Posted on Leave a comment

Aksara Gholiks Resmi Tercatat di Kementerian Hukum

Aksara Gholiks resmi tercatat di Kementerian Hukum dengan Nomor Pencatatan 000929867.
Aksara Gholiks resmi tercatat di Kementerian Hukum dengan Nomor Pencatatan 000929867.

JAKARTA, Dekade— Buku Aksara Gholiks tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., resmi tercatat di Kementerian Hukum dengan Nomor Pencatatan 000929867. Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau.

Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks. Gholiks merupakan nama salah satu kelompok suku tertua di Kalimantan.

Penelitian dan penulisan terhadap Aksara Gholiks dimulai pada bulan Mei 2012 hingga bulan Desember 2016. Kemudian dibukukan dan diumumkan penerbitannya pada 23 Desember 2016 di Kabupaten Sanggau.

Selanjutnya Aksara Gholiks yang terdapat di Batu Sampai Kabupaten Sanggau resmi ditetapkan menjadi Cagar Budaya pada sidang penetapan objek diduga cagar budaya (ODCD) menjadi cagar budaya (CB) tingkat Kabupaten Sanggau yang dilaksanakan di Hotel Emerald Sanggau, Rabu, 4 Desember 2024.

Berdasarkan Surat Keputusan Bupati Sanggau No. 286/DIKBUD/2024 memutuskan susunan Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Sanggau yaitu Agus Satrianto, S.Sos, Jamal Misrad, S.Sos, Nobertus Sutino, ST, Timur Triono, S.S, Sri Supriyanti, S.Sos, telah menetapkan Batu Sampai yang terdapat tulisan Aksara Gholiks menjadi Cagar Budaya.

Aksara Gholiks di Batu Sampai Sanggau

Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau.

Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks. Gholiks merupakan nama salah satu kelompok suku tertua di Kalimantan.

Menurut kisahnya, Suku Gholiks ini dahulunya adalah suku terbesar di negeri Thang Raya. Mereka membangun tempat tinggal di wilayah bebatuan, pemukiman mereka menjulang tinggi dan terbuat dari batu. Ketika terjadinya letusan Gunung Niut, orang-orang Gholiks terpisah-pisah.

Untuk sekarang ini, keturunan orang-orang Gholiks banyak bermukim di wilayah Kecamatan Beduai, Kabupaten Sanggau.

Di Kecamatan Beduai, tepatnya di Desa Thang Raya juga terdapat salah satu peninggalan orang-orang Gholiks yaitu sebuah gua besar yang disebut sebagai Gua Thang Raya. Gua Thang Raya ini sebagai salah satu sisa-sisa peninggalan negeri Thang Raya. Gua ini dahulunya adalah bagian dari tempat tinggal orang-orang Gholiks.

Batu Sampai di Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau merupakan sebuah batu besar alami yang mempunyai nilai sejarah yang cukup panjang bagi Kabupaten Sanggau.

Menurut kisahnya, asal muasal nama Batu Sampai ini bermula dari kedatangan rombongan Dara Nante ke kawasan sungai Sekayam.

Rombongan ini kemudian singgah ke Batu Sampai untuk mengobati Dara Nante yang terserang sakit demam setelah rombongan ini memotong pohon Bayam.

Pahatan aksara di Batu Sampai memiliki kemiripan dengan tulisan beberapa jimat milik beberapa orang tua di Kabupaten Sanggau.

Menurut beberapa orang tua itu bahwa aksara dalam jimat tersebut merupakan tulisan orang Gholiks sehingga dapat disebutkan aksara tersebut merupakan Aksara Gholiks. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks.

Pada pahatan aksara Gholiks di Batu Sampai Kabupaten Sanggau, terdapat tulisan dalam bahasa Sangen atau bahasa Sangiang, yaitu “Diing’ d’oo’… Hyaa Kaiinangaxaii zaa’oona’ rhiinayith”.

Diing’ berarti Langit dan Bumi, dan D’oo’ berarti Keduanya. Hyaa artinya Tuhan atau Dia. Kaiinangaxaaii artinya Maha Permulaan. Zaa’oona’ artinya Maha Berkuasa. Rhiinayith artinya Menciptakan Kehidupan.

