Posted on 1 Comment

Gusti Sulung Lelanang Menyindir para Penguasa agar Tidak Bersikap Licik dalam Majalah Kesedaran 4 Juli 1940 berjudul “Bertjermin dari roeboehnja koeasa Ratoe Betoeng jang litjik”

Terbitan Majalah Kesedaran edisi 4 Juli 1940
Terbitan Majalah Kesedaran edisi 4 Juli 1940

PONTIANAK, Dasawarsa Courant Gusti Sulung Lelanang, pengasuh roeang sedjarah di majalah Kesedaran, menyindir para penguasa agar tidak bersikap licik dalam terbitan majalah Kesedaran edisi 4 Juli 1940. Gusti Sulung Lelanang mengangkat tulisan tentang Ratu Betung Kerajaan Tanjung Pura dengan artikel berjudul “Bertjermin dari roeboehnja koeasa Ratoe Betoeng jang litjik”.

Pada roeang sedjarah itu Gusti Sulung Lelanang menyindir para penguasa agar tidak bersikap zalim dan licik, karena perbuatan itu membuat musnahnya kekuasaan yang telah dititipkan Tuhan. Bahkan dapat juga menghilangkan keturunan di muka bumi, seperti yang terjadi pada Ratu Betung, seorang Ratu di Kerajaan Tanjung Pura yang telah berbuat licik untuk mendapatkan segala keinginannya.

Dalam artikelnya yang panjang itu, Gusti Sulung Lelanang menuliskan bahwa Ratu Betung telah memerintahkan suaminya, Siak Bahulun, untuk menyerang Kerajaan Panggau Banyau di pedalaman sungai Sekayam akibat cemburu dan berambisi ingin memiliki emas yang berbentuk buah mentimun milik Kranamuning.

Untuk mencapai ambisinya itu, Ratu Betung memerintahkan Siak Bahulun untuk menebarkan racun dan kotoran manusia di Kerajaan Panggau Banyau itu sehingga kerajaan itu dapat dikuasainya.

Akibat perbuatan liciknya tersebut, Ratu Betung mendapat kutukan dari kerajaan Panggau Banyau. Dan kurang lebih sepuluh tahun sejak dihancurkannya kerajaan Panggau Banyau oleh kerajaan Tanjung Pura, yaitu pada tahun 1330 Kerajaan Tanjung Pura diserang Kerajaan Wilwatikta yang berakibat terbunuhnya Ratu Betung dan Siak Bahulun lari bersembunyi diKerajaan Ulu Aik. Sehingga raja-raja Tanjung Pura tergantikan oleh keturunan Prabu Jaya dengan Ratu Lawai atau Puteri Junjung Buih.

Dalam artikelnya itu juga, Gusti Sulung Lelanang membeberkan kronologis penyerangan terhadap kerajaan Panggau Banyau, riwayat Ratu Betung dan Siak Bahulun, serta keberadaan kerajaan Hulu Aik. (Red)

Baca juga :

Dasawarsa Courant Pre-Launching Buku Goesti Soeloeng Lelanang

Posted on Leave a comment

Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 Kembali Mengkritik Panembahan Sanggau “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”

Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 mengkritik Panembahan Sanggau
Surat Kabar Berani 12 Oktober 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Pontianak, Dasawarsa Courant- Surat Kabar Berani terbitan 12 Oktober 1925 kembali mengkritik Panembahan Sanggau dalam artikel berjudul “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”. Surat kabar Berani beralamat redaksi di Kampung Darat Pontianak dengan redakturnya bernama Boullie.

Surat kabar ini dicetak oleh percetakan Hoea Kiauw Pontianak, yang merupakan perusahaan percetakaan pertama di Pontianak. Surat kabar ini pertama kali terbit pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 1925. Harga berlangganannya sebesar f.3,- selama 3 bulan.

Surat kabar Berani memuat slogan “Barang siapa yang benci pada kita, ialah musuh kita” yang tercantum pada halaman muka. Surat kabar Berani menerima aduan dari rakyat apabila mengalami kesewenang-wenangan dari siapapun juga dan akan melakukan pembelaan terhadap aduan dari rakyat tersebut.

