Posted on Leave a comment

Kapok Gabung Grup Sejarah dan Budaya

Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, saat diwawancarai salah satu media nasional
Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, saat diwawancarai salah satu media nasional

Sanggau, Dekade- Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau mengaku kapok ikut gabung ke grup sejarah dan budaya. Hal itu ia sampaikan ketika diwawancarai salah satu media nasional pada hari Rabu malam, 9 April 2025.

“Saya kapok ikut bergabung dalam grup sejarah dan budaya, karena setelah bergabung, saya akan dikeluarkan oleh admin grup tersebut,” tutur Tomi.

Kepada media nasional itu, Tomi, yang juga sebagai Pimpinan Umum Majalah Dekade, menceritakan pengalaman pahitnya ketika diajak bergabung oleh sekelompok orang ke grup sejarah dan budaya.

Sebelum bulan puasa tahun 2025 ini, tepatnya hari Sabtu malam, tanggal 15 Februari 2025, datang 3 orang yang mengatasnamakan kelompok pencinta sejarah, dengan tujuan ingin bersilaturahmi. Tomi pun meyambut dengan senang hati kedatangan ketiga orang tersebut ke rumahnya. Dan mereka mengobrol berbagai hal tentang sejarah hingga lewat jam 12 malam.

Ketika akan berpamitan pulang, salah seorang dari mereka, menyampaikan kepadanya bahwa mereka akan memasukkannya ke sebuah grup Napak Tilas Sejarah, dimana mereka ini sebagai admin grup, sekaligus sebagai penggagas grup tersebut.

Karena telah mengalami pengalaman pahit ikut bergabung pada grup-grup sejenis itu sebelumnya, Tomi pun menyampaikan keberatannya untuk dimasukkan dalam grup tersebut. Karena ia khawatir nanti ada anggota grup yang tidak menyetujui ia dimasukkan dalam grup tersebut. Dikarenakan tulisan-tulisannya berbeda dengan tulisan-tulisan penulis yang lain.

Namun orang tersebut meyakinkannya bahwa grup tersebut adalah grup sharing informasi tentang sejarah. Sehingga jika terdapat ketidaksamaan informasi dengan penulis yang lain itu sudah biasa. Yang terpenting adalah berbagi informasi dan bisa saling bersilaturahmi.

“Saya sangat keberatan ketika disampaikan akan dimasukkan oleh mereka ke grup Napak Tilas Sejarah tersebut, karena saya khawatir ada anggota grup yang tidak menyetujui saya dimasukkan ke grup itu. Dikarenakan tulisan-tulisan saya berbeda dengan tulisan-tulisan yang telah ada. Sebagaimana yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, saya dimasukkan dalam grup sejenis itu, namun akhirnya saya dikeluarkan karena ada anggota grup yang tidak bisa menerima tulisan-tulisan saya itu,” demikian Tomi menjelaskan keberatannya pada orang itu.

Dikarenakan orang itu berkeras bahwa grup itu hanya sebatas sharing informasi tentang sejarah dan sebagai wadah bersilaturahmi, Tomi dengan ragu bersedia dimasukkan dalam grup tersebut.

“Saya ragu sekali untuk bersedia bergabung ke grup itu, namun karena orang itu berkeras bahwa grup itu hanya sekedar sharing informasi sejarah dan wadah bersilaturahmi, dimana saya bisa mengirimkan informasi tentang sejarah yang saya ketahui, maka saya pun bersedia dimasukkan ke grup itu… Saya katakan… Terserah Bapak-Bapak lah…,” ujar Tomi.

Tomi pun kemudian dimasukkan dalam grup Napak Tilas Sejarah itu. Namun, belum juga seminggu, tepatnya hari Rabu siang pukul 13:59, tanggal 19 Februari 2025, ia akhirnya dikeluarkan oleh admin grup tersebut dengan alasan tidak tega menjadi bahan omongan oleh orang-orang yang tidak sependapat dengan karya tulisnya.

Dalam pesan melalui WA, orang itu lebih lanjut menjelaskan bahwa daripada Tomi menjadi omongan lebih baik ia keluarkan. Karena jika Tomi masih ada di grup itu, maka ia akan terus menjadi bahan omongan.

