Posted on Leave a comment

Polres Sanggau Gelar Pasukan Operasi Aman Nusa II Karhutla Kapuas-2026

Polres Sanggau menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” di Halaman Mapolres Sanggau, Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 09.00 WIB.
Polres Sanggau menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” di Halaman Mapolres Sanggau, Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 09.00 WIB.
Polres Sanggau menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” di Halaman Mapolres Sanggau, Kamis, 27 Agustus 2026, pukul 09.00 WIB.

 

Sanggau – Polres Sanggau menggelar Apel Gelar Pasukan Operasi Kepolisian Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” dalam rangka penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) Tahun 2026. Kegiatan berlangsung di Halaman Mapolres Sanggau, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Beringin, Kecamatan Kapuas, Kabupaten Sanggau, Kamis, 27 Agustus 2026, sekitar pukul 09.00 WIB.

Apel tersebut dipimpin langsung Kapolres Sanggau AKBP Kadek Ary Mahardika, S.I.K., M.H., sebagai langkah memastikan kesiapan personel, sarana dan prasarana sekaligus menyatukan pola tindakan seluruh unsur yang terlibat dalam operasi penanggulangan Karhutla.

Sejumlah unsur Forkopimda dan instansi terkait turut hadir, di antaranya Dandim 1204/Sgu Letkol Inf Nurrachman Gindha Dradhizya, S.I.P., Danyon TP 833/Bumi Daranante Letkol Inf Riska Imron Rosadi, S.I.P., M.Han., Staf Ahli Bupati Sanggau Agus Sutanto, S.Hut., serta perwakilan Kejaksaan Negeri Sanggau dan Pengadilan Negeri Sanggau.

Turut hadir Kepala BPBD Kabupaten Sanggau Ir. Didit Richardi, M.T., Kepala Seksi Penanganan Bencana Kebakaran Damkar Sanggau Zulkifli, Komandan Regu Manggala Agni Sanggau Heriadi, serta unsur terkait lainnya. Kehadiran lintas instansi tersebut mencerminkan pentingnya penanganan Karhutla secara bersama dan terpadu.

Kekuatan pasukan yang mengikuti apel terdiri dari unsur Polres Sanggau, Yonif TP 833/Bumi Daranante, Kompi Brimob Sanggau dan personel BKO Brimob, Sat Samapta, Sat Pamobvit, Satlantas, staf Polres, Bhabinkamtibmas, Satreskrim, Satintel, Satpol PP dan Damkar, BPBD, serta gabungan Manggala Agni, Tagana, Masyarakat Peduli Api dan UPT KPH Sanggau.

Dalam amanat Kapolda Kalimantan Barat yang dibacakan Kapolres Sanggau, ditegaskan bahwa Operasi Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” merupakan penguatan langkah pencegahan, deteksi dini, pemadaman, penegakan hukum dan dukungan operasional secara terpadu.


Secara keseluruhan, operasi tersebut melibatkan 112 personel Polda Kalbar, 228 personel Polres/Ta jajaran Polda Kalbar, serta 304 personel BKO Korps Brimob dan Bareskrim. Kekuatan tersebut diperkuat dengan 110 personel Tim Edukasi Polri yang berasal dari penyidik Bareskrim Polri, perwira menengah Lemdiklat Polri, mahasiswa S2 PTIK, Serdik Setukpa dan Serdik Sespimma.

Kapolres Sanggau AKBP Kadek Ary Mahardika mengatakan, apel gelar pasukan bukan sekadar kegiatan seremonial, melainkan momentum untuk memastikan seluruh unsur benar-benar siap bergerak menghadapi potensi Karhutla. Menurutnya, kecepatan respons harus dibarengi koordinasi yang kuat agar setiap kejadian dapat ditangani sejak dini.

“Operasi ini harus menghasilkan kerja nyata di lapangan. Setiap informasi mengenai titik api harus segera diverifikasi, ditindaklanjuti dan ditangani secara terkoordinasi. Kami ingin memastikan masyarakat mendapatkan perlindungan secara cepat sekaligus mencegah api berkembang menjadi bencana yang lebih luas,” ujar AKBP Kadek Ary.

Ia menambahkan, patroli terpadu dan ground checking akan menjadi bagian penting dalam pelaksanaan operasi. Setiap titik api yang terdeteksi harus dipastikan kondisi sebenarnya di lapangan, kemudian dilakukan pemadaman, pendinginan dan pembasahan hingga benar-benar aman.

