Posted on 2 Comments

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 Mengkritik Panembahan Sanggau “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau
Surat Kabar Berani 24 Juli 1925 mengkritik Panembahan Sanggau

Pontianak, Dasawarsa Courant- Surat Kabar Berani terbitan 24 Juli 1925, dalam tulisan berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, mengkritik Panembahan Sanggau yang dinilai terlalu congkak karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Surat kabar Berani pertama kali terbit pada hari Sabtu tanggal 4 Juli 1925. Dalam terbitan pertama tersebut tercantum nama Boullie sebagai redaktur.

Alamat redaksi dan administrasi surat kabar Berani di Kampung Darat Pontianak. Surat kabar ini dicetak oleh percetakan Hoea Kiauw Pontianak. Hoea Kiauw sendiri merupakan perusahaan percetakaan pertama yang ada di Pontianak.

Harga langganan selama 3 bulan sebesar f.3,- saja. Pada edisi pertamanya surat kabar Berani memuat slogan “Barang siapa yang benci pada kita, ialah musuh kita” yang tercantum pada halanan muka.

Surat kabar Berani sebagaimana disampaikan oleh Redakturnya menerima aduan dari rakyat apabila mengalami kesewenang-wenangan dari siapapun juga dan akan melakukan pembelaan sepantasnya akan aduan dari rakyat tersebut.

Surat kabar Berani lahir untuk nenentang kesewenang-wenangan kaum kapitalis dan imperialis terhadap kaum buruh dan tani khususnya yang ada di Borneo Barat. Melalui surat kabar Berani maka segala kesengsaraan rakyat khususnya kaum buruh dapat terekspos dan melalui pemikiran-pemikiran anti kapitalis dan imperialis yang termuat dalam isi surat kabar Berani diharapkan rakyat semakin sadar akan nasibnya yang mengalami penindasan.

Suara-suara kritik sosial diutarakan melalui berita-berita artikel yang memuat tentang kesengsaraan rakyat dalam berpenghidupan, bersekolah, pengobatan bagi yang sakit dan lain-lain sebagainya.

Semua keluh kesah rakyat yang dimuat dalam surat kabar Berani akibat merajalelanya kapitalisme dan imperialisme. Dan semuanya akan sirna apabila seluruh rakyat bersatu padu dalam memperjuangkan kehidupan yang penuh persaudaraan dan persamaan diantara rakyat semuanya. Demikianlah yang diberitakan dalam surat kabar Berani.

Surat kabar Berani juga menyinggung tingkah polah penguasa lokal di Borneo Barat seperti kebijakan Panembahan Sanggau yang membeda-bedakan golongan dan derajat.

Hal ini ditentang karena dianggap sebagai tindakan semena-mena dan membeda-bedakan ciptaan Tuhan berdasarkan derajatnya.

Dalam artikel terbitan 24 Juli 1925 berjudul “Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”, surat kabar Berani mengkritik Panembahan Sanggau yang dianggap sangat sombong karena meninggikan derajatnya dari golongan orang Rumah. Sedangkan ia sendiri merupakan keturunan orang pendatang.

Berikut ini artikelnya,

“Sanggau riwajatnja soedah mati, Radjanja soenggoeh kedji”

Sanggau satoe negeri jang ketjil telah poen mewariskan kekaloetan sedjak ini hari hingga masa jang akan datang oentoek anak tjoetjoenja jang diakibatkan riwajatnja soedah mati. Hal itoe tak lain sebab akibat dari oelah radjanja jang kedji.

Kekaloetan di negeri Sanggau djadi meloeas hal akibat daripada radjanja jang tjongkak meninggikan deradjatnja iaitoe orang Goesti lebih tinggi dari golongan orang Roemah. Iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III telah poen merendahkan deradjat golongan orang roemah iaitoe orang Bangsa Kampong, orang Bangsa Sangchrah, orang Bangsa Boeroeng, orang Bangsa Sanggau jang mendjadi pemilik tanah Sanggau.

Sedjak poen tanah Sanggau telah dibangoen oleh datoek mojang golongan orang roemah jang dimoelai diboeka hoetan rimbanja iaitoe dimoelai tahoen 1302 oleh doea saudara kembar dari orang Bangsa Sangchrah iaitoe Danoem dan Dakdoedak. Iaitoe pada peristiwa mereka itoe memotong pohon Bajam jang roeboeh melintang pada saat mereka mau masoek kedalam soengai Sekajam.