“Bang Tomy saya keluarkan dari grup… saya tidak tega jadi bahan omongan oleh mereka yang tidak sependapat dengan karya tulis Bang Tomy. Daripada Bang Tomi jadi omongan lebih baik saya keluarkan… Kalau Bang Tomi masih ada di grup akan terus jadi bahan omongan…,” kata Tomi, sambil membacakan WA dari admin grup yang telah mengeluarkannya itu.

Tomi pun mengaku tidak kecewa telah dikeluarkan oleh admin grup itu. Meskipun yang mengajaknya bergabung dan memasukkannya ke grup itu adalah admin grup itu.

Bahkan ia mengatakan sangat bersyukur karena sudah dikeluarkan dari grup itu. Karena dari awal juga ia tidak bersedia bergabung ke grup-grup sejanis itu. Karena sebelumnya ia juga pernah dimasukkan ke sebuah grup organisasi budaya dan kejadiannya juga sama seperti itu.

“Saya sampaikan ke admin itu… Alhamdulillah, Pak. Saya bersyukur karena sudah dikeluarkan dari grup. Karena dari awal juga saya tidak bersedia bergabung ke grup-grup sejenis itu. Karena sebelumnya saya pernah juga dimasukkan ke sebuah grup organisasi budaya dan kejadiannya juga sama seperti itu,” kata Tomi.

Dari pengalaman pahitnya itu, Tomi menekankan tentang Adab. Yaitu ketika seseorang datang, kemudian memujuk, mengajak, membawa hingga memasukkan seseorang ke sebuah grup, semestinya orang itu sudah siap dengan berbagai konsekuensinya.

Jangan karena segelintir orang yang tidak sependapat dengan karya tulis seseorang, maka orang itu dengan semena-mena dikeluarkan begitu saja oleh orang yang membawanya. Semestinya orang yang membawanya itu yang harus menjelaskan kepada orang-orang yang tidak sependapat itu.

Jangan pula karena ada unsur intervensi dari orang-orang yang punya pengaruh, sehingga terlanggarlah dua norma penting dalam Adat Budaya yaitu Adab dan Silaturahmi. Karena dalam hal ini mereka lah yang telah memutukan Silaturahmi yang selalu mereka gaung-gaungkan. Jika seperti itu kenyataannya, tentunya menjadi keraguan tujuan menjalin Silaturahmi yang selalu mereka ucapkan.

Diintimidasi Oknum Kelompok Tertentu

Tahun 2019, Tomi, yang juga sebagai Pimpinan Umum Media Exclusive News, pernah mengalami intimidasi dari seorang oknum kelompok tertentu. Oknum ini tidak menyukai tulisan-tulisan yang ia post di media sosialnya. Dan oknum ini menyuruhnya untuk menghapus tulisan-tulisannya itu, jika tidak ingin terjadi sesuatu terhadap keselamatan dirinya.

Tomi pun diminta kedatangannya ke sebuah rumah budaya di kota Sanggau. Dengan penuh rasa tanggung jawab terhadap tulisan-tulisannya di media sosialnya itu, Tomi pun menuruti permintaan oknum tersebut. Maka datanglah Tomi ke sebuah rumah budaya itu menemui oknum tersebut.

Sebelum ia datang ke rumah itu, ada satu kelompok yang menghubunginya, bahwa mereka ingin mendampingi kedatangannya ke rumah itu dengan tujuan untuk melindungi keselamatannya. Namun Tomi menolaknya, karena sudah menjadi risiko dan tanggung jawabnya sebagai penulis untuk datang ke rumah itu. Dan ia tidak ingin ada pihak atau kelompok lain untuk ikut kesana.

Selain itu ada juga seseorang yang menghubunginya untuk tidak datang ke rumah itu, dengan alasan nanti akan terjadi sesuatu terhadap keselamatannya. Namun Tomi tidak menggubris perkataan orang itu. Dan tetap akan datang ke rumah itu. Karena orang ini punya kepentingan agar ia menulis tentang kesyahan silsilahnya sebagai pemangku raja budaya.