Adapun arti secara lengkapnya adalah “Langit dan Bumi, Keduanya… Tuhan Yang Maha Permulaan dan Maha Berkuasa Menciptakan Kehidupan”.

Bahasa Sangen atau Bahasa Sangiang adalah bahasa tertua sekaligus sebagai induk bahasa masyarakat di Kalimantan.

Aksara Gholiks di Batu Pahat, Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau

Batu Pahat merupakan sebuah batu Andesit yang terpahatkan aksara atau tulisan di Kampung Pahit, Desa Sebabas Kecamatan Nanga Mahap, Kabupaten Sekadau, Kalimantan Barat.

Aksara dan bentuk pada Batu Pahat ini memiliki kemiripan dengan tulisan dan bentuk jimat warisan dari orang-orang tua masyarakat Sungkung. Pada jimat tersebut terdapat bentuk tiang Dhug atau Chatra yang membentuk empat arah.

Tiang Dhug atau Chatra merupakan simbol dari tiang payung yang bermakna sebagai pelindung kehidupan. Selain itu dimaknai juga sebagai jalan menuju ke alam abadi yang terlindungi.

Bentuk dari tiang Dhug atau Chatra ini bergerigi di masing-masing sisinya dan memiliki kemiripan dengan bentuk simbol pada pahatan di Batu Pahat Sekadau.

Bedanya pada jimat milik orang Sungkung tersebut bentuk tiang Dhug atau Chatranya membentuk empat arah, sedangkan bentuk tiang Dhug atau Chatra pada bentuk pahatan di Batu Pahat Sekadau berbentuk tegak lurus keatas sebanyak delapan tiang.

Dalam jimat itu terdapat tulisan di tengah, yang pada pahatan Batu Pahat, tulisan tersebut terdapat pada bagian atas pada tiang Dhug atau Chatra di tengah.

Bunyi dan makna aksara di Batu Pahat Sekadau berdasarkan persamaan bentuk dan bunyi dengan jimat orang Sungkung yang dibacakan dalam bentuk Pomang atau Mantra, yaitu membacanya dari tiang Dhug atau Chatra kiri ke kanan adalah sebagai berikut :

  1. Pada Tiang Dhug atau Chatra yang pertama tertulis dengan bunyi : “Whisak pavitramay atmavinay dharaḷaṁ kannukalikay arukkan penaktiyay savikkunnay”. Maknanya adalah pada masa purnama mengabdilah ke langit atas dengan memotong hewan ternak lembu yang banyak agar suci ruh dan jiwa menjadi tenang.
  2. Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kedua tertulis dengan bunyi : “Mukaylilum taleyumay senehikkappetay nallay bhaṣa satayasandhamay sukṣikkuka”. Maknanya adalah jaga bahasa yang baik dengan jujur agar disayangi di alam atas dan alam bawah.
  3. Pada Tiang Dhug atau Chatra yang ketiga tertulis dengan bunyi : “Niyamannay illayet sekharikkarut karanam raktam measam sevabhavattilay viylunnu”. Maknanya adalah jangan berkumpul tanpa aturan atau jangan berzinah karena akan merusak keturunan yang akan sering berbuat jahat.
  4. Pada Tiang Dhug atau Chatra yang keempat tertulis dengan bunyi : “Jivitavasanam pare janika acchaneaṭum am mayeaṭum anusaraṇatteate samadhana paramay adarap pular tuka vitinra tamas asthalay bahaksanay nalki sapat ommikkukay annay rajayattinay semam nelay nilkayay”. Maknanya adalah hiduplah damai dengan hormat dan patuh kepada ayah dan ibu yang telah melahirkan hingga akhir hidup mereka dan nafkahi orang tua selama tinggal bersama di rumah agar sejahtera negerimu.
  5. Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kelima tertulis dengan bunyi : “Samadhanatteatay jipikkukay whesak kannukalikay anum pennam ara jead tamasikkunnay rajyam santamakkukay”. Maknanya adalah agar hidup damai maka pada masa purnama potonglah hewan ternak lembu jantan betina satu pasang agar tentram negeri tempat tinggalmu.
  6. Pada Tiang Dhug atau Chatra yang keenam tertulis dengan bunyi : “Perakrati nalkiyay senehat behinnippik ellay manusya reyum senehikkukay”. Maknanya adalah sayangi semua makhluk manusia dengan membagi kasih sayang yang diberikan alam atas yang bercahaya.
  7. Pada Tiang Dhug atau Chatra yang ketujuh tertulis dengan bunyi : “Samadhanatteay jivikkukay whesak areagya mulatum sampan navumay ara kuṭumba bhavanattinay an kannuk alikay ara jeati kannukalikay murikkukay”. Maknanya adalah agar hidup damai pada purnama potonglah hewan ternak lembu jantan betina satu pasang agar sejahtera dan sehat semua keluarga di rumah.
  8. Pada Tiang Dhug atau Chatra yang kedelapan tertulis dengan bunyi : “Perakrati ayacca kalppanaprakaram ella verkasanna luteyum vanam paripalikkukay”. Maknanya adalah peliharalah alam hutan sesuai perintah yang diutus alam atas.