Selain aspek pemadaman, Polres Sanggau akan memperkuat komunikasi dengan masyarakat, perusahaan, pemerintah daerah, TNI, BPBD, Manggala Agni dan seluruh pemangku kepentingan. Edukasi mengenai bahaya pembakaran, larangan land clearing dengan cara membakar serta pentingnya pelaporan dini akan terus dilakukan dengan pendekatan yang humanis.

Kapolres juga menekankan pentingnya optimalisasi peran Bhabinkamtibmas sebagai penghubung langsung antara kepolisian dan masyarakat. Menurutnya, pemahaman terhadap karakteristik wilayah dan masyarakat diperlukan agar pesan pencegahan Karhutla dapat diterima secara efektif dan mendorong masyarakat menjadi bagian dari sistem deteksi dini.

Dalam pelaksanaan operasi, seluruh sarana pendukung seperti pos tanggap darurat, sumber air, kendaraan, peralatan pemadaman, drone, command center dan sistem informasi akan dimaksimalkan. Setiap personel juga diminta memahami kondisi medan serta mengutamakan keselamatan diri dan rekan saat menjalankan tugas.

“Penanganan Karhutla adalah tanggung jawab bersama. Kami mengajak masyarakat untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar, segera melaporkan jika menemukan titik api dan ikut menjaga lingkungan. Polri bersama TNI, pemerintah daerah dan seluruh stakeholder akan terus hadir untuk memberikan perlindungan dan memastikan situasi tetap aman serta kondusif,” tegasnya.

Operasi Aman Nusa II “Karhutla Kapuas-2026” di wilayah Sanggau diharapkan mampu memperkuat upaya pencegahan sekaligus mempercepat penanganan setiap kejadian Karhutla.

Melalui kesiapan personel, dukungan sarana prasarana, sinergitas lintas sektor dan partisipasi masyarakat, penanggulangan Karhutla diharapkan berjalan cepat, terpadu dan efektif sehingga dampak terhadap lingkungan, kesehatan, aktivitas masyarakat dan perekonomian dapat ditekan. (Red)

Baca juga: Pemred Metro Voice Berikan Kuliah Umum tentang Aksara Gholiks

Posted on Leave a comment

Pimpinan Media Exclusive News Ikuti Technical Meeting SAMER IDOL Season 2

Pimpinan Umum media Exclusive News, Tomi, S.Pd.,M.E., menghadiri Technical Meeting, pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, di Gedung Galeri Prestasi Kabupaten Sanggau.
Pimpinan Umum media Exclusive News, Tomi, S.Pd.,M.E., menghadiri Technical Meeting, pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, di Gedung Galeri Prestasi Kabupaten Sanggau.
Pimpinan Umum media Exclusive News, Tomi, S.Pd.,M.E., menghadiri Technical Meeting, pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, di Gedung Galeri Prestasi Kabupaten Sanggau.

SANGGAU – Guna mematangkan persiapan menjelang perhelatan ajang olah vokal bergengsi, Pimpinan Umum dan Redaksi Media Exclusive News, Tomi, S.Pd.,M.E., menghadiri acara Technical Meeting (TM) Lomba Karaoke SAMER IDOL Season 2 yang digelar pada hari Selasa, 18 Agustus 2026, di Gedung Galeri Prestasi Kabupaten Sanggau, pukul 15:00 WIB hingga selesai.

Kehadiran jajaran pimpinan pers tersebut menjadi bukti nyata dukungan insan media terhadap pengembangan bakat seni dan seni tarik suara di masyarakat. Keikutsertaan Exclusive News sekaligus memperkuat sinergi media dalam mengawal dan mensukseskan jalannya acara dari awal hingga puncak pergelaran.

Pada SAMER IDOL Season 1 di tahun 2025, Media Exclusive News juga ikut berpartisipasi sebagai peserta lomba, yang pada tahun lalu di laksanakan di Lapangan Taman Sabang Merah Kabupaten Sanggau.

“Ini tahun kedua saya mengikuti lomba karaoke ini. Tahun lalu saya membawakan lagu dangdut ciptaan saya sendiri berjudul “LENA”. Untuk tahun ini, saya akan membawakan lagu ciptaan saya sendiri lagi bergenre Pop berjudul “KASIH”, ungkap Tomi.