Selepas Sholat Jum’at, sebagaimana yang diminta oleh oknum tersebut, Tomi pun hadir dirumah itu. Pembicaraan berlangsung sangat panas. Tomi diminta oknum itu untuk menghapus tulisan-tulisannya di media sosialnya, dan menggantinya dengan tulisan-tulisan yang bersumber darinya.

Tomi juga diharuskan menulis tentang kesyahan seorang “Sultan” yang telah mereka nobatkan. Serta menulis tentang sejarah sebuah rumah budaya yang telah mereka ganti namanya berdasarkan narasumber dari mereka.

Jika Tomi tidak menurutinya, maka oknum itu akan memukulkan sebatang balok belian yang telah ia siapkan disamping kanan tempat duduknya itu ke kepalanya.

Meski dalam kondisi terintimidasi, Tomi menyampaikan ke oknum tersebut bahwa ia tetap akan bertahan dengan tulisan-tulisannya. Serta tidak bersedia untuk menulis tentang kesyahan seorang “Sultan” dan sejarah sebuah rumah budaya. Apa yang disampaikan oleh Tomi itu membuat oknum itu menjadi semakin marah dan situasi pun menjadi semakin panas.

Dalam pertemuan di hari Jum’at siang itu, hadir beberapa orang termasuk ketua dan beberapa anggota salah satu ormas budaya. Dimana salah satu ormas budaya ini pernah Tomi bantu ketika ormas budaya ini menggelar Pawai Obor menyambut bulan suci Ramadhan 1440 H, tanggal 4 Mei 2019.

Dipaksa Menulis Berdasarkan Kerasukan

Di tahun 2019 itu juga, selepas lebaran, Tomi pernah didatangi oleh dua orang yang memintanya untuk datang ke tempat mereka. Pada waktu itu Tomi sedang sakit yang cukup parah. Dimana akibat sakit itu ia tidak bisa berbicara dan bergerak dengan sempurna.

Entah mendapat informasi dari mana, jika saat itu Tomi sedang sakit parah, tiba-tiba saja kedua orang itu datang ke rumahnya di sore hari itu. Dan langsung saja mengatakan agar ia datang ke tempat mereka malam nanti jika ingin sembuh dari penyakitnya. Karena ia sudah ditunggu.

Meski sudah mengatakan kepada kedua orang itu bahwa ia tidak bisa datang ke tempat mereka nanti malam, karena untuk berbicara dan bangun saja ia sulit, apalagi harus pergi ke tempat mereka. Namun kedua orang itu berkeras agar Tomi datang ke tempat mereka nanti malam jika ingin sembuh dari penyakitnya.

Malamnya, dengan bersusah payah, Tomi datang ke tempat itu. Disana ia telah ditunggu oleh beberapa orang. Dan orang-orang ini mengatakan agar Tomi merubah semua tulisan-tulisannya, dan menggantinya dengan tulisan yang bersumber dari mereka, jika Tomi ingin sembuh.

Selanjutnya, salah seorang dari mereka kerasukan. Dan Tomi diharuskan menulis sejarah sesuai perkataan orang yang kerasukan itu. Namun Tomi tidak bersedia untuk menulisnya. Dan menyarankan agar orang-orang itu mencari penulis lain saja.

Ketidakbersediaan Tomi ini membuat orang-orang itu kecewa, dan kembali menegaskan jika sakitnya itu tidak akan sembuh jika tidak menuliskan sejarah berdasarkan perkataan orang yang kerasukan itu. Namun Tomi tetap juga berkeras tidak bersedia menulisnya, apa pun keadaan yang ia alami.

Beberapa hari berikutnya, datang lagi dua orang ke rumahnya. Kedua orang itu datang pada malam hari. Dan langsung saja berkata jika ia ingin sembuh maka ia harus merubah tulisan-tulisannya itu dengan tulisan yang bersumber darinya. Karena kata orang itu ia lah yang berhak menjadi raja budaya. Dan ia lebih tahu tentang sejarah Sanggau.

Tomi pun berkata kepada orang itu jika ia tidak bersedia menulisnya. Dan menyampaikan agar orang itu mencari penulis lain saja.