Pohon itoe daunnja lebar seperti daun Bajam maka dari itoe mereka seboet itoe pohon adalah pohon Bajam. Jang telah poen beberapa malam mereka diganggoe oleh boenji kokok ajam dari pohon itoe. Dan siangnja mereka potong pohon itoe tapi adjaibnja besoknja pohon itoe oetoeh lagi. Jang akibatnja djadi sakit demamnja poetri Dara Menante. Dan bisa lah semboeh poetri malang itoe saat dibawa berobat ke goea batoe jang ada toelisan diatasnja. Iaitoe lah mereka seboet tempat batoe toelisan itoe batoe Sompaj. Maka dari itoe tempat mereka potong pohon Bajam itoe djadilah ia tanah Kantoek.

Laloe apa hal Panembahan itoe Moehammad Thahir III mentjongkakkan dirinja itoe sebagai Goesti jang lebih tinggi dari golongan orang Roemah?

Sedangkan Allah Taala poen tidak membeda-bedakan deradjat manoesia di moeka boemi. Hanja ketaqwaan dan amal ibadah sadja djadinja deradjat tertinggi dihadapan Allah Taala.

Ia itoe lah Panembahan jang tak tau diri. Jang loepa asal oesoel dirinja jang boekan ketoeroenan langsoeng dari golongan orang Roemah itoe. Jang tak lain berderadjat menantoe dari golongan orang Roemah.

Ia itoe Moehammad Thahir III anaknja Panembahan Moehammad Ali II. Daripada itoe Panembahan Moehammad Ali II itoe anaknja Ahmad Poetera. Hingga lah Ahmad Poetera itoe anaknja Moehammad Thahir II.

Ia itoe lah Moehammad Thahir II itoe anaknja dari sebelah Panembahan Mempawah iaitoe Panembahan Ibrahim Moehammad Tsafioeddin. Ia poen poela djadi menantoenja Panembahan Moehammad jang berkawin dengan Dajang Mastika.

DJadi soedah poen terang seterang-terangnja ia itoe hanjalah berderadjat menantoe di negeri Sanggau. Tapi berperilakoe tjongkak merampas hak golongan orang Roemah.

Soedah poen datoeknja itoe Moehammad Thahir II soedah kedji meninggikan deradjatnja sebagai ia orang Goesti lebih terhormat dari orang Roemah dikehadapan pemerintah Belanda di Bogor. Jang saat itoe ia nja meminta-minta djabatan padanja pemerintah Belanda hinggalah meneken Zegel pengangkatan dari pemerintah Belanda tanggal 30 April 1860 di Bogor.

Ia poela soedah menghasoet pemerintah Belanda itoe goena mengoesir ia nja Pangeran Abdoel Pata bin Soeltan Moehammad Ali itoe jang sebagai radja sjah di negeri Sanggau itoe. Perilakoenja itoe soenggoeh kedji kepada jang tak lain pamannja itoe.

Hingganja ini hari iaitoe Panembahan Moehammad Thahir III itoe berboeat kedji jang seroepa datoeknja masa lampau dengannja merendahkan golongan orang Roemah. Ia nja telah boeat itoe riwajat negeri Sanggau djadi mati. Jang akan djadi kekaloetan pada anak tjoetjoe negeri Sanggau itoe sehingga masa jang akan datang. (Red)

Baca juga :

Tom’S Book Publishing Pre-Launching Buku Haji Rais Abdoerracman

Posted on Leave a comment

Penulis Sejarah Sanggau diisukan Meninggal Dunia

Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, yang diisukan meninggal dunia
Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, yang diisukan meninggal dunia

Sanggau, Exclusive News- Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, diisukan meninggal dunia. Isu tersebut santer sejak November 2024 lalu. Dan sempat mereda setelah Tomi mengklarifikasi ketidak benaran berita itu melalui media sosialnya. Namun pertengahan puasa 2025, isu tersebut muncul lagi.

Isu meninggal dunianya Penulis sejarah Sanggau itu, yang juga sebagai Pimpinan Umum media Exclusive News, dipertanyakan oleh awak media salah satu media nasional yang mewawancarainya pada hari Rabu malam, 9 April 2025.