Kritik sosial diutarakan melalui berita-berita artikel yang memuat tentang kesengsaraan rakyat. Surat kabar Berani juga menyinggung tingkah polah penguasa lokal di Borneo Barat seperti mengkritik Panembahan Sanggau. Sebagaimana dalam artikel terbitan 12 Oktober 1925 berjudul “Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”.

Berikut ini artikelnya,

“Satoe Negeri diroesak radjanja sendiri”

Iaitoe lah satoe negeri Sanggau jang telah binasa riwajatnja semendjak naiklah radjanja jang boekan ketoeroenan langsoeng dari radjanja jang sjah. Ialah itoe Moehammad Thahir II. Ianja menantoe Panembahan Moehammad, ia poela anaknja Panembahan Mempawah Ibrahim Moehammad Tsafioeddin.

Ada poela Panembahan sebelah Mempawah itoe berkahwin dengan Utin Saripah. Ialah itoe poetri daripada Soeltan Moehammad Ali. Jang mana Soeltan Sanggau ini berkahwin dengan Utin Malaja.

Ianja Moehammad Thahir II itoe soedah poen meminta-minta padanja pemerintah Belanda oentoeknja diangkat djadi radja Sanggau. Perilakoe kedjamnja lagi ianja soedah poela mengoesir pangeran mahkota Sanggau iaitoe Pangeran Abdoel Pata, iaitoe anaknja Soeltan Moehammad Ali. Jang djoega ianja pangeran itoe tjoetjoenja Soeltan Zainoeddin.

Sehingga lah Pangeran Abdoel Pata itoe meninggal doenia di Balai Nanga tanggal 17 OEktober 1867. Pangeran Abdoel Pata itoe lah Radjanja Sanggau jang kesebelas. Ianja itoe tersingkir ke Balai Nanga setelah melawan pemerintah Belanda sedjak tanggal 30 Desember 1830.

Perilakoe kedjamnja dari Moehammad Thahir II itoe soedah poen meroesak riwajat negeri itoe. Sedang ianja hanja orang datang dari sebelah negeri Mempawah. Ianja hanja satoe menantoe jang berboeat semena-semena di negeri orang. Soenggoeh satoe radja jang tak tau dioentoeng.

Beloem lagi ianja soedah mengabarkan kabar doesta pada pemerintah Belanda bahwasanja ianja itoe sebagai Goesti lebih tinggi deradjatnja dari mertoeanja itoe. Makalah ianja soedah berboeat doerhaka pada mertoeanja jang radja sjah itoe.

Makanja ia poela berbolak-balik ke Bogor meminta-minta diangkat djadi radja Sanggau mengganti mertoeanja itoe. Hingga soedah poen ia teken Zegel pengangkatan tanggal 30 April 1860 dengan poela Soerat Kepoetoesan Nomor 6 tanggal 27 DJanoeari 1862 dengan pangkatnja Pangeran Ratoe Padoeka Seri Maharadja. Dengan poela ia minta pangkat Goesti kehadapan pemerintah Belanda.

Sedjak itoe poela soedah mati riwajatnja negeri Sanggau. Ia ambil paksa djabatan mertoeanja itoe, laloe ia oesir pangeran mahkota dari negeri lahirnja.

Hingga lah hari ini anak tjoetjoenja berboeat kedjam lagi. Iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III soedah menghinakan deradjat orang Bangsa Kampong, orang Bangsa Sangchrah, orang Bangsa Boeroeng, orang Bangsa Sanggau jang djadi poenja negeri Sanggau. Ianja mengabarkan lagi kabar doesta bahawasanja ianja Goesti lebih terhormat dari empat orang Roemah itoe.

Darimana terhormatnja deradjatnja itoe? Dari merampas hak-hak anak tjoetjoe orang Roemah.