Orang itu terlihat kecewa pada perkataan Tomi itu. Dan mengingatkan kepada Tomi bahwa ia akan terus seperti itu, sulit berbicara dan bergerak karena tidak mau menulis berdasarkan perkataannya. Dan Tomi kembali menegaskan bahwa ia tetap bertahan dengan tulisan-tulisannya, apa pun kondisi yang ia alami.

Demikian beberapa pengalaman pahit yang Tomi ceritakan kepada salah satu media nasional yang mewawancarainya. Dan salah satu awak media itu bertanya, apakah Tomi masih ingin ikut bergabung pada grup sejarah dan budaya?

Dengan tegas Tomi mengatakan, jika ia kapok ikut bergabung dengan grup sejarah dan budaya.

“Kapok… saya kapok ikut bergabung ke grup sejarah dan budaya… mending saya ikut grup Karaoke…,” jawab Tomi sambil tertawa. (Red)

Baca juga :

14 Orang Mengaku dari Dirjen Pajak, Pimpinan Media Exclusive News dipaksa Mengklik Link

Posted on 2 Comments

Dasawarsa Courant Pre-Launching Buku Goesti Soeloeng Lelanang

Tomi, S.Pd.,M.E., penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan materinya di acara Pre-Launching, pada Sabtu, 1 Maret 2025
Tomi, S.Pd.,M.E., penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan materinya di acara Pre-Launching, pada Sabtu, 1 Maret 2025

 

Kubu Raya, Dasawarsa Courant – Dalam rangka peluncuran buku Goesti Soeloeng Lelanang yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulan April 2025, Media Dasawarsa Courant berkerjasama dengan CV. Tom’S Book Publishing menggelar Pre-Launching di kantor Redaksi Dasawarsa Courant di Komplek Mega Griya, Jalan Raya Kakap, Kabupaten Kubu Raya, pada Sabtu, 1 Maret 2025, pukul 16.00 – 18.00, diikuti oleh pegiat Kolektor Media Lawas (Komal) dari berbagai daerah.

Goesti Soeloeng Lelanang merupakan pejuang Kalimantan Barat berasal dari daerah Ngabang. Gusti Sulung Lelanang merupakan salah seorang yang diasingkan ke Boven Digoel karena keberaniannya melawan penjajah Hindia Belanda. Sehingga untuk mengingat perjuangannya didirikanlah monumen “Tugu Digulis”. Tugu berbentuk bambu runcing yang berjumlah 11 buah menandakan bahwa ada 11 pejuang dari Kalimantan Barat yang pernah diasingkan ke Boven Digoel.

Goesti Soeloeng Lelanang memiliki kekerabatan dengan Kerajaan Landak dari ayahnya, Pangeran Laksamana Gusti Mahmud. Sebagai keturunan bangsawan, ia dapat mengenyam pendidikan di Hollandsche Indische School (HIS) Jatinegara, Batavia. Sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar itu setara dengan Sekolah Dasar yang dapat ditempuh 6-7 tahun.

Perjuangan Gusti Sulung Lelanang berakhir ketika Jepang masuk ke Kalimantan Barat. Semua sekolah yang pernah ia rintis ditutup kecuali beberapa sekolah yang menurut Jepang boleh tetap beroperasi. Akhir hayat Gusti Sulung Lelanang terungkap pada pemberitaan Koran Borneo Shinbun 28 Juni 1944, ia bersama ribuan kaum cendikiawan di Kalimantan Barat ini dibunuh oleh Jepang.

Pada acara Pre-Launching tersebut, Tomi, S.Pd.,M.E., sebagai penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan dalam paparan materinya, bahwa buku Goesti Soeloeng Lelanang ini banyak memberikan informasi tentang kondisi dan situasi Kalimantan Barat pada masa kolonial Belanda, khususnya sejarah lahirnya pers di Kalimantan Barat.

“Buku ini mengulas tentang permulaan lahirnya pers di Kalimantan Barat. Selain itu juga terdapat beberapa tulisan Goesti Soeloeng Lelanang tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat, yang bisa menjadi rujukan untuk penulisan sejarah”, demikian Tomi menjelaskan.