Awak media nasional ini sempat kebingungan untuk bertemu dengan Tomi, karena informasi yang mereka terima adalah Penulis sejarah Sanggau itu telah meninggal dunia. Sedangkan mereka juga tidak memiliki nomor kontaknya.

Syukurnya melalui website http://tomsbook.co.id, awak media ini berhasil melakukan kontak langsung kepada Penulis sejarah Sanggau itu, yang juga sebagai Pimpinan Umum Majalah Dekade.

“Kami sempat kebingungan ketika mendapat informasi jika Bang Tomy sudah meninggal dunia. Tapi informasi tersebut juga masih simpang siur. Makanya ketika kami ketemu websitenya Bang Tomy, langsung kami hubungi. Dan syukurnya, website tersebut langsung terhubung ke nomor kontak Bang Tomy,” kata awak media itu.

Kepada awak media nasional itu, Tomi menceritakan jika isu meninggal dunia dirinya itu bukan baru kali ini saja. Sudah beberapa kali terjadi.

“Isu saya sudah meninggal dunia telah beberapa kali terjadi. Yang barusan santer itu di bulan November 2024, tapi mereda setelah saya mengklarifikasi ketidak benaran berita tersebut di media sosial saya. Kemudian muncul lagi pada pertengahan puasa lalu,” ujar Tomi menjelaskan kepada awak media nasional itu.

Menurut Tomi, isu meninggal dunia dirinya itu yang paling santer terjadi pada tahun 2019. Kemudian awal puasa tahun 2024 muncul lagi. Dan pada kedua tahun itu dirinya memang sedang sakit yang cukup mengkhawatirkan. Dimana dirinya tidak bisa berbicara dan bergerak.

“Pada tahun 2019 dan awal puasa 2024, saya sedang sakit. Saya tidak bisa berbicara dan tubuh saya mengejang tidak bisa digerakkan,” kata Tomi.

Mendapat Ancaman

Kepada awak media nasional itu, Tomi menceritakan lika likunya selama menulis sejarah Sanggau. Ia pernah mendapat ancaman dari beberapa orang tak dikenal (OTK) melalui telpon, WA dan SMS.

“Tahun 2017, 2018 dan 2019, saya beberapa kali mendapat ancaman melalui telpon, SMS dan WA dari beberapa orang tak dikenal. Orang-orang ini menyuruh saya untuk menghapus semua tulisan-tulisan saya di media sosial saya. Mereka juga melarang saya untuk melanjutkan menulis tentang sejarah. Jika saya tidak menurutinya, maka saya akan dibinasakan,” ujar Tomi.

Meski telah mendapat ancaman, Tomi tetap melanjutkan aktivitasnya sebagai Penulis sejarah Sanggau. Ia tidak menggubris ancaman-ancaman tersebut.

“Saya akan tetap menulis, karena sudah menjadi hobby saya. Toh yang saya tulis juga bukan hanya tentang sejarah budaya saja. Ada tentang Novel, Agama dan Umum. Yang semuanya sudah dibukukan, dan telah ber-ISBN serta telah diterbitkan. Semoga buku-buku saya itu bermanfaat dan dapat ikut serta berkontribusi terhadap tujuan Negara Indonesia untuk mencerdaskan kehidupan Bangsa,” kata Tomi.

Sepanjang tahun 2025 ini, Tomi berencana akan menyelesaikan tulisannya sebanyak lima judul. Dan di bulan April ini, ia sedang mempersiapkan penerbitan dua judul bukunya yaitu Haji Rais Abdoerracman dan Goesti Soeloeng Lelanang.

Kedua judul buku tersebut sudah dilaksanakan Pre-Launching. Untuk Launchingnya direncanakan di Pontianak. Dan waktu pelaksanaannya belum ditentukan.

“Buku Haji Rais Abdoerracman dan Goesti Soeloeng Lelanang sedang dalam proses untuk penerbitan. Sedangkan untuk Launchingnya, masih kita koordinasikan. Yang pastinya akan dilaksanakan di hari Sabtu, Minggu atau hari libur Nasional. Karena status saya sebagai ASN sehingga pada hari-hari libur saja saya bisa menghadiri acara Launching tersebut,” kata Tomi. (Red)

Baca juga :

Kapok Gabung Grup Sejarah dan Budaya

Posted on Leave a comment

Kapok Gabung Grup Sejarah dan Budaya

Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, saat diwawancarai salah satu media nasional
Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau, saat diwawancarai salah satu media nasional

Sanggau, Dekade- Tomi, S.Pd.,M.E., Penulis sejarah Sanggau mengaku kapok ikut gabung ke grup sejarah dan budaya. Hal itu ia sampaikan ketika diwawancarai salah satu media nasional pada hari Rabu malam, 9 April 2025.