Dalam sesi Technical Meeting, panitia penyelenggara memaparkan sejumlah aturan main, kriteria penilaian juri, penentuan nomor urut tampil, hingga teknis penampilan bagi para peserta. Suasana TM berlangsung tertib dan interaktif, di mana para peserta dan pendamping mendapatkan penjelasan detail terkait jalannya kompetisi.

Tomi menyampaikan apresiasinya atas konsistensi penyelenggaraan SAMER IDOL yang kini telah memasuki musim kedua.

“Kami sangat mendukung ruang-ruang ekspresi positif seperti SAMER IDOL Season 2 ini. Selain menjadi ajang unjuk bakat, kegiatan ini merupakan wadah silaturahmi yang efektif. Sebagai media, Exclusive News siap memberikan pemberitaan yang objektif, menarik, dan mengedukasi sepanjang ajang ini berlangsung,” ujarnya di sela-sela kegiatan.

Lomba Karaoke SAMER IDOL Season 2 sendiri diprediksi bakal berlangsung lebih semarak dibanding musim sebelumnya. Sebanyak 41 peserta dari utusan OPD dan Umum telah mendaftarkan diri untuk memperebutkan gelar juara yang disiapkan oleh panitia.

Dengan selesainya tahapan Technical Meeting ini, seluruh peserta kini bersiap mengikuti perlombaan yang akan dilaksanakan pada hari Kamis dan Jum’at, 20 dan 21 Agustus 2026, pukul 19:30 hingga selesai, di panggung Taman Arongk Belopa Kabupaten Sanggau. (Red)

Baca juga: Tomi Menjadi Narasumber Tentang Aksara Gholiks Dalam Seminar Pelestarian Aksara Lokal

Posted on 1 Comment

Pemred Metro Voice Berikan Kuliah Umum tentang Aksara Gholiks

Pemred Metro Voice Berikan Kuliah Umum tentang Aksara Gholiks
Pimpinan Umum Redaksi Metro Voice, Tomi, S.Pd., M.E., menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum
Pimpinan Umum Redaksi Metro Voice, Tomi, S.Pd., M.E., menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum

JAKARTA — Pimpinan Umum Redaksi Metro Voice, Tomi, S.Pd., M.E., menjadi pembicara dalam acara Kuliah Umum bertajuk “Mengenal Aksara Gholiks: Bahasa, Budaya, dan Masa Depan Literasi”. Acara tersebut dihadiri peserta kuliah umum yang antusias mempelajari eksistensi dan pemanfaatan sistem penulisan unik ini.

Dalam pemaparannya, Tomi, menekankan pentingnya menjaga serta mengeksplorasi warisan literasi dan sistem simbol seperti Aksara Gholiks di tengah pesatnya era digitalisasi berita dan informasi.

Aksara Gholiks bukan sekadar susunan lambang atau simbol visual semata, melainkan refleksi identitas, sejarah, serta kedalaman pola pikir penggunanya. Di era media modern, pemahaman terhadap sistem penulisan unik seperti ini dapat memicu kreativitas baru dalam penyampaian konten dan dokumentasi sejarah,” ujar Tomi di hadapan para peserta.

Lebih lanjut, Tomi, yang juga sebagai Pimpinan Redaksi Exclusive News memaparkan bahwa Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks.

Aksara Gholiks tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada tujuh buah Prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Aksara Gholiks juga tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada Papan Turai milik warisan leluhur orang-orang Iban, dan Papan Turai ini kini tersimpan di Musium Sarawak, Malaysia. Aksara Gholiks tidak sama juga dengan bentuk dan gaya aksara Dunging milik orang-orang Iban dan aksara Gagarit milik orang-orang Kadazan Dusun.

Aksara Gholiks yang ditemukan pada pahatan batu di Batu Pahat dan Batu Sampai, meskipun berasal dari sistim tulisan yang sama dan berasal dari bahasa yang sama yaitu bahasa Sangen dan bahasa Sangiang, namun kedua pahatan tulisan tersebut memiliki gaya penulisan yang berbeda. Pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat memiliki gaya penulisan yang lebih tua dari gaya penulisan Aksara Gholiks di Batu Sampai.

Gaya penulisan pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat cenderung tidak beraturan dan lebih banyak dalam bentuk simbol-simbol yang tidak membentuk sebuah kata atau sebuah kalimat. Masing-masing abjad aksara terdapat saling berdiri sendiri dan membentuk makna sendiri. Belum memiliki tanda baca dan terdapat juga abjad-abjad aksara yang terputus antara satu dengan lainnya.