Acara Pre-Launching yang bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadhan tahun 2025 itu, dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama dan Sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu dilanjutkan diskusi tentang rencana peluncuran buku Goesti Soeloeng Lelanang bulan depan. Kemudian ditutup dengan sholat Isya dan Tarawih berjamaah.

Diakhir acara, Tomi yang ditemui media ini menyampaikan harapannya agar dengan terbitnya buku Goesti Soeloeng Lelanang ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pegiat sejarah tentang Kalimantan Barat. Karena cukup banyak tulisan-tulisan yang di publikasikan pada masa itu yang menjelaskan tentang sejarah di Kalimantan Barat.

“Saya berharap, buku Goesti Soeloeng Lelanang ini bisa menjadi salah satu referensi bagi pegiat dan penulis sejarah dalam menulis sejarah tentang Kalimantan Barat. Khususnya tentang sejarah hubungan kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat. Begitu juga buku Haji Rais Abdoerracman yang telah siap untuk di Launching, yang sebelumnya telah direncanakan untuk di Launching bulan Januari 2025 lalu, tetapi terkendala karena pihak penerbitnya mendahulukan persiapan Launching media Exclusive News. Semoga saja bulan April nanti kedua buku tersebut bisa di Launching secara bersamaan”, ujar Tomi. (Red)

Posted on Leave a comment

Forum Diskusi Komal: Belanda dan Pengembalian Harta Warisan Indonesia

 

Harta Warisan Budaya Indonesia
Harta Warisan Budaya Indonesia dikembalikan Kerajaan Belanda

 

Pontianak, Dasawarsa – Forum Diskusi Pegiat Kolektor Media Lawas (Komal) mengapresiasi pengembalian 272 objek harta warisan budaya Indonesia oleh Belanda, serta menjadikannya sebagai topik utama dalam pembahasan yang diadakan pada Sabtu malam, 21 Desember 2024, di Pontianak.

Pengembalian yang diwakili oleh Menteri Kebudayaan Indonesia, Fadli Zon, bersama Duta Besar Kerajaan Belanda untuk Indonesia, Marc Gerritsen, pada Senin, 16 Desember 2024, merupakan tahap kelima dalam proses repatriasi dan sekaligus pengembalian terakhir oleh Belanda ke Indonesia pada tahun 2024.

Tomi, S.Pd., M.E., Ketua Komal, memberikan penjelasannya kepada media ini setelah kegiatan forum diskusi Komal bahwa Komal sangat mengapresiasi tindakan yang telah dilakukan oleh Kerajaan Belanda. Pengembalian harta warisan budaya Indonesia ini pun menjadi topik utama dalam forum diskusi Komal.

“Kami mengapresiasi langkah yang diambil oleh Kerajaan Belanda dalam mengembalikan harta warisan budaya Indonesia. Semoga apa yang dilakukan oleh Kerajaan Belanda ini juga dapat diikuti oleh Jepang dan De Javasche Bank,” demikian penjelasan Tomi.

Harta Warisan Budaya Indonesia untuk Sumbangan Sukarela Kemerdekaan

Pengembalian harta warisan budaya Indonesia seharusnya diikuti juga oleh Jepang dan De Javasche Bank. Pasalnya, pada masa pendudukan Jepang dan awal kemerdekaan Republik Indonesia, pernah dilakukan pengumpulan harta kerajaan di Nusantara, termasuk kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat, dengan dalih “sumbangan sukarela” untuk kemerdekaan.

“Pada tahun 1943, Jepang pernah mengumpulkan harta kerajaan di Kalimantan Barat dengan dalih ‘sumbangan sukarela’ untuk kemerdekaan. Namun, setelah harta terkumpul, para raja dan kerabatnya dibantai di Mandor pada tanggal 28 Rokugatu, atau 28 Juni 1944,” kata Tomi.

Pada masa awal kemerdekaan, harta kerajaan di Kalimantan Barat kembali dikumpulkan dengan dalih yang sama, yaitu ‘sumbangan sukarela’ untuk kemerdekaan.