Batu Pahat Sekadau maknanya berisi delapan perintah atau aturan kehidupan dan ibadah yang berada dalam tiang Dhug atau Chatra sebagai simbol pelindung menuju ke alam atas. Salah satu perintah atau aturan kehidupan itu adalah kewajiban memotong atau berkurban lembu atau sapi pada masa bulan purnama.

Hal ini memiliki persamaan dengan Prasasti Yupa Kutai yaitu memotong lembu atau sapi seperti dilakukan Raja Mulawarmman memberikan banyak sapi kepada kaum Brahmana untuk dipotong sebagai kurban.

Berdasarkan persamaan pelaksanaan ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi yang terdapat dalam makna bunyi tulisan di Batu Pahat Sekadau dengan Prasasti Yupa Kutai, maka tulisan di Batu Pahat Sekadau ini memiliki masa yang sama atau sezaman dengan keberadaan Prasasti Yupa Kutai.

Namun jika di telaah dari aksaranya yang tidak beraturan dengan begitu banyak jenis abjad, maka kemungkinan aksara di Batu Pahat Sekadau ini lebih tua dari aksara pada Prasasti Yupa Kutai.

Selanjutnya, ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi ini juga memiliki kemiripan dengan ritual yang dilaksanakan agama asli Kalimantan yaitu agama Kaharingan. Ritual pemotongan atau berkurban lembu atau sapi dilaksanakan dalam ritual Tiwah.

Artinya bahwa Batu Pahat Sekadau ini merupakan warisan peradaban masyarakat Kalimantan pada masa dahulu karena terdapat kemiripan dengan ritual Tiwah yang menjadi tradisi dalam agama asli Kalimantan yaitu agama Kaharingan.

Adapun cara membaca aksara atau tulisan pada Batu Pahat di Sekadau ini berdasarkan cara baca jimat Orang Sungkung yang dibunyikan sebagai Pomang atau Mantra adalah dari bawah ke atas. (Red)

Baca juga :

Rosalie Hanasita Foundation Study Seni Hadrah Kalbar di Hotel Ibis Pontianak

Posted on Leave a comment

Kapok Gabung Grup Sejarah dan Budaya

Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, saat diwawancarai salah satu media nasional
Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, saat diwawancarai salah satu media nasional

Sanggau, Dekade- Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau mengaku kapok ikut gabung ke grup sejarah dan budaya. Hal itu ia sampaikan ketika diwawancarai salah satu media nasional pada hari Rabu malam, 9 April 2025.

“Saya kapok ikut bergabung dalam grup sejarah dan budaya, karena setelah bergabung, saya akan dikeluarkan oleh admin grup tersebut,” tutur Tomi.

Kepada media nasional itu, Tomi, yang juga sebagai Pimpinan Umum Majalah Dekade, menceritakan pengalaman pahitnya ketika diajak bergabung oleh sekelompok orang ke grup sejarah dan budaya.

