Posted on 1 Comment

AKSARA GHOLIKS

Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks. Gholiks merupakan nama salah satu kelompok suku tertua di Kalimantan.

Menurut kisahnya, Suku Gholiks ini dahulunya adalah suku terbesar di negeri Thang Raya. Mereka membangun tempat tinggal di wilayah bebatuan, pemukiman mereka menjulang tinggi dan terbuat dari batu. Ketika terjadinya letusan Gunung Niut, orang-orang Gholiks terpisah-pisah.

Untuk sekarang ini, keturunan orang-orang Gholiks banyak bermukim di wilayah Kecamatan Beduai, Kabupaten Sanggau. Di Kecamatan Beduai, tepatnya di Desa Thang Raya juga terdapat salah satu peninggalan orang-orang Gholiks yaitu sebuah gua besar yang disebut sebagai Gua Thang Raya. Gua Thang Raya ini sebagai salah satu sisa-sisa peninggalan negeri Thang Raya. Gua ini dahulunya adalah bagian dari tempat tinggal orang-orang Gholiks.

Batu Sampai di Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau merupakan sebuah batu besar alami yang mempunyai nilai sejarah yang cukup panjang bagi Kabupaten Sanggau. Menurut kisahnya, asal muasal nama Batu Sampai ini bermula dari kedatangan rombongan Dara Nante ke kawasan sungai Sekayam. Rombongan ini kemudian singgah ke Batu Sampai untuk mengobati Dara Nante yang terserang sakit demam setelah rombongan ini memotong pohon Bayam. Pahatan aksara di Batu Sampai memiliki kemiripan dengan tulisan beberapa jimat milik beberapa orang tua di Kabupaten Sanggau. Menurut beberapa orang tua itu bahwa aksara dalam jimat tersebut merupakan tulisan orang Gholiks sehingga dapat disebutkan aksara tersebut merupakan Aksara Gholiks. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks.

Posted on Leave a comment

PERMULAAN BERDIRINYA KESULTANAN PONTIANAK

Pontianak merupakan ibukota provinsi Kalimantan Barat yang menurut sejarahnya merupakan nama Kesultanan yang dibangun oleh dinasti Al-Qadrie pada tanggal 23 Oktober 1771 Masehi bersamaan 12 hari bulan Rajab tahun 1185 Hijriah. Kesultanan ini merupakan Kerajaan atau Kesultanan terakhir yang berdiri di Kalimantan barat pada masa itu.

Berdasarkan sejarah umum yang telah ada dan menjadi cerita dalam masyarakat di Pontianak tentang asal mula nama Pontianak selalu dihubungkan dengan keberadaan sosok makhluk halus yang disebut hantu Kuntilanak. Namun sejarah ini sepertinya perlu dikaji ulang oleh ahli-ahli sejarah, karena keberadaan hantu Kuntilanak itu sulit diterima secara nalar dan ilmiah, karena sulit menjelaskan wujud dan keberadaan dari hantu Kuntilanak yang termasuk makhluk yang tidak nyata itu.

Menurut sejarah secara umum, asal mula nama Pontianak dipercaya berkaitan dengan kisah Sultan Syarif Abdurrahman yang sering diganggu oleh hantu Kuntilanak ketika dia dan rombongannya menyusuri Sungai Kapuas. Menurut ceritanya, Sultan Syarif Abdurrahman terpaksa melepaskan tembakan meriam untuk mengusir hantu itu sekaligus menandakan di mana meriam itu jatuh, maka di sanalah wilayah kesultanannya didirikan. Peluru meriam itu jatuh di dekat persimpang Sungai Kapuas dan Sungai Landak, yang kini dikenal dengan nama Kampung Beting.

Sebagaimana disebutkan bahwa nama Pontianak berkaitan dengan hantu Kuntilanak, yang merupakan sosok makhluk ghaib yang sangat dikenal di Kalimantan Barat. Makhluk ghaib yang disebutkan senang mengambil anak-anak bayi yang baru dilahirkan, dan senang mengganggu kaum laki-laki ini juga disebutkan memiliki hubungan sejarah dengan permulaan berdirinya Kerajaan Pontianak. Meskipun hubungan sejarah keberadaan Kuntilanak dengan permulaan berdirinya Kerajaan Pontianak ini perlu dikaji lagi kesesuaian sejarahnya.

Karena ketika rombongan Syarif Abdurahman Alqadri akan membuka negeri, rombongannya berperang dengan hantu-hantu Kuntilanak, yaitu dengan menembakkan beberapa meriam untuk mengusir hantu-hantu Kuntilanak yang telah mengganggu perjalanan dan pekerjaan rombongannya yang akan membuka negeri. Setelah beliau berhasil mengusir hantu-hantu Kuntilanak, maka beliau kemudian membangun sebuah negeri yang kemudian disebut Pontianak.

Perang antara rombongan Syarif Abdurrahman Alqadri dengan hantu-hantu Kuntilanak ini ketika akan membuka negeri sulit diterima nalar dan dibuktikan secara ilmiah. Karena bagaimana mungkin manusia berperang dengan hantu yang sejenis dengan makhluk halus dan tidak nyata. Apalagi perang tersebut mempergunakan perlengkapan perang seperti meriam, yang sasarannya sudah pasti adalah objek-objek nyata. Sedangkan hantu Kuntilanak adalah objek yang tidak nyata yang sulit di jelaskan wujud dan keberadaannya. Jadi bagaimana peluru-peluru meriam tersebut mengenainya.

Jika merujuk pada nama negeri yaitu “Pontianak” yang berasal dari nama hantu “Kuntilanak”, maka tidak ada kecocokan sama sekali antara kedua nama tersebut, yaitu Pontianak yang jika diartikan secara sederhana berasal dari kata “Pontian” dan “Anak”, yang bermakna “Ayunan Anak” atau “Anak dalam Ayunan”, tentu tidak cocok dengan makna “Kuntilanak” yang berasal dari kata “Kuntil” dan “Anak” yang dimaknai “Kemaluan Anak”, atau menurut penjelasan yang lain disebutkan bahwa hantu Kuntilanak ini senang memakan kemaluan milik kaum laki-laki, terutama kemaluan anak laki-laki sehingga makhluk halus ini disebut Kuntilanak.

Dari uraian tersebut maka nama Pontianak berasal dari kata Kuntilanak sepertinya tidak memiliki kecocokan sama sekali. Karena dari mana datangnya kata “Pontian” sedangkan kata permulaannya adalah “Kuntil”. Dan ini tentunya perlu dilakukan kajian lebih lanjut tentang sejarah asal usul nama Pontianak ini.