Kranamuning.
Untuk mencapai ambisinya itu, Ratu Betung memerintahkan Siak Bahulun untuk menebarkan racun dan kotoran manusia di Kerajaan Panggau Banyau itu sehingga kerajaan itu dapat dikuasainya.
Akibat perbuatan liciknya tersebut, Ratu Betung mendapat kutukan dari kerajaan Panggau Banyau. Dan kurang lebih sepuluh tahun sejak dihancurkannya kerajaan Panggau Banyau oleh kerajaan Tanjung Pura, yaitu pada tahun 1330 Kerajaan Tanjung Pura diserang Kerajaan Wilwatikta yang berakibat terbunuhnya Ratu Betung dan Siak Bahulun lari bersembunyi diKerajaan Ulu Aik. Sehingga raja-raja Tanjung Pura tergantikan oleh keturunan Prabu Jaya dengan Ratu Lawai atau Puteri Junjung Buih.
Dalam artikelnya itu juga, Gusti Sulung Lelanang membeberkan kronologis penyerangan terhadap kerajaan Panggau Banyau, riwayat Ratu Betung dan Siak Bahulun, serta keberadaan kerajaan Hulu Aik. (Red)