Sebelum bulan puasa tahun 2025 ini, tepatnya hari Sabtu malam, tanggal 15 Februari 2025, datang 3 orang yang mengatasnamakan kelompok pencinta sejarah, dengan tujuan ingin bersilaturahmi. Tomi pun meyambut dengan senang hati kedatangan ketiga orang tersebut ke rumahnya. Dan mereka mengobrol berbagai hal tentang sejarah hingga lewat jam 12 malam.

Ketika akan berpamitan pulang, salah seorang dari mereka, menyampaikan kepadanya bahwa mereka akan memasukkannya ke sebuah grup Napak Tilas Sejarah, dimana mereka ini sebagai admin grup, sekaligus sebagai penggagas grup tersebut.

Karena telah mengalami pengalaman pahit ikut bergabung pada grup-grup sejenis itu sebelumnya, Tomi pun menyampaikan keberatannya untuk dimasukkan dalam grup tersebut. Karena ia khawatir nanti ada anggota grup yang tidak menyetujui ia dimasukkan dalam grup tersebut. Dikarenakan tulisan-tulisannya berbeda dengan tulisan-tulisan penulis yang lain.

Namun orang tersebut meyakinkannya bahwa grup tersebut adalah grup sharing informasi tentang sejarah. Sehingga jika terdapat ketidaksamaan informasi dengan penulis yang lain itu sudah biasa. Yang terpenting adalah berbagi informasi dan bisa saling bersilaturahmi.

“Saya sangat keberatan ketika disampaikan akan dimasukkan oleh mereka ke grup Napak Tilas Sejarah tersebut, karena saya khawatir ada anggota grup yang tidak menyetujui saya dimasukkan ke grup itu. Dikarenakan tulisan-tulisan saya berbeda dengan tulisan-tulisan yang telah ada. Sebagaimana yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, saya dimasukkan dalam grup sejenis itu, namun akhirnya saya dikeluarkan karena ada anggota grup yang tidak bisa menerima tulisan-tulisan saya itu,” demikian Tomi menjelaskan keberatannya pada orang itu.

Dikarenakan orang itu berkeras bahwa grup itu hanya sebatas sharing informasi tentang sejarah dan sebagai wadah bersilaturahmi, Tomi dengan ragu bersedia dimasukkan dalam grup tersebut.

“Saya ragu sekali untuk bersedia bergabung ke grup itu, namun karena orang itu berkeras bahwa grup itu hanya sekedar sharing informasi sejarah dan wadah bersilaturahmi, dimana saya bisa mengirimkan informasi tentang sejarah yang saya ketahui, maka saya pun bersedia dimasukkan ke grup itu… Saya katakan… Terserah Bapak-Bapak lah…,” ujar Tomi.

Tomi pun kemudian dimasukkan dalam grup Napak Tilas Sejarah itu. Namun, belum juga seminggu, tepatnya hari Rabu siang pukul 13:59, tanggal 19 Februari 2025, ia akhirnya dikeluarkan oleh admin grup tersebut dengan alasan tidak tega menjadi bahan omongan oleh orang-orang yang tidak sependapat dengan karya tulisnya.

Dalam pesan melalui WA, orang itu lebih lanjut menjelaskan bahwa daripada Tomi menjadi omongan lebih baik ia keluarkan. Karena jika Tomi masih ada di grup itu, maka ia akan terus menjadi bahan omongan.

“Bang Tomy saya keluarkan dari grup… saya tidak tega jadi bahan omongan oleh mereka yang tidak sependapat dengan karya tulis Bang Tomy. Daripada Bang Tomi jadi omongan lebih baik saya keluarkan… Kalau Bang Tomi masih ada di grup akan terus jadi bahan omongan…,” kata Tomi, sambil membacakan WA dari admin grup yang telah mengeluarkannya itu.

Tomi pun mengaku tidak kecewa telah dikeluarkan oleh admin grup itu. Meskipun yang mengajaknya bergabung dan memasukkannya ke grup itu adalah admin grup itu.

Bahkan ia mengatakan sangat bersyukur karena sudah dikeluarkan dari grup itu. Karena dari awal juga ia tidak bersedia bergabung ke grup-grup sejanis itu. Karena sebelumnya ia juga pernah dimasukkan ke sebuah grup organisasi budaya dan kejadiannya juga sama seperti itu.