Pengumpulan tersebut terjadi pada 17 Desember 1946 di Istana Kepresidenan (Gedung Agung) Yogyakarta, di mana selain harta kerajaan yang tersisa, juga dikumpulkan harta warisan milik 142 suku di Kalimantan.

Kemudian, pada tahun 1950, dilakukan kembali pengumpulan melalui De Javasche Bank di bawah kontrol Dewan Pengawas Keuangan, dengan tujuan untuk membiayai kemerdekaan RI.

“Jika menganalisis nilai harta warisan kerajaan dan 142 suku di Kalimantan yang telah dikumpulkan untuk membiayai kemerdekaan RI, seharusnya Republik Indonesia sudah menjadi negara yang mapan secara finansial. Namun, yang terjadi justru kondisi keuangan Indonesia semakin merosot. Utang semakin membengkak, dan pajak negara semakin tinggi. Lalu, ke mana harta warisan leluhur yang telah dikumpulkan itu? Seakan tidak ada gunanya,” seloroh Tomi.

Presiden Soekarno Ditipu Tukang Becak dan PSK

Peristiwa yang sangat menggemparkan terjadi saat pengumpulan harta kerajaan pada tahun 1950. Presiden Soekarno, yang berambisi mengumpulkan harta kerajaan di Nusantara, akhirnya tertipu oleh ulah seorang tukang becak dan PSK.

Mereka adalah Idris dan Markonah, yang mengaku sebagai raja dan ratu dari suku Anak Dalam di wilayah Lampung. Saat itu, Presiden Soekarno percaya karena “raja” dan “ratu” tersebut berniat menyumbangkan harta benda mereka untuk membantu merebut Irian Barat dari kekuasaan Belanda.

Niat keduanya pun mendapat sorotan dari sejumlah media massa. Bahkan, mereka diundang oleh Presiden Soekarno ke Istana Merdeka.

Penampilan Ratu Markonah sangat menarik perhatian publik. Sebagai permaisuri Raja Idris, Markonah selalu mengenakan kacamata hitam saat tampil di hadapan umum.

“Raja Idris dan Ratu Markonah diliput media massa secara besar-besaran ketika diterima oleh Presiden Soekarno di Istana pada masa itu,” kata Tomi.

Hingga akhirnya, identitas asli Raja Idris dan Ratu Markonah terungkap. Ternyata, mereka bukanlah raja dan ratu dari suku Anak Dalam.

Idris diketahui berprofesi sebagai tukang becak, sementara Markonah adalah pekerja seks komersial (PSK) asal Tegal, Jawa Tengah.

Setelah kebohongan Idris dan Markonah terungkap, Presiden Soekarno langsung menjadi sasaran kritik publik dan media massa.

“Setelah terungkap identitas asli Raja Idris dan Ratu Markonah, yang ternyata berprofesi sebagai tukang becak dan PSK, Presiden Soekarno pun menjadi sasaran kritik publik dan media massa. Salah satu istilah yang menjadi candaan pada masa itu adalah ‘Harta Warisan Bung Karno,’ yang sebenarnya merujuk pada peristiwa tertipunya Presiden Soekarno oleh tukang becak dan PSK tersebut,” ujar Tomi. (Red)

Posted on Leave a comment

Pegiat Komal Dukung Usulan Menteri Kebudayaan Revisi Sejarah Indonesia

komal dukung revisi sejarah
Tomi, pegiat Kolektor Media Lawas (Komal)

Pontianak, Dasawarsa Courant – Usulan merevisi sejarah Indonesia dari Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon, mendapat respon positif dari pegiat Kolektor Media Lawas (Komal). Hal itu disampaikan oleh ketua Komal, Tomi, S.Pd.,M.E., seusai kegiatan Forum Diskusi Kolektor Media Lawas, pada Sabtu, 21 Desember 2024 malam di Pontianak.

 

Tomi menjelaskan kepada awak media ini yang menemuinya setelah kegiatan itu, bahwa Komal mendukung sepenuhnya usulan Menteri Kebudayaan RI tersebut. Dan berharap revisi sejarah Indonesia dapat juga dilakukan terhadap sejarah daerah. Karena terlalu banyak catatan sejarah baik nasional maupun daerah yang perlu dikaji ulang.