Aksara Gholiks pada pahatan batu di Batu Sampai, merupakan gaya penulisan yang jauh lebih muda dari gaya penulisan di Batu Pahat. Pahatan abjad-abjad aksara Gholiks tersebut telah membentuk sebuah kata dan sebuah kalimat yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Telah terdapat tanda baca, yaitu sebuah abjad terdapat tanda sehingga membentuk bunyi sebuah kata, sehingga sedikit mempermudah dalam melacak maksud dari aksara-aksara yang terpahat pada Batu Sampai tersebut.

Terdapat juga tanda penekanan dan tanda berhenti pada sebuah kalimat. Bentuk tulisannya cenderung beraturan dan gaya penulisan pada aksara-aksaranya juga telah membentuk suatu jenis seni dalam penulisan.

Metode penulisan Aksara Gholiks ini dari kiri ke kanan seperti metode penulisan aksara Latin.

Mendorong Riset dan Integrasi Media

Kuliah umum ini terbagi ke dalam beberapa sesi materi utama:

  1. Sejarah & Karakteristik: Mengulas akar historis, keunikan struktur gramatikal, serta estetika visual dari Aksara Gholiks.
  2. Peran Media Masa Kini: Bagaimana industri jurnalistik dan media digital dapat membantu mendokumentasikan serta merevitalisasi aksara-aksara unik agar tidak hilang ditelan zaman.
  3. Peluang Teknologi: Diskusi interaktif mengenai digitalisasi font dan pemanfaatan teknologi optical character recognition (OCR) untuk pengenalan Aksara Gholiks.

Suasana semakin interaktif saat masuk ke sesi tanya jawab. Para peserta terlihat aktif berdiskusi mengenai tantangan mempelajari Aksara Gholiks serta bagaimana media massa seperti Metro Voice mempertahankan konsistensi dalam mengangkat topik-topik kebudayaan lokal maupun sistem literasi langka.

Komitmen Melestarikan Literasi

Pihak penyelenggara menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya atas kesediaan pimpinan Metro Voice, yang juga sebagai Pemred Exclusive News ini untuk berbagi wawasan dan pengalaman industri.

Melalui kegiatan ini, diharapkan para peserta tidak hanya berfokus pada perkembangan teknologi informasi arus utama, tetapi juga memiliki kepekaan terhadap pelestarian kebudayaan, kebahasaan, dan bentuk-bentuk literasi unik seperti Aksara Gholiks. (Red)

Baca juga: Tomi Menjadi Narasumber Tentang Aksara Gholiks Dalam Seminar Pelestarian Aksara Lokal

Posted on Leave a comment

Tomi Menjadi Narasumber Tentang Aksara Gholiks Dalam Seminar Pelestarian Aksara Lokal

Tomi Menjadi Narasumber Tentang Aksara Gholiks Dalam Seminar Pelestarian Aksara Lokal
Tomi Menjadi Narasumber Tentang Aksara Gholiks Dalam Seminar Pelestarian Aksara Lokal
Tomi Menjadi Narasumber Tentang Aksara Gholiks Dalam Seminar Pelestarian Aksara Lokal

Jakarta, Tom’S Book – Panitia Penyelenggara Seminar Pelestarian Aksara Lokal sukses menggelar forum diskusi aksara lokal nusantara. Acara ini menjadi momentum untuk merumuskan langkah strategis dalam menyelamatkan aksara-aksara daerah di Indonesia dari ancaman kepunahan.

Salah satu narasumber dalam seminar tersebut, Tomi, peneliti dan penemu Aksara Gholiks dari Kabupaten Sanggau, membawakan materi mendalam mengenai keberadaan Aksara Gholiks. Dalam paparannya, Tomi menekankan bahwa aksara lokal bukan sekadar simbol tulisan sejarah, melainkan cerminan identitas, pandangan hidup, serta rekam jejak peradaban masyarakat pemiliknya.

Tomi memaparkan bahwa masyarakat yang mampu membaca dan menulis Aksara Gholiks sudah sulit ditemukan akibat tergerus arus modernisasi dan dominasi alfabet latin.

“Ketika sebuah aksara berhenti digunakan, kita tidak hanya kehilangan sistem tulisan, tetapi juga kehilangan pintu masuk untuk memahami literatur, mantra, sejarah, dan nilai-nilai kearifan yang tersimpan di dalamnya. Kita harus bergerak sebelum aksara ini benar-benar menjadi artefak mati,” tegas Tomi di hadapan para peserta seminar.