“Saya sampaikan ke admin itu… Alhamdulillah, Pak. Saya bersyukur karena sudah dikeluarkan dari grup. Karena dari awal juga saya tidak bersedia bergabung ke grup-grup sejenis itu. Karena sebelumnya saya pernah juga dimasukkan ke sebuah grup organisasi budaya dan kejadiannya juga sama seperti itu,” kata Tomi.

Dari pengalaman pahitnya itu, Tomi menekankan tentang Adab. Yaitu ketika seseorang datang, kemudian memujuk, mengajak, membawa hingga memasukkan seseorang ke sebuah grup, semestinya orang itu sudah siap dengan berbagai konsekuensinya.

Jangan karena segelintir orang yang tidak sependapat dengan karya tulis seseorang, maka orang itu dengan semena-mena dikeluarkan begitu saja oleh orang yang membawanya. Semestinya orang yang membawanya itu yang harus menjelaskan kepada orang-orang yang tidak sependapat itu.

Jangan pula karena ada unsur intervensi dari orang-orang yang punya pengaruh, sehingga terlanggarlah dua norma penting dalam Adat Budaya yaitu Adab dan Silaturahmi. Karena dalam hal ini mereka lah yang telah memutukan Silaturahmi yang selalu mereka gaung-gaungkan. Jika seperti itu kenyataannya, tentunya menjadi keraguan tujuan menjalin Silaturahmi yang selalu mereka ucapkan.

Diintimidasi Oknum Kelompok Tertentu

Tahun 2019, Tomi, yang juga sebagai Pimpinan Umum Media Exclusive News, pernah mengalami intimidasi dari seorang oknum kelompok tertentu. Oknum ini tidak menyukai tulisan-tulisan yang ia post di media sosialnya. Dan oknum ini menyuruhnya untuk menghapus tulisan-tulisannya itu, jika tidak ingin terjadi sesuatu terhadap keselamatan dirinya.

Tomi pun diminta kedatangannya ke sebuah rumah budaya di kota Sanggau. Dengan penuh rasa tanggung jawab terhadap tulisan-tulisannya di media sosialnya itu, Tomi pun menuruti permintaan oknum tersebut. Maka datanglah Tomi ke sebuah rumah budaya itu menemui oknum tersebut.

Sebelum ia datang ke rumah itu, ada satu kelompok yang menghubunginya, bahwa mereka ingin mendampingi kedatangannya ke rumah itu dengan tujuan untuk melindungi keselamatannya. Namun Tomi menolaknya, karena sudah menjadi risiko dan tanggung jawabnya sebagai penulis untuk datang ke rumah itu. Dan ia tidak ingin ada pihak atau kelompok lain untuk ikut kesana.

Selain itu ada juga seseorang yang menghubunginya untuk tidak datang ke rumah itu, dengan alasan nanti akan terjadi sesuatu terhadap keselamatannya. Namun Tomi tidak menggubris perkataan orang itu. Dan tetap akan datang ke rumah itu. Karena orang ini punya kepentingan agar ia menulis tentang kesyahan silsilahnya sebagai pemangku raja budaya.

Selepas Sholat Jum’at, sebagaimana yang diminta oleh oknum tersebut, Tomi pun hadir dirumah itu. Pembicaraan berlangsung sangat panas. Tomi diminta oknum itu untuk menghapus tulisan-tulisannya di media sosialnya, dan menggantinya dengan tulisan-tulisan yang bersumber darinya.

Tomi juga diharuskan menulis tentang kesyahan seorang “Sultan” yang telah mereka nobatkan. Serta menulis tentang sejarah sebuah rumah budaya yang telah mereka ganti namanya berdasarkan narasumber dari mereka.

Jika Tomi tidak menurutinya, maka oknum itu akan memukulkan sebatang balok belian yang telah ia siapkan disamping kanan tempat duduknya itu ke kepalanya.

Meski dalam kondisi terintimidasi, Tomi menyampaikan ke oknum tersebut bahwa ia tetap akan bertahan dengan tulisan-tulisannya. Serta tidak bersedia untuk menulis tentang kesyahan seorang “Sultan” dan sejarah sebuah rumah budaya. Apa yang disampaikan oleh Tomi itu membuat oknum itu menjadi semakin marah dan situasi pun menjadi semakin panas.