 

“Pada dasarnya Komal sangat setuju dengan usulan Menteri Kebudayaan RI untuk merevisi sejarah Indonesia. Dan ini menjadi salah satu topik dalam forum diskusi tadi. Karena begitu banyak temuan catatan sejarah yang tidak mendekati kemungkinan faktualnya baik secara nasional maupun daerah. Dan usulan Menteri Kebudayaan ini sebagai jalan pembuka untuk bersama-sama mengkaji ulang catatan sejarah, khususnya sejarah di daerah Kalimantan Barat, “ ujar Tomi.

 

Revisi Sejarah jangan menjadi peluang terciptanya edisi sejarah versi Kabinet Merah Putih

 

Tomi menyampaikan harapannya agar revisi sejarah Indonesia itu dapat mendekati kemungkinan faktual yang terjadi dalam sejarah Indonesia. Karena masih banyak sumber-sumber sejarah yang bisa dijadikan referensi namun tidak tersentuh oleh para ahli dan penulis sejarah. Dan kesempatan yang baik ini jangan malah menjadikan peluang untuk terciptanya edisi sejarah Indonesia versi kabinet Merah Putih.

 

Sehubungan itu, Tomi memberikan contoh, misalnya meninggalnya seorang Pegawai Negeri Indonesia bernama Mahfoez yang gugur sebagai pahlawan dalam pertempuran di luar kota Jakarta tanggal 21 Oktober 1945 antara rakyat Indonesia dengan NICA. Pada masa itu nama Mahfoez menjadi berita utama dalam pemberitaan koran dengan menyebutkan bahwa Mahfoez, seorang Pegawai Negeri Indonesia, gugur sebagai pahlawan setelah perjuangannya yang membuat banyak kerugian dipihak NICA. Namun namanya tidak terdengar setelah kemerdekaan Indonesia.

 

Selanjutnya Tomi menguraikan contoh lainnya yaitu tanggal 19 September 1945, Presiden dan Wakil Presiden RI, Soekarno dan Hatta, meminta dukungan Pegawai Negeri Indonesia yang beratus ribu jumlahnya pada masa itu untuk bersama-sama mogok kerja jika Sekutu masuk ke Indonesia. Dan itu terjadi sehingga Sekutu tidak berdaya karena pekerjaan negara tidak ada yang mengerjakan. Namun lihatlah, bagaimana nasib Pegawai Negeri Indonesia setelah kemerdekaan RI hingga sekarang yang telah memberikan kontribusi terhadap terwujudnya pengakuan Sekutu pada kemerdekaan Indonesia.

 

Kemudian contoh lainnya lagi, yaitu Presiden Soekarno meminta rakyat Indonesia menyumbang untuk membiayai kemerdekaan Indonesia, termasuk pengumpulan harta kerjaan yang masih tersisa pada masa itu. Dimana pengumpulan itu pernah dilakukan sebelumnya pada masa pendudukan Jepang. Namun setelah pengumpulan pada masa Jepang itu, raja-raja dan kerabatnya di Kalimantan Barat malah dibantai di Mandor.

 

Rakyat Indonesia telah menyumbangkan hartanya kepada negara untuk membiayai kemerdekaan Indonesia, namun yang terjadi setelah kemerdekaan itu mendapatkan pengakuannya, rakyat Indonesia justru dibebani dengan berbagai macam pajak hingga sekarang. Lalu dimana hati nurani negara terhadap rakyat.

 

“Saya sebagai seorang Aparatur Sipil Negara sangat bangga, ketika mengetahui Pegawai Negeri Indonesia telah memberikan kontribusi yang begitu besar terhadap terwujudnya pengakuan pada kemerdekaan RI. Begitu juga saya bangga dengan seorang Pegawai Negeri Indonesia bernama Mahfoez, pemuda berasal dari Gresik, yang perlawanannya telah membuat banyak kerugian dipihak NICA sehingga menjadi berita utama pada koran-koran di masa itu. Namun sayangnya hal-hal ini tidak terdengar pada masa ini,” tutur Tomi.