Tiga Langkah Strategis Penyelamatan Aksara Gholiks

Untuk menyelamatkan keberadaan Aksara Gholiks, Tomi merumuskan tiga pilar solusi konkret dan adaptif agar Aksara ini tidak punah oleh perubahan zaman:

  1. Digitalisasi dan Standardization Unicode: Mendorong pembuatan font standar berbasis Unicode agar Aksara Gholiks dapat diakses secara teknis di berbagai perangkat digital seperti ponsel pintar, komputer, dan platform media sosial.
  2. Integrasi Edukasi Kreatif: Mengubah metode pengajaran dari doktrinal yang kaku menjadi media interaktif melalui pembuatan komik, gim edukatif, serta konten visual di platform media sosial.
  3. Aktivasi Ruang Publik dan Komunitas: Menghidupkan penggunaan aksara dalam kehidupan sehari-hari melalui pembentukan klub baca-tulis lokal dan penerapannya pada papan nama ruang publik maupun fasilitas umum.

Tentang Aksara Gholiks

Aksara Gholiks
Aksara Gholiks

 

Aksara Gholiks merupakan sistim Tulisan Batu yang terdapat pada pahatan batu di Batu Pahat, Nanga Mahap Kabupaten Sekadau dan Batu Sampai, Tanjung Sekayam Kabupaten Sanggau. Gholiks kata dasarnya berasal dari kata Gholij yang memiliki makna Batu atau Darat, kemudian terlogatkan menjadi Gholiks.

Gholiks merupakan nama salah satu kelompok suku tertua di Kalimantan. Suku ini dahulunya adalah suku terbesar di negeri Thang Raya. Mereka membangun tempat tinggal di wilayah bebatuan, pemukiman mereka menjulang tinggi dan terbuat dari batu. Ketika terjadinya letusan Gunung Niut, orang-orang Gholiks terpisah-pisah.

Aksara Gholiks sebagai salah satu peninggalan sistim tulisan orang-orang Kalimantan pada zaman dahulunya, memiliki bentuk dan gaya aksara yang tidak sama dengan aksara-aksara yang banyak bertebaran di wilayah nusantara.

Bahkan Aksara Gholiks tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada tujuh buah Prasasti Yupa yang ditemukan di Muara Kaman Kabupaten Kutai, Kalimantan Timur. Aksara Gholiks juga tidak sama dengan bentuk dan gaya aksara pada Papan Turai milik warisan leluhur orang-orang Iban, dan Papan Turai ini kini tersimpan di Musium Sarawak, Malaysia. Aksara Gholiks tidak sama juga dengan bentuk dan gaya aksara Dunging milik orang-orang Iban dan aksara Gagarit milik orang-orang Kadazan Dusun.

Aksara Gholiks yang ditemukan pada pahatan batu di Batu Pahat dan Batu Sampai, meskipun berasal dari sistim tulisan yang sama dan berasal dari bahasa yang sama yaitu bahasa Sangen dan bahasa Sangiang, namun kedua pahatan tulisan tersebut memiliki gaya penulisan yang berbeda. Pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat memiliki gaya penulisan yang lebih tua dari gaya penulisan Aksara Gholiks di Batu Sampai.

Gaya penulisan pada pahatan Aksara Gholiks di Batu Pahat cenderung tidak beraturan dan lebih banyak dalam bentuk simbol-simbol yang tidak membentuk sebuah kata atau sebuah kalimat. Masing-masing abjad aksara terdapat saling berdiri sendiri dan membentuk makna sendiri. Belum memiliki tanda baca dan terdapat juga abjad-abjad aksara yang terputus antara satu dengan lainnya.

Aksara Gholiks pada pahatan batu di Batu Sampai, merupakan gaya penulisan yang jauh lebih muda dari gaya penulisan di Batu Pahat. Pahatan abjad-abjad aksara Gholiks tersebut telah membentuk sebuah kata dan sebuah kalimat yang saling berhubungan antara satu dengan lainnya. Telah terdapat tanda baca, yaitu sebuah abjad terdapat tanda sehingga membentuk bunyi sebuah kata, sehingga sedikit mempermudah dalam melacak maksud dari aksara-aksara yang terpahat pada Batu Sampai tersebut.