Daripada itoe soenggoeh poen malang nasib Sanggau. Soedah poen riwajatnja mati, negerinja poela dikoeasai orang datang. Malahan ianja djoega roesak itoe Sanggau poenja riwajat dengan semau hawa nafsoenja. Hanja oentoek tamaknja ia pada koeasa jang boekan miliknja. (Red)

Baca juga :

Penerbit Nasional Tak Membayarkan Hak Royalti Penulis Daerah

Posted on Leave a comment

Penerbit Nasional Tak Membayarkan Hak Royalti Penulis Daerah

Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis dari Kabupaten Sanggau, yang menulis buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’, yang diterbitkan oleh Feliz Books. Namun tidak mendapatkan kontrak penerbitan dan tidak dibayarkan Hak Royaltinya
Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis dari Kabupaten Sanggau, yang menulis buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’, yang diterbitkan oleh Feliz Books. Namun tidak mendapatkan kontrak penerbitan dan tidak dibayarkan Hak Royaltinya

Sanggau, Dekade- Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis dari Kabupaten Sanggau mengutarakan bahwa dua buah judul bukunya yang telah diterbitkan oleh Feliz Books, yang merupakan penerbit nasional di Jakarta, tidak membayarkan Hak Royaltinya. Hal itu ia utarakan pada salah satu media nasional yang mewawancarainya pada hari Rabu malam, 9 April 2025 lalu.

Dua buah bukunya yaitu Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’, diterbitkan pada bulan Mei 2014 oleh penerbit Feliz Books yang beralamat di Jalan Pulo Cempaka Raya No. 73 Jakarta.

“Buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’ ini diterbitkan oleh Feliz Books pada bulan Mei 2014, yang hingga bulan April 2025 ini, saya tidak mendapatkan pembayaran Hak Royaltinya,” ujar Tomi.

Selain tidak dibayarkan Hak Royaltinya, dua buah buku yang telah diterbitkan dan telah tersebar luas penjualannya ke seluruh Indonesia itu juga tidak ada kontrak penerbitannya antara penerbit dan Tomi, sebagai penulisnya.

“Ketika diterbitkan pada bulan Mei 2014 itu, hingga tahun 2025 ini, saya tidak mendapatkan kontrak penerbitannya. Padahal sebelum diterbitkan, pihak Feliz Books menyampaikan bahwa penerbitan kedua buku itu dilakukan setelah saya menandatangani kontrak penerbitan dari Feliz Books. Namun hingga saat ini saya tidak menerima kontraknya, apalagi menandatanganinya,” celoteh Tomi.

Sebelum diterbitkan, pihak Feliz Books mengatakan bahwa kedua buku itu akan dicetak sebanyak 10.000 eksemplar, dengan biaya penerbitan dan cetak sebesar 40 juta.

“Pada akhir tahun 2012, saya bertemu pihak Feliz Books di salah satu cafe di Jakarta, dan mereka mengatakan bahwa biaya terbit dan cetak kedua buku itu sebesar 40 juta, dan akan dicetak sebanyak 10.000 eksemplar. Kedua buku itu akan didistribusikan ke berbagai toko buku seluruh Indonesia. Bahkan akan di jual secara online. Karena biayanya sangat besar dan uang saya tidak cukup pada saat itu, sehingga saya meminta waktu untuk mengumpulkan uangnya. Namun pada pertemuan itu saya sudah memberikan file tulisan kedua judul buku itu kepada pihak Feliz Books,” kata Tomi.

Pada bulan Juni 2013, pihak Feliz Books menghubungi Tomi, untuk mempertanyakan kepastiannya menerbitkan buku-bukunya itu melalui Feliz Books. Pada saat itu Tomi mengatakan jika uangnya belum cukup, dan meminta keringanan biaya.

Pihak Feliz Books pun memberikan pengurangan biaya terbit dan cetak dari 40 juta menjadi 30 juta. Tomi pun mengatakan akan mengusahakan mempersiapkan biaya tersebut.

Pada bulan selanjutnya, yaitu bulan Juli 2013, kembali Tomi dihubungi pihak Feliz Books. Saat itu Tomi hanya siap uang 14 juta, sehingga ia menanyakan apakah bisa diterbitkan satu buku dahulu dengan biaya 14 juta.

Pada saat itu pihak Feliz Books mengatakan akan membicarakannya terlebih dahulu ke manajemen penerbitan. Hingga beberapa hari berikutnya, Tomi dihubungi kembali, dan Feliz Books mengatakan jika ia bisa menerbitkan satu bukunya dengan biaya 14 juta itu.