“Saya kapok ikut bergabung dalam grup sejarah dan budaya, karena setelah bergabung, saya akan dikeluarkan oleh admin grup tersebut,” tutur Tomi.

Kepada media nasional itu, Tomi, yang juga sebagai Pimpinan Umum Majalah Dekade, menceritakan pengalaman pahitnya ketika diajak bergabung oleh sekelompok orang ke grup sejarah dan budaya.

Sebelum bulan puasa tahun 2025 ini, tepatnya hari Sabtu malam, tanggal 15 Februari 2025, datang 3 orang yang mengatasnamakan kelompok pencinta sejarah, dengan tujuan ingin bersilaturahmi. Tomi pun meyambut dengan senang hati kedatangan ketiga orang tersebut ke rumahnya. Dan mereka mengobrol berbagai hal tentang sejarah hingga lewat jam 12 malam.

Ketika akan berpamitan pulang, salah seorang dari mereka, menyampaikan kepadanya bahwa mereka akan memasukkannya ke sebuah grup Napak Tilas Sejarah, dimana mereka ini sebagai admin grup, sekaligus sebagai penggagas grup tersebut.

Karena telah mengalami pengalaman pahit ikut bergabung pada grup-grup sejenis itu sebelumnya, Tomi pun menyampaikan keberatannya untuk dimasukkan dalam grup tersebut. Karena ia khawatir nanti ada anggota grup yang tidak menyetujui ia dimasukkan dalam grup tersebut. Dikarenakan tulisan-tulisannya berbeda dengan tulisan-tulisan penulis yang lain.

Namun orang tersebut meyakinkannya bahwa grup tersebut adalah grup sharing informasi tentang sejarah. Sehingga jika terdapat ketidaksamaan informasi dengan penulis yang lain itu sudah biasa. Yang terpenting adalah berbagi informasi dan bisa saling bersilaturahmi.

“Saya sangat keberatan ketika disampaikan akan dimasukkan oleh mereka ke grup Napak Tilas Sejarah tersebut, karena saya khawatir ada anggota grup yang tidak menyetujui saya dimasukkan ke grup itu. Dikarenakan tulisan-tulisan saya berbeda dengan tulisan-tulisan yang telah ada. Sebagaimana yang telah terjadi sebelum-sebelumnya, saya dimasukkan dalam grup sejenis itu, namun akhirnya saya dikeluarkan karena ada anggota grup yang tidak bisa menerima tulisan-tulisan saya itu,” demikian Tomi menjelaskan keberatannya pada orang itu.

Dikarenakan orang itu berkeras bahwa grup itu hanya sebatas sharing informasi tentang sejarah dan sebagai wadah bersilaturahmi, Tomi dengan ragu bersedia dimasukkan dalam grup tersebut.

“Saya ragu sekali untuk bersedia bergabung ke grup itu, namun karena orang itu berkeras bahwa grup itu hanya sekedar sharing informasi sejarah dan wadah bersilaturahmi, dimana saya bisa mengirimkan informasi tentang sejarah yang saya ketahui, maka saya pun bersedia dimasukkan ke grup itu… Saya katakan… Terserah Bapak-Bapak lah…,” ujar Tomi.

Tomi pun kemudian dimasukkan dalam grup Napak Tilas Sejarah itu. Namun, belum juga seminggu, tepatnya hari Rabu siang pukul 13:59, tanggal 19 Februari 2025, ia akhirnya dikeluarkan oleh admin grup tersebut dengan alasan tidak tega menjadi bahan omongan oleh orang-orang yang tidak sependapat dengan karya tulisnya.

Dalam pesan melalui WA, orang itu lebih lanjut menjelaskan bahwa daripada Tomi menjadi omongan lebih baik ia keluarkan. Karena jika Tomi masih ada di grup itu, maka ia akan terus menjadi bahan omongan.