Terdapat juga tanda penekanan dan tanda berhenti pada sebuah kalimat. Bentuk tulisannya cenderung beraturan dan gaya penulisan pada aksara-aksaranya juga telah membentuk suatu jenis seni dalam penulisan.

Secara umum, Aksara Gholiks memiliki jumlah abjad yang cukup banyak karena banyaknya jenis-jenis bunyi pada bahasa Sangen atau bahasa Sangiang. Terdapat penekanan pada tenggorokan dan cenderung berbunyi sengau serta berbunyi desis sehingga cukup sulit dalam menirukannya jika tidak terbiasa atau bukan penutur aslinya.

Pada abjad-abjad tertentu yang membentuk kata-kata tertentu terdapat penyambungan antara abjad yang satu dengan abjad yang lainnya. Begitu juga tanda-tanda baca, terdapat penyambungan baik antara sama-sama tanda baca maupun penyambungan tanda baca pada abjad.

Dalam Aksara Gholiks, terdapat beberapa abjad yang berfungsi sebagai konsonan atau huruf mati sedangkan tanda baca, terdapat beberapa yang berfungsi sebagai vokal atau huruf hidup. Kemudian terdapat juga huruf konsonan nasal atau sengau.

Konsonan nasal atau sengau adalah fonem yang di realisasikan melalui bantuan rongga hidung, atau dengan kata lainnya adalah kualitas bunyi yang disampaikan melalui hidung atau yang secara khusus dibuat dengan menurunkan langit-langit lunak.

Pada beberapa bunyi dengan penutupan bagian mulut sehingga suara menegeluarkan bunyi baik secara seluruhnya atau sebagian melalui hidung, atau bunyi dasar yang diucapkan tersebut melalui kedua hidung dan mulut secara bersamaan.

Kemudian terdapat beberapa abjad yang berbunyi desis yaitu bunyi yang bersuara lebih lembut seperti suara meniup atau berbisik.

Metode penulisan Aksara Gholiks ini dari kiri ke kanan seperti metode penulisan aksara Latin.

Antusiasme Peserta dan Harapan ke Depan

Sesi diskusi berlangsung interaktif. Para peserta tampak antusias melontarkan pertanyaan terkait teknik membaca Aksara Gholiks hingga tantangan teknis dalam proses digitalisasinya.

Melalui seminar ini, kehadiran Tomi sebagai narasumber telah berhasil memperkenalkan keberadaan Aksara Gholiks dan membuka perspektif baru bahwa pelestarian aksara lokal bukan berarti menolak kemajuan zaman, melainkan berjalan berdampingan dengannya.

Sesi seminar ditutup dengan diskusi interaktif antara peserta dan narasumber. Antusiasme tinggi ditunjukkan oleh para peserta seminar yang berkomitmen mendukung digitalisasi dan pembelajaran Aksara Gholiks secara berkelanjutan. (Red)

Baca juga: Sphinx Production Rilis Album Baru

Posted on Leave a comment

Sejarah Misionaris di Kalimantan Barat

Oleh : Tomi, S.Pd.,M.E.

Sejarah Misionaris di Kalimantan Barat
Buku Sejarah Misionaris di Kalimantan Barat, tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., mengulas tentang sejarah masuknya Misionaris di Kalimantan Barat.

 

Misionaris adalah seorang pendakwah atau penyebar agama Kristen. Berdasarkan sejarahnya, Misionaris pertama kali datang ke Nusantara melalui gereja Assiria (Gereja Timur) yakni berdiri di dua tempat yaitu Pancur, sekarang wilayah dari Deli Serdang dan Barus, sekarang wilayah dari Tapanuli Tengah di Sumatra pada periode 645 M.

Berkenaan dengan sejarah Misionaris di Kalimantan Barat, menurut data-data arsip Ordo Fransiskan mencatat bahwa pada tahun 1313 Kalimantan dikunjiungi oleh Odorico de Pordone.

Ia singgah dalam rangka menuju ke Cina dari Eropa dan mampir ke Sumatra, Jawa dan Kalimantan serta sempat singgah ke ibukota Majapahit.

Selama abad 16 banyak misionaris mengunjungi Indonesia, ketika akhirnya datang lagi beberapa imam dari Kongregasi Theatin ke Kalimantan.

Berdasarkan laporan perdana Baldlchi Perugia kepada kerajaan di Roma, dalam publikasi Gazeta Domes pada bulan April dan Mei 1602 tentang Kerajaan Kapuas, tahun 1602 telah masuk misionaris ke Kalimantan.