“Saya akhirnya bisa menerbitkan satu judul buku dengan biaya 14 juta. Maka saya pilih penerbitan buku Faradje’ terlebih dahulu. Karena file tulisannya sudah saya berikan, sehingga kata mereka proses penerbitanya menunggu 3 bulan kedepan, diakibatkan banyaknya antrian terbitan dan cetakan buku-buku milik penulis lain,” ujar Tomi.

Hingga pada bulan November 2013, Feliz Books menghubunginya lagi. Mereka mengatakan bahwa buku Faradje’ sedang dalam proses editing, dan mereka mengirimkan file hasil editannya ke Tomi untuk ia baca dan revisi, jika ada kekeliruan dalam hasil editannya itu.

Selain menyampaikan tentang buku Faradje’, Feliz Books juga menyampaikan tentang buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 yang bisa diterbitkan dengan biaya yang sama yaitu 14 juta. Dan Tomi berkata akan ia usahakan.

“Pada bulan November 2013 itu, ketika hasil editing dari Feliz Books sudah saya baca dan tidak ada kekeliruan, Feliz Books mengatakan jika saya bisa menerbitkan buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dengan biaya yang sama yaitu 14 juta. Saya menanggapinya dengan mengatakan akan saya usahakan. Dan dari bulan November 2013 itu, Feliz Books mengatakan saya harus menunggu 3 bulan lagi dari proses editing hingga ke cetak, karena mengantri dengan yang lain,” kata Tomi.

Pada bulan Januari 2014, kembali Feliz Books menghubunginya. Feliz Books mengatakan jika buku Faradje’ sedang proses pengurusan ISBN dan desain cover. Mereka juga mempertanyakan tentang kesiapan Tomi untuk menerbitkan buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822.

Pada saat itu Tomi mengatakan jika uangnya itu siap pada bulan Februari depan. Maka pada bulan Februari 2014 itu buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 mulai proses editing. Hingga bulan Mei 2014 kedua buku tersebut diterbitkan.

Karena tidak mendapatkan kontrak penerbitannya, Tomi akhirnya mengurus Hak Cipta ke Kementerian Hukum dan HAM. Dan kedua buku tersebut pun telah memiliki Sertifikat Hak Cipta.

“Ketika penerbitan kedua buku tersebut, Feliz Books mengirimkan draft kontrak penerbitan. Namun draft tersebut terdapat kesalahan, karena sepertinya hasil copy paste milik penulis lain. Draft itu saya kirim balik. Kemudian dikirimkan lagi. Namun kembali terdapat kesalahan, bahkan sudah ada tanda tangannya atas nama orang lain. Draft itu saya kirim balik lagi. Dan hingga sekarang saya tidak pernah dikirimkan draft kontraknya lagi,” tutur Tomi.

Menurut Tomi, terakhir ia dihubungi oleh salah seorang karyawan Feliz Books tanggal 19 Juli 2022 melalui Messanger pukul 16:25. Orang tersebut meminta nomor HPnya dengan alasan nomornya itu hilang terinstal. Dan janjinya setelah itu akan dihubungi pihak Feliz Books. Tapi hingga hari ini, ia tidak juga dihubungi pihak Feliz Books.

Buku-Bukunya Masih Terjual Secara Online

Berdasarkan penelusuran salah satu media nasional yang mewawancarainya itu, buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dan Faradje’, tulisan Tomi, hingga kini masih dijual secara online. Kedua buku itu dijual kisaran Rp50.000 hingga Rp98.000.

Misalnya pada Website Yayasan Pustaka Obor Indonesia, http://obor.or.id, buku Faradje’ dijual seharga Rp50.000,- dengan status Tersedia. Buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dijual seharga 65.000, dengan status Tersedia.

Pada Google Books, buku Faradje’ dijual seharga 41.458,- dan buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 Rp41.919,-.

Pada Gramedia Digital, buku Pasak Negeri Kapuas 1616-1822 dijual seharga Rp35.000,- dan buku Faradje’ Rp49.000,-. Sedangkan pada toko-toko online lainnya dijual antara Rp50.000 – Rp98.000,-.