“Bang Tomy saya keluarkan dari grup… saya tidak tega jadi bahan omongan oleh mereka yang tidak sependapat dengan karya tulis Bang Tomy. Daripada Bang Tomi jadi omongan lebih baik saya keluarkan… Kalau Bang Tomi masih ada di grup akan terus jadi bahan omongan…,” kata Tomi, sambil membacakan WA dari admin grup yang telah mengeluarkannya itu.

Tomi pun mengaku tidak kecewa telah dikeluarkan oleh admin grup itu. Meskipun yang mengajaknya bergabung dan memasukkannya ke grup itu adalah admin grup itu.

Bahkan ia mengatakan sangat bersyukur karena sudah dikeluarkan dari grup itu. Karena dari awal juga ia tidak bersedia bergabung ke grup-grup sejanis itu. Karena sebelumnya ia juga pernah dimasukkan ke sebuah grup organisasi budaya dan kejadiannya juga sama seperti itu.

“Saya sampaikan ke admin itu… Alhamdulillah, Pak. Saya bersyukur karena sudah dikeluarkan dari grup. Karena dari awal juga saya tidak bersedia bergabung ke grup-grup sejenis itu. Karena sebelumnya saya pernah juga dimasukkan ke sebuah grup organisasi budaya dan kejadiannya juga sama seperti itu,” kata Tomi.

Dari pengalaman pahitnya itu, Tomi menekankan tentang Adab. Yaitu ketika seseorang datang, kemudian memujuk, mengajak, membawa hingga memasukkan seseorang ke sebuah grup, semestinya orang itu sudah siap dengan berbagai konsekuensinya.

Jangan karena segelintir orang yang tidak sependapat dengan karya tulis seseorang, maka orang itu dengan semena-mena dikeluarkan begitu saja oleh orang yang membawanya. Semestinya orang yang membawanya itu yang harus menjelaskan kepada orang-orang yang tidak sependapat itu.

Jangan pula karena ada unsur intervensi dari orang-orang yang punya pengaruh, sehingga terlanggarlah dua norma penting dalam Adat Budaya yaitu Adab dan Silaturahmi. Karena dalam hal ini mereka lah yang telah memutukan Silaturahmi yang selalu mereka gaung-gaungkan. Jika seperti itu kenyataannya, tentunya menjadi keraguan tujuan menjalin Silaturahmi yang selalu mereka ucapkan.

Diintimidasi Oknum Kelompok Tertentu

Tahun 2019, Tomi, yang juga sebagai Pimpinan Umum Media Exclusive News, pernah mengalami intimidasi dari seorang oknum kelompok tertentu. Oknum ini tidak menyukai tulisan-tulisan yang ia post di media sosialnya. Dan oknum ini menyuruhnya untuk menghapus tulisan-tulisannya itu, jika tidak ingin terjadi sesuatu terhadap keselamatan dirinya.

Tomi pun diminta kedatangannya ke sebuah rumah budaya di kota Sanggau. Dengan penuh rasa tanggung jawab terhadap tulisan-tulisannya di media sosialnya itu, Tomi pun menuruti permintaan oknum tersebut. Maka datanglah Tomi ke sebuah rumah budaya itu menemui oknum tersebut.

Sebelum ia datang ke rumah itu, ada satu kelompok yang menghubunginya, bahwa mereka ingin mendampingi kedatangannya ke rumah itu dengan tujuan untuk melindungi keselamatannya. Namun Tomi menolaknya, karena sudah menjadi risiko dan tanggung jawabnya sebagai penulis untuk datang ke rumah itu. Dan ia tidak ingin ada pihak atau kelompok lain untuk ikut kesana.

Selain itu ada juga seseorang yang menghubunginya untuk tidak datang ke rumah itu, dengan alasan nanti akan terjadi sesuatu terhadap keselamatannya. Namun Tomi tidak menggubris perkataan orang itu. Dan tetap akan datang ke rumah itu. Karena orang ini punya kepentingan agar ia menulis tentang kesyahan silsilahnya sebagai pemangku raja budaya.

Selepas Sholat Jum’at, sebagaimana yang diminta oleh oknum tersebut, Tomi pun hadir dirumah itu. Pembicaraan berlangsung sangat panas. Tomi diminta oknum itu untuk menghapus tulisan-tulisannya di media sosialnya, dan menggantinya dengan tulisan-tulisan yang bersumber darinya.