 

Menteri Kebudayaan Usulkan update catatan Sejarah Indonesia

 

Sebagaimana diberitakan sebelumnya bahwa Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon memberikan tantangan bagi Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) untuk update catatan sejarah Indonesia. Pernyataan tersebut disampaikan oleh Prof. Dr. Agus Mulyana, M.Hum., selaku Ketua Umum Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) juga menjabat sebagai Dekan Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial (FPIPS), Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) pada Acara Seminar dan Rapat Kerja Nasional Pengurus Pusat Masyarakat Sejarawan Indonesia yang berlangsung di UPI, Kota Bandung, Sabtu 14 Desember 2024.

 

Pembaharuan catatan sejarah itu juga akan menyasar masa kolonial di kawasan Indonesia termasuk soal lamanya kawasan Indonesia dijajah. Dan revisi ini akan memberikan perspektif baru terkait masa kolonial, seperti fakta bahwa tidak semua wilayah Indonesia dijajah selama 350 tahun.

 

“Semoga saja kesempatan yang baik ini bisa memperbaiki catatan sejarah, khususnya sejarah di Kalimantan Barat. Jangan malah menjadikan peluang terciptanya edisi sejarah Indonesia versi kabinet Merah Putih,” demikian harapan Tomi menutup penjelasannya. (Red)

Posted on Leave a comment

Pimpinan KPK Siap Menindaklanjuti Arahan Presiden Prabowo Memberantas Korupsi

Ketua KPK, Setyo Budiyanto usai melaksanakan pelantikan di Istana Negara Jakarta pada hari Senin, 16 Desember 2024

JAKARTA, Tom’S Book – Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) periode 2024-2029 Setyo Budiyanto, mengungkap arahan Presiden RI Prabowo Subianto kepada para pimpinan KPK yang baru dilantik.

“Beliau sudah dengan tegas menyampaikan kegiatan-kegiatan yang berhubungan dengan APBN, pemborosan, korupsi harus diberantas dengan tegas. Itu menurut saya sudah merupakan suatu arahan kepada kami semuanya,” ujar Setyo di Istana Negara, Jakarta, Senin, 16 Desember 2024.

Setyo melanjutkan bahwa para pimpinan KPK siap menjalankan arahan Prabowo dan akan mengawal pemerintahan agar berjalan dengan baik, juga agar kegiatan pengadaan barang dan jasa berjalan sesuai ketentuan.

“Kami pedomani itu bagaimana caranya supaya kami bisa ikut mendukung program dari Bapak Presiden untuk menjaga supaya pemerintahan ini tidak banyak melakukan pemborosan, APBN bisa terjaga dengan baik, kemudian masalah pengadaan barang dan jasa betul-betul sesuai dengan ketentuan,” jelasnya.

Prabowo sejak pertama dilantik gencar mengingatkan kepada seluruh pihak agar menghindari korupsi karena pemerintahannya akan bertindak tegas terhadap pelaku korupsi.

Yang teranyar disampaikannya dalam sambutannya di acara HUT Ke-60 Partai Golkar di Sentul International Convention Center (SICC), Bogor, Jawa Barat, Kamis, 12 Desember 2024 malam.

“Jangan ada loyalitas jiwa korps yang keliru, kita melindungi anggota kita padahal dia salah,” kata Prabowo.

Prabowo yang juga Ketua Umum Partai Gerindra juga mengatakan sudah meminta seluruh kader Gerindra yang menjabat di pemerintahan agar tidak sekali-kali melakukan praktik korupsi, karena dirinya sendiri yang akan langsung menindak.

“Saya juga selalu sampaikan di kalangan partai saya, Gerindra, jangan karena kau merasa Gerindra kau berbuat menyimpang seenaknya, kau berharap Gerindra akan melindungi kau, tidak,” jelasnya.

“Ini semua saya sampaikan kepada yang menang-menang, gubernur, wali kota, bupati, kalau kau mengkhianati rakyat, maaf saya yang akan pertama menindak saudara-saudara sekalian, itu yang saya sampaikan ke partai saya,” kata Prabowo menegaskan.(*)