Selain buku Faradje’ dan Pasak Negeri Kapuas 1616-1822, Feliz Books juga menerbitkan dua buah buku lainnya karya Tomi, yaitu Kumpulan Cerita Anak Kabupaten Sanggau dan Kumpulan Cerita Legenda Kabupaten Sanggau yang diterbitkan bulan Oktober 2014. Buku-buku ini juga tidak ada kontrak penerbitannya, dan tidak dibayarkan Hak Royaltinya. (Red)

Baca juga :

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Posted on 2 Comments

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau
Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Pontianak, Dasawarsa Courant- Surat Kabar Berani terbitan 24 Juli 1925, dalam tulisan berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, mengkritik Panembahan Sanggau yang dinilai terlalu congkak karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Surat kabar Berani pertama kali terbit pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 1925. Dalam terbitan pertama tersebut tercantum nama Boullie sebagai redaktur.

Alamat redaksi dan administrasi surat kabar Berani di Kampung Darat Pontianak. Surat kabar ini dicetak oleh percetakan Hoea Kiauw Pontianak. Hoea Kiauw sendiri merupakan perusahaan percetakaan pertama yang ada di Pontianak.

Harga langganan selama 3 bulan sebesar f.3,- saja. Pada edisi pertamanya surat kabar Berani memuat slogan “Barang siapa yang benci pada kita, ialah musuh kita” yang tercantum pada halanan muka.

Surat kabar Berani sebagaimana disampaikan oleh Redakturnya menerima aduan dari rakyat apabila mengalami kesewenang-wenangan dari siapapun juga dan akan melakukan pembelaan sepantasnya akan aduan dari rakyat tersebut.

Surat kabar Berani lahir untuk nenentang kesewenang-wenangan kaum kapitalis dan imperialis terhadap kaum buruh dan tani khususnya yang ada di Borneo Barat. Melalui surat kabar Berani maka segala kesengsaraan rakyat khususnya kaum buruh dapat terekspos dan melalui pemikiran-pemikiran anti kapitalis dan imperialis yang termuat dalam isi surat kabar Berani diharapkan rakyat semakin sadar akan nasibnya yang mengalami penindasan.

Suara-suara kritik sosial diutarakan melalui berita-berita artikel yang memuat tentang kesengsaraan rakyat dalam berpenghidupan, bersekolah, pengobatan bagi yang sakit dan lain-lain sebagainya.

Semua keluh kesah rakyat yang dimuat dalam surat kabar Berani akibat merajalelanya kapitalisme dan imperialisme. Dan semuanya akan sirna apabila seluruh rakyat bersatu padu dalam memperjuangkan kehidupan yang penuh persaudaraan dan persamaan diantara rakyat semuanya. Demikianlah yang diberitakan dalam surat kabar Berani.

Surat kabar Berani juga menyinggung tingkah polah penguasa lokal di Borneo Barat seperti kebijakan Panembahan Sanggau yang membeda-bedakan golongan dan derajat.

Hal ini ditentang karena dianggap sebagai tindakan semena-mena dan membeda-bedakan ciptaan Tuhan berdasarkan derajatnya.

Dalam artikel terbitan 24 Juli 1925 berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, surat kabar Berani mengkritik Panembahan Sanggau yang dianggap sangat sombong karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Berikut ini artikelnya,

“Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Sanggau satoe negeri jang ketjil telah poen mewariskan kekaloetan sedjak ini hari hingga masa jang akan datang oentoek anak tjoetjoenja jang diakibatkan riwajatnja soedah mati. Hal itoe tak lain sebab akibat dari oelah radjanja jang kedji.

Kekaloetan di negeri Sanggau djadi meloeas hal akibat daripada radjanja jang tjongkak meninggikan deradjatnja iaitoe orang Goesti lebih tinggi dari golongan orang Roemah. Iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III telah poen merendahkan deradjat golongan orang roemah iaitoe orang Bangsa Kampong, orang Bangsa Sangchrah, orang Bangsa Boeroeng, orang Bangsa Sanggau jang mendjadi pemilik tanah Sanggau.

Sedjak poen tanah Sanggau telah dibangoen oleh datoek mojang golongan orang roemah jang dimoelai diboeka hoetan rimbanja iaitoe dimoelai tahoen 1302 oleh doea saudara kembar dari orang Bangsa Sangchrah iaitoe Danoem dan Dakdoedak. Iaitoe pada peristiwa mereka itoe memotong pohon Bajam jang roeboeh melintang pada saat mereka mau masoek kedalam soengai Sekajam.