Dalam pertemuan di hari Jum’at siang itu, hadir beberapa orang termasuk ketua dan beberapa anggota salah satu ormas budaya. Dimana salah satu ormas budaya ini pernah Tomi bantu ketika ormas budaya ini menggelar Pawai Obor menyambut bulan suci Ramadhan 1440 H, tanggal 4 Mei 2019.

Dipaksa Menulis Berdasarkan Kerasukan

Di tahun 2019 itu juga, selepas lebaran, Tomi pernah didatangi oleh dua orang yang memintanya untuk datang ke tempat mereka. Pada waktu itu Tomi sedang sakit yang cukup parah. Dimana akibat sakit itu ia tidak bisa berbicara dan bergerak dengan sempurna.

Entah mendapat informasi dari mana, jika saat itu Tomi sedang sakit parah, tiba-tiba saja kedua orang itu datang ke rumahnya di sore hari itu. Dan langsung saja mengatakan agar ia datang ke tempat mereka malam nanti jika ingin sembuh dari penyakitnya. Karena ia sudah ditunggu.

Meski sudah mengatakan kepada kedua orang itu bahwa ia tidak bisa datang ke tempat mereka nanti malam, karena untuk berbicara dan bangun saja ia sulit, apalagi harus pergi ke tempat mereka. Namun kedua orang itu berkeras agar Tomi datang ke tempat mereka nanti malam jika ingin sembuh dari penyakitnya.

Malamnya, dengan bersusah payah, Tomi datang ke tempat itu. Disana ia telah ditunggu oleh beberapa orang. Dan orang-orang ini mengatakan agar Tomi merubah semua tulisan-tulisannya, dan menggantinya dengan tulisan yang bersumber dari mereka, jika Tomi ingin sembuh.

Selanjutnya, salah seorang dari mereka kerasukan. Dan Tomi diharuskan menulis sejarah sesuai perkataan orang yang kerasukan itu. Namun Tomi tidak bersedia untuk menulisnya. Dan menyarankan agar orang-orang itu mencari penulis lain saja.

Ketidakbersediaan Tomi ini membuat orang-orang itu kecewa, dan kembali menegaskan jika sakitnya itu tidak akan sembuh jika tidak menuliskan sejarah berdasarkan perkataan orang yang kerasukan itu. Namun Tomi tetap juga berkeras tidak bersedia menulisnya, apa pun keadaan yang ia alami.

Beberapa hari berikutnya, datang lagi dua orang ke rumahnya. Kedua orang itu datang pada malam hari. Dan langsung saja berkata jika ia ingin sembuh maka ia harus merubah tulisan-tulisannya itu dengan tulisan yang bersumber darinya. Karena kata orang itu ia lah yang berhak menjadi raja budaya. Dan ia lebih tahu tentang sejarah Sanggau.

Tomi pun berkata kepada orang itu jika ia tidak bersedia menulisnya. Dan menyampaikan agar orang itu mencari penulis lain saja.

Orang itu terlihat kecewa pada perkataan Tomi itu. Dan mengingatkan kepada Tomi bahwa ia akan terus seperti itu, sulit berbicara dan bergerak karena tidak mau menulis berdasarkan perkataannya. Dan Tomi kembali menegaskan bahwa ia tetap bertahan dengan tulisan-tulisannya, apa pun kondisi yang ia alami.

Demikian beberapa pengalaman pahit yang Tomi ceritakan kepada salah satu media nasional yang mewawancarainya. Dan salah satu awak media itu bertanya, apakah Tomi masih ingin ikut bergabung pada grup sejarah dan budaya?

Dengan tegas Tomi mengatakan, jika ia kapok ikut bergabung dengan grup sejarah dan budaya.

“Kapok… saya kapok ikut bergabung ke grup sejarah dan budaya… mending saya ikut grup Karaoke…,” jawab Tomi sambil tertawa. (Red)

Baca juga :

14 Orang Mengaku dari Dirjen Pajak, Pimpinan Media Exclusive News dipaksa Mengklik Link