Tomi juga diharuskan menulis tentang kesyahan seorang “Sultan” yang telah mereka nobatkan. Serta menulis tentang sejarah sebuah rumah budaya yang telah mereka ganti namanya berdasarkan narasumber dari mereka.

Jika Tomi tidak menurutinya, maka oknum itu akan memukulkan sebatang balok belian yang telah ia siapkan disamping kanan tempat duduknya itu ke kepalanya.

Meski dalam kondisi terintimidasi, Tomi menyampaikan ke oknum tersebut bahwa ia tetap akan bertahan dengan tulisan-tulisannya. Serta tidak bersedia untuk menulis tentang kesyahan seorang “Sultan” dan sejarah sebuah rumah budaya. Apa yang disampaikan oleh Tomi itu membuat oknum itu menjadi semakin marah dan situasi pun menjadi semakin panas.

Dalam pertemuan di hari Jum’at siang itu, hadir beberapa orang termasuk ketua dan beberapa anggota salah satu ormas budaya. Dimana salah satu ormas budaya ini pernah Tomi bantu ketika ormas budaya ini menggelar Pawai Obor menyambut bulan suci Ramadhan 1440 H, tanggal 4 Mei 2019.

Dipaksa Menulis Berdasarkan Kerasukan

Di tahun 2019 itu juga, selepas lebaran, Tomi pernah didatangi oleh dua orang yang memintanya untuk datang ke tempat mereka. Pada waktu itu Tomi sedang sakit yang cukup parah. Dimana akibat sakit itu ia tidak bisa berbicara dan bergerak dengan sempurna.

Entah mendapat informasi dari mana, jika saat itu Tomi sedang sakit parah, tiba-tiba saja kedua orang itu datang ke rumahnya di sore hari itu. Dan langsung saja mengatakan agar ia datang ke tempat mereka malam nanti jika ingin sembuh dari penyakitnya. Karena ia sudah ditunggu.

Meski sudah mengatakan kepada kedua orang itu bahwa ia tidak bisa datang ke tempat mereka nanti malam, karena untuk berbicara dan bangun saja ia sulit, apalagi harus pergi ke tempat mereka. Namun kedua orang itu berkeras agar Tomi datang ke tempat mereka nanti malam jika ingin sembuh dari penyakitnya.

Malamnya, dengan bersusah payah, Tomi datang ke tempat itu. Disana ia telah ditunggu oleh beberapa orang. Dan orang-orang ini mengatakan agar Tomi merubah semua tulisan-tulisannya, dan menggantinya dengan tulisan yang bersumber dari mereka, jika Tomi ingin sembuh.

Selanjutnya, salah seorang dari mereka kerasukan. Dan Tomi diharuskan menulis sejarah sesuai perkataan orang yang kerasukan itu. Namun Tomi tidak bersedia untuk menulisnya. Dan menyarankan agar orang-orang itu mencari penulis lain saja.

Ketidakbersediaan Tomi ini membuat orang-orang itu kecewa, dan kembali menegaskan jika sakitnya itu tidak akan sembuh jika tidak menuliskan sejarah berdasarkan perkataan orang yang kerasukan itu. Namun Tomi tetap juga berkeras tidak bersedia menulisnya, apa pun keadaan yang ia alami.

Beberapa hari berikutnya, datang lagi dua orang ke rumahnya. Kedua orang itu datang pada malam hari. Dan langsung saja berkata jika ia ingin sembuh maka ia harus merubah tulisan-tulisannya itu dengan tulisan yang bersumber darinya. Karena kata orang itu ia lah yang berhak menjadi raja budaya. Dan ia lebih tahu tentang sejarah Sanggau.

Tomi pun berkata kepada orang itu jika ia tidak bersedia menulisnya. Dan menyampaikan agar orang itu mencari penulis lain saja.

Orang itu terlihat kecewa pada perkataan Tomi itu. Dan mengingatkan kepada Tomi bahwa ia akan terus seperti itu, sulit berbicara dan bergerak karena tidak mau menulis berdasarkan perkataannya. Dan Tomi kembali menegaskan bahwa ia tetap bertahan dengan tulisan-tulisannya, apa pun kondisi yang ia alami.