Meskipun mengalami kegagalan karena mendapat penolakan dari penguasa dan masyarakat setempat yang senang memotong kepala orang asing.

Memotong kepala ini di perintahkan oleh Raja Kapuas bernama Raja Bariang Langit, yaitu anaknya Raja Radyan Daputra Yatra yang menolak masuknya agama baru.

Kemudian pada tahun 1640, misionaris telah sampai di Pontianak, setelah mengetahui Pontianak telah menjadi tempat perdagangan yang maju. Terlebih ketika tahu telah berdirinya sekolah orang Tiong Hoa disana. Inilah sejarah permulaan masuknya Misionaris di Kalimantan Barat.

Tahun 1847 Mgr. Vrancken mengadakan kontak pertama dengan Ordo Yesuit untuk membicarakan tentang Kalimantan. Pada masa itu Kalimanatan merupakan bagian dari provinsi Ordo Yesuit. Dalam tahun yang sama Vikaris berunding dengan G.G. Rochussen.

Kemudian dia berbicara dengan Residen Willer dari Sambas dan Residen Pontianak dengan hasil keputusan bahwa: G.G. Rochussen tidak keberatan misi mulai bekerja di Kalimantan Barat. Namun ia meminta di daerah di mana belum ada pendeta.

Menurut artikel 171 yang dikeluarkan pemerintahan Hindia Belanda melarang adanya misi ganda di suatu wilayah. Pada masa itu wilayah Borneo Selatan (Kalimantan Selatan dan Tengah saat ini) sudah dimasuki misi Protestan.

Dalam tahun 1851-1853 pastor Sanders beberapa kali melakukan survey hingga jauh di Kalimantan Barat dan Timur, untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan pembukaan misi.

Tahun 1862 Pastor van Grinten berkeliling di pelbagai daerah orang Dayak di Kalimantan Barat. Laporan mereka optimis jika Kalimantan akan menjadi daerah pekabaran Injil yang berkembang, tetapi bertahun-tahun lamanya tidak ada berita lagi.

Hal ini dikarenakan kekurangan tenaga dan waktu itu di Kalimantan Barat kurang aman. Sering terjadi pertentangan hingga pertumpahan darah antara pemerintah dengan kongsi-kongsi yang berkuasa di sana. Hingga umat Katolik Kalimantan Barat dikunjungi oleh para misionaris dari Jakarta.

Pater de Vries dalam tahun 1865 bertemu di Singkawang dengan seorang Tionghoa yang sudah dibaptis dan yang sudah mendapat lima orang katekumen. Dalam tahun-tahun berikutnya tidak ada berita lagi.

Baca juga : Tom’S Book Publishing Pre-Launching Buku Haji Rais Abdoerracman

Dalam tahun 1872 pastor Timmermans mengunjungi Kalimantan Barat disertai oleh Petrus Chang, seorang katekis dari Tiongkok dan akan bekerja di Bangka.

Antara 7 Mei dan 12 Juli 1874 Pater de Vries mengunjungi Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sambas, Singkawang dan Monterado.

Di Singkawang ada umat Katolik Tionghoa berjumlah 51 orang yang sudah dibaptis, ada yang menjadi Katolik di Singkawang, ada yang datang dari Bangka atau Malaya.

Di Pontianak masih terdapat enam orang Tionghoa yang Katolik, dan beberapa di Monterado. Di tiga kota ini Pater de Vries telah mengangkat seorang sensang atau katekis. Namun sensang di Pontianak ternyata mencandu, lalu dipecat.

Di Singkawang seorang wanita Tionghoa menyumbangkan sebidang tanah dengan 700 pohon kelapa. Sebuah gereja dibangun di sana, dengan sebuah kamar untuk pastor. Koster penjaga mendapat hasil dari pohon-pohon kelapa itu sebagai gajinya.

Karena umat Katolik sedikit demi sedikit bertambah, Pater de Vries dan Pater Staal SJ yakin bahwa harus ditempatkan seorang pastor tetap.

Dalam tahun 1880 sudah ada umat Katolik 110 orang, yang hampir semuanya diam di Singkawang.

Tahun 1884 beberapa pastor Mill Hill dari Borneo Inggris menawarkan diri untuk bekerja di Kalimantan Barat, tetapi ditolak oleh pemerintah Hindia Belanda.