Pohon itoe daunnja lebar seperti daun Bajam maka dari itoe mereka seboet itoe pohon adalah pohon Bajam. Jang telah poen beberapa malam mereka diganggoe oleh boenji kokok ajam dari pohon itoe. Dan siangnja mereka potong pohon itoe tapi adjaibnja besoknja pohon itoe oetoeh lagi. Jang akibatnja djadi sakit demamnja poetri Dara Menante. Dan bisa lah semboeh poetri malang itoe saat dibawa berobat ke goea batoe jang ada toelisan diatasnja. Iaitoe lah mereka seboet tempat batoe toelisan itoe batoe Sompaj. Maka dari itoe tempat mereka potong pohon Bajam itoe djadilah ia tanah Kantoek.

Laloe apa hal Panembahan itoe Moehammad Thahir III mentjongkakkan dirinja itoe sebagai Goesti jang lebih tinggi dari golongan orang Roemah?

Sedangkan Allah Taala poen tidak membeda-bedakan deradjat manoesia di moeka boemi. Hanja ketaqwaan dan amal ibadah sadja djadinja deradjat tertinggi dihadapan Allah Taala.

Ia itoe lah Panembahan jang tak tau diri. Jang loepa asal oesoel dirinja jang boekan ketoeroenan langsoeng dari golongan orang Roemah itoe. Jang tak lain berderadjat menantoe dari golongan orang Roemah.

Ia itoe Moehammad Thahir III anaknja Panembahan Moehammad Ali II. Daripada itoe Panembahan Moehammad Ali II itoe anaknja Ahmad Poetera. Hingga lah Ahmad Poetera itoe anaknja Moehammad Thahir II.

Ia itoe lah Moehammad Thahir II itoe anaknja dari sebelah Panembahan Mempawah iaitoe Panembahan Ibrahim Moehammad Tsafioeddin. Ia poen poela djadi menantoenja Panembahan Moehammad jang berkawin dengan Dajang Mastika.

DJadi soedah poen terang seterang-terangnja ia itoe hanjalah berderadjat menantoe di negeri Sanggau. Tapi berperilakoe tjongkak merampas hak golongan orang Roemah.

Soedah poen datoeknja itoe Moehammad Thahir II soedah kedji meninggikan deradjatnja sebagai ia orang Goesti lebih terhormat dari orang Roemah dikehadapan pemerintah Belanda di Bogor. Jang saat itoe ia nja meminta-minta djabatan padanja pemerintah Belanda hinggalah meneken Zegel pengangkatan dari pemerintah Belanda tanggal 30 April 1860 di Bogor.

Ia poela soedah menghasoet pemerintah Belanda itoe goena mengoesir ia nja Pangeran Abdoel Pata bin Soeltan Moehammad Ali itoe jang sebagai radja sjah di negeri Sanggau itoe. Perilakoenja itoe soenggoeh kedji kepada jang tak lain pamannja itoe.

Hingganja ini hari iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III itoe berboeat kedji jang seroepa datoeknja masa lampau dengannja merendahkan golongan orang Roemah. Ia nja telah boeat itoe riwajat negeri Sanggau djadi mati. Jang akan djadi kekaloetan pada anak tjoetjoe negeri Sanggau itoe sehingga masa jang akan datang. (Red)

Baca juga :

Tom’S Book Publishing Pre-Launching Buku Haji Rais Abdoerracman

Posted on Leave a comment

Penulis Sejarah Sanggau diisukan Meninggal Dunia

Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, yang diisukan meninggal dunia
Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, yang diisukan meninggal dunia

Sanggau, Exclusive News- Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, diisukan meninggal dunia. Isu tersebut santer sejak November 2024 lalu. Dan sempat mereda setelah Tomi mengklarifikasi ketidak benaran berita itu melalui media sosialnya. Namun pertengahan puasa 2025, isu tersebut muncul lagi.

Isu meninggal dunianya Penulis sejarah Sanggau itu, yang juga sebagai Pimpinan Umum media Exclusive News, dipertanyakan oleh awak media salah satu media nasional yang mewawancarainya pada hari Rabu malam, 9 April 2025.