Demikian beberapa pengalaman pahit yang Tomi ceritakan kepada salah satu media nasional yang mewawancarainya. Dan salah satu awak media itu bertanya, apakah Tomi masih ingin ikut bergabung pada grup sejarah dan budaya?

Dengan tegas Tomi mengatakan, jika ia kapok ikut bergabung dengan grup sejarah dan budaya.

“Kapok… saya kapok ikut bergabung ke grup sejarah dan budaya… mending saya ikut grup Karaoke…,” jawab Tomi sambil tertawa. (Red)

Baca juga :

14 Orang Mengaku dari Dirjen Pajak, Pimpinan Media Exclusive News dipaksa Mengklik Link

Posted on 2 Comments

Dasawarsa Courant Pre-Launching Buku Goesti Soeloeng Lelanang

Tomi, S.Pd.,M.E., penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan materinya di acara Pre-Launching, pada Sabtu, 1 Maret 2025
Tomi, S.Pd.,M.E., penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan materinya di acara Pre-Launching, pada Sabtu, 1 Maret 2025

 

Kubu Raya, Dasawarsa Courant – Dalam rangka peluncuran buku Goesti Soeloeng Lelanang yang akan dilaksanakan pada pertengahan bulan April 2025, Media Dasawarsa Courant berkerjasama dengan CV. Tom’S Book Publishing menggelar Pre-Launching di kantor Redaksi Dasawarsa Courant di Komplek Mega Griya, Jalan Raya Kakap, Kabupaten Kubu Raya, pada Sabtu, 1 Maret 2025, pukul 16.00 – 18.00, diikuti oleh pegiat Kolektor Media Lawas (Komal) dari berbagai daerah.

Goesti Soeloeng Lelanang merupakan pejuang Kalimantan Barat berasal dari daerah Ngabang. Gusti Sulung Lelanang merupakan salah seorang yang diasingkan ke Boven Digoel karena keberaniannya melawan penjajah Hindia Belanda. Sehingga untuk mengingat perjuangannya didirikanlah monumen “Tugu Digulis”. Tugu berbentuk bambu runcing yang berjumlah 11 buah menandakan bahwa ada 11 pejuang dari Kalimantan Barat yang pernah diasingkan ke Boven Digoel.

Goesti Soeloeng Lelanang memiliki kekerabatan dengan Kerajaan Landak dari ayahnya, Pangeran Laksamana Gusti Mahmud. Sebagai keturunan bangsawan, ia dapat mengenyam pendidikan di Hollandsche Indische School (HIS) Jatinegara, Batavia. Sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar itu setara dengan Sekolah Dasar yang dapat ditempuh 6-7 tahun.

Perjuangan Gusti Sulung Lelanang berakhir ketika Jepang masuk ke Kalimantan Barat. Semua sekolah yang pernah ia rintis ditutup kecuali beberapa sekolah yang menurut Jepang boleh tetap beroperasi. Akhir hayat Gusti Sulung Lelanang terungkap pada pemberitaan Koran Borneo Shinbun 28 Juni 1944, ia bersama ribuan kaum cendikiawan di Kalimantan Barat ini dibunuh oleh Jepang.

Pada acara Pre-Launching tersebut, Tomi, S.Pd.,M.E., sebagai penulis buku Goesti Soeloeng Lelanang menyampaikan dalam paparan materinya, bahwa buku Goesti Soeloeng Lelanang ini banyak memberikan informasi tentang kondisi dan situasi Kalimantan Barat pada masa kolonial Belanda, khususnya sejarah lahirnya pers di Kalimantan Barat.

“Buku ini mengulas tentang permulaan lahirnya pers di Kalimantan Barat. Selain itu juga terdapat beberapa tulisan Goesti Soeloeng Lelanang tentang sejarah kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat, yang bisa menjadi rujukan untuk penulisan sejarah”, demikian Tomi menjelaskan.

Acara Pre-Launching yang bertepatan dengan hari pertama puasa Ramadhan tahun 2025 itu, dilanjutkan dengan acara buka puasa bersama dan Sholat Maghrib berjamaah. Setelah itu dilanjutkan diskusi tentang rencana peluncuran buku Goesti Soeloeng Lelanang bulan depan. Kemudian ditutup dengan sholat Isya dan Tarawih berjamaah.