Tahun 1885 G.G. van Rees mengizinkan didirikan stasi Singkawang yang meliputi Kalimantan Barat dengan 150 orang Katolik Tionghoa dan pulau Belitung 100 orang Tionghoa Katolik.

Di samping itu terdapat 100 hingga 200 orang Belanda sipil, dan sejumlah tentara yang bertugas secara temporer. Pater Staal SJ sebagai pastor Paroki yang pertama.

Maksud utama misi Singkawang ialah mendirikan basis bagi karya misi di antara orang-orang Dayak. Beberapa kali pastor Staal mengadakan perjalanan untuk meninjau situasi.

Nasihatnya adalah supaya misi dimulai di antara orang-orang Dayak yang diam di sekitar Bengkayang, khususnya di Kampung Sebalau, daerah itu tidak terlalu jauh dari Singkawang sehingga pastor Sebalau dan pastor Singkawang bisa selalu mengadakan kontak.

Baca juga : Forum Diskusi Komal: Belanda dan Pengembalian Harta Warisan Indonesia

Berikutnya Residen Gijsbers dari Pontianak menganjurkan agar Pater Staal juga mengunjungi daerah lain. Ia kemudian berlayar lima hari memudiki sungai Kapuas sampai Semitau, pusat orang-orang Dayak dari suku Rambai, Sebruang, dan Kantuk.

Walaupun orang-orang Daya di sana baik, namun karena jumlah mereka sekitar 1500 jiwa saja, dan perjalanan sulit sekali maka Pater Staal tetap di Sebalau.

Karena belum ada misionaris, misi Dayak diundur-undurkan. Sampai tahun 1888-1889 ketika ada kabar bahwa salah satu Zending Protestan mungkin akan bekerja di sana, setelah itu tentu daerah itu tertutup bagi Misi Katolik.

Karena sudah dijanjikan tambahan tenaga dari negeri Belanda, Mgr. Claessens mohon izin untuk membuka dua pos baru, yaitu di Bengkayang dan di Nanga Badan, dekat perbatasan Sarawak Inggris, tempat menjabat seorang Kontrolir.

G.G. Pijnacker Hordijk tidak keberatan, namun menganjurkan supaya Semitau dipilih karena lebih gampang dicapai, apalagi pos Kontrolir Nanga Badan juga dipindahkan ke sana.

Akhirnya Bengkayang tidak dipilih, karena terletak di daerah kuasa Sultan Sambas dimana para pejabatnya semua beragama Islam dan tidak ada jaminan mereka tidak akan menghalang karya misi di antara orang-orang Dayak yang masih memeluk agama beradat Tiwah.

Yang terpilih untuk misi baru itu ialah Pater H. Looymans, pastor di Padang (Sumatera Barat). Tanggal 29 Juli 1890 tiba di Kalimantan.

Belum lama ia di Semitau, karena  baginya Semitau bukan tempat yang ideal. Daerah ini merupakan pusat perdagangan bagi daerah di sekitarnya, tetapi penduduknya hanya terdiri dari orang-orang Tionghoa dan Melayu.

Selain itu kontak lebih mendalam dengan orang-orang Dayak hampir tidak mungkin, karena itu ia pindah ke Sejiram, di tepi sungai Sebruang.

Daerah ini cukup banyak penduduknya dan menerima Pastor dengan ramah tamah. Pada puncak bukit dibangun rumah sederhana. Dengan itu mulailah stasi kedua di Sejiram.

Sementara itu perkembangan Gereja Katolik di luar Kalimantan semakin meningkat, khususnya di Jawa dan Flores, sehingga sangat memerlukan tenaga.

Karena tidak ada tenaga baru, maka dua pastor yang berada di Sejiram dan Singkawang di tarik kembali. Ini terjadi pada tahun 1897.

Tahun-tahun selanjutnya Singkawang masih dikunjungi oleh seorang pastor dari Bangka dua kali setahun, sedangkan Sejiram tidak mendapat kunjungan sama sekali.

Pada 11 Februari 1905 wilayah misi Kalimantan ditingkatkan menjadi Prefektur Apostolik Kalimantan yang berpusat di Pontianak.

Setelah terjadi penyerahan wilayah pelayanan Borneo dari Ordo Yesuit kepada Ordo Kapusin (OFM. Cap), pada tahun 1905 terjadi titik balik perkembangan Gereja Katolik di Kalimantan Barat. (Tomi)

Baca di buku Sejarah Misionaris di Kalimantan Barat