Awak media nasional ini sempat kebingungan untuk bertemu dengan Tomi, karena informasi yang mereka terima adalah Penulis sejarah Sanggau itu telah meninggal dunia. Sedangkan mereka juga tidak memiliki nomor kontaknya.

Syukurnya melalui website http://tomsbook.co.id, awak media ini berhasil melakukan kontak langsung kepada Penulis sejarah Sanggau itu, yang juga sebagai Pimpinan Umum Majalah Dekade.

“Kami sempat kebingungan ketika mendapat informasi jika Bang Tomy sudah meninggal dunia. Tapi informasi tersebut juga masih simpang siur. Makanya ketika kami ketemu websitenya Bang Tomy, langsung kami hubungi. Dan syukurnya, website tersebut langsung terhubung ke nomor kontak Bang Tomy,” kata awak media itu.

Kepada awak media nasional itu, Tomi menceritakan jika isu meninggal dunia dirinya itu bukan baru kali ini saja. Sudah beberapa kali terjadi.

“Isu saya sudah meninggal dunia telah beberapa kali terjadi. Yang barusan santer itu di bulan November 2024, tapi mereda setelah saya mengklarifikasi ketidak benaran berita tersebut di media sosial saya. Kemudian muncul lagi pada pertengahan puasa lalu,” ujar Tomi menjelaskan kepada awak media nasional itu.

Menurut Tomi, isu meninggal dunia dirinya itu yang paling santer terjadi pada tahun 2019. Kemudian awal puasa tahun 2024 muncul lagi. Dan pada kedua tahun itu dirinya memang sedang sakit yang cukup mengkhawatirkan. Dimana dirinya tidak bisa berbicara dan bergerak.

“Pada tahun 2019 dan awal puasa 2024, saya sedang sakit. Saya tidak bisa berbicara dan tubuh saya mengejang tidak bisa digerakkan,” kata Tomi.

Mendapat Ancaman

Kepada awak media nasional itu, Tomi menceritakan lika likunya selama menulis sejarah Sanggau. Ia pernah mendapat ancaman dari beberapa orang tak dikenal (OTK) melalui telpon, WA dan SMS.

“Tahun 2017, 2018 dan 2019, saya beberapa kali mendapat ancaman melalui telpon, SMS dan WA dari beberapa orang tak dikenal. Orang-orang ini menyuruh saya untuk menghapus semua tulisan-tulisan saya di media sosial saya. Mereka juga melarang saya untuk melanjutkan menulis tentang sejarah. Jika saya tidak menurutinya, maka saya akan dibinasakan,” ujar Tomi.

Meski telah mendapat ancaman, Tomi tetap melanjutkan aktivitasnya sebagai Penulis sejarah Sanggau. Ia tidak menggubris ancaman-ancaman tersebut.

“Saya akan tetap menulis, karena sudah menjadi hobby saya. Toh yang saya tulis juga bukan hanya tentang sejarah budaya saja. Ada tentang Novel, Agama dan Umum. Yang semuanya sudah dibukukan, dan telah ber-ISBN serta telah diterbitkan. Semoga buku-buku saya itu bermanfaat dan dapat ikut serta berkontribusi terhadap tujuan Negara Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa,” kata Tomi.

Sepanjang tahun 2025 ini, Tomi berencana akan menyelesaikan tulisannya sebanyak lima judul. Dan di bulan April ini, ia sedang mempersiapkan penerbitan dua judul bukunya yaitu Haji Rais Abdoerracman dan Goesti Soeloeng Lelanang.

Kedua judul buku tersebut sudah dilaksanakan Pre-Launching. Untuk Launchingnya direncanakan di Pontianak. Dan waktu pelaksanaannya belum ditentukan.

“Buku Haji Rais Abdoerracman dan Goesti Soeloeng Lelanang sedang dalam proses untuk penerbitan. Sedangkan untuk Launchingnya, masih kita koordinasikan. Yang pastinya akan dilaksanakan di hari Sabtu, Minggu atau hari libur Nasional. Karena status saya sebagai ASN sehingga pada hari-hari libur saja saya bisa menghadiri acara Launching tersebut,” kata Tomi. (Red)

Baca juga :

Kapok Gabung Grup Sejarah dan Budaya