Diakhir acara, Tomi yang ditemui media ini menyampaikan harapannya agar dengan terbitnya buku Goesti Soeloeng Lelanang ini dapat bermanfaat bagi masyarakat, khususnya pegiat sejarah tentang Kalimantan Barat. Karena cukup banyak tulisan-tulisan yang di publikasikan pada masa itu yang menjelaskan tentang sejarah di Kalimantan Barat.

“Saya berharap, buku Goesti Soeloeng Lelanang ini bisa menjadi salah satu referensi bagi pegiat dan penulis sejarah dalam menulis sejarah tentang Kalimantan Barat. Khususnya tentang sejarah hubungan kerajaan-kerajaan di Kalimantan Barat. Begitu juga buku Haji Rais Abdoerracman yang telah siap untuk di Launching, yang sebelumnya telah direncanakan untuk di Launching bulan Januari 2025 lalu, tetapi terkendala karena pihak penerbitnya mendahulukan persiapan Launching media Exclusive News. Semoga saja bulan April nanti kedua buku tersebut bisa di Launching secara bersamaan”, ujar Tomi. (Red)

Posted on Leave a comment

Sejarah Misionaris di Kalimantan Barat

Oleh : Tomi, S.Pd.,M.E.

Sejarah Misionaris di Kalimantan Barat
Buku Sejarah Misionaris di Kalimantan Barat, tulisan Tomi, S.Pd.,M.E., mengulas tentang sejarah masuknya Misionaris di Kalimantan Barat.

 

Misionaris adalah seorang pendakwah atau penyebar agama Kristen. Berdasarkan sejarahnya, Misionaris pertama kali datang ke Nusantara melalui gereja Assiria (Gereja Timur) yakni berdiri di dua tempat yaitu Pancur, sekarang wilayah dari Deli Serdang dan Barus, sekarang wilayah dari Tapanuli Tengah di Sumatra pada periode 645 M.

Berkenaan dengan sejarah Misionaris di Kalimantan Barat, menurut data-data arsip Ordo Fransiskan mencatat bahwa pada tahun 1313 Kalimantan dikunjiungi oleh Odorico de Pordone.

Ia singgah dalam rangka menuju ke Cina dari Eropa dan mampir ke Sumatra, Jawa dan Kalimantan serta sempat singgah ke ibukota Majapahit.

Selama abad 16 banyak misionaris mengunjungi Indonesia, ketika akhirnya datang lagi beberapa imam dari Kongregasi Theatin ke Kalimantan.

Berdasarkan laporan perdana Baldlchi Perugia kepada kerajaan di Roma, dalam publikasi Gazeta Domes pada bulan April dan Mei 1602 tentang Kerajaan Kapuas, tahun 1602 telah masuk misionaris ke Kalimantan.

Meskipun mengalami kegagalan karena mendapat penolakan dari penguasa dan masyarakat setempat yang senang memotong kepala orang asing.

Memotong kepala ini di perintahkan oleh Raja Kapuas bernama Raja Bariang Langit, yaitu anaknya Raja Radyan Daputra Yatra yang menolak masuknya agama baru.

Kemudian pada tahun 1640, misionaris telah sampai di Pontianak, setelah mengetahui Pontianak telah menjadi tempat perdagangan yang maju. Terlebih ketika tahu telah berdirinya sekolah orang Tiong Hoa disana. Inilah sejarah permulaan masuknya Misionaris di Kalimantan Barat.

Tahun 1847 Mgr. Vrancken mengadakan kontak pertama dengan Ordo Yesuit untuk membicarakan tentang Kalimantan. Pada masa itu Kalimanatan merupakan bagian dari provinsi Ordo Yesuit. Dalam tahun yang sama Vikaris berunding dengan G.G. Rochussen.

Kemudian dia berbicara dengan Residen Willer dari Sambas dan Residen Pontianak dengan hasil keputusan bahwa: G.G. Rochussen tidak keberatan misi mulai bekerja di Kalimantan Barat. Namun ia meminta di daerah di mana belum ada pendeta.

Menurut artikel 171 yang dikeluarkan pemerintahan Hindia Belanda melarang adanya misi ganda di suatu wilayah. Pada masa itu wilayah Borneo Selatan (Kalimantan Selatan dan Tengah saat ini) sudah dimasuki misi Protestan.

Dalam tahun 1851-1853 pastor Sanders beberapa kali melakukan survey hingga jauh di Kalimantan Barat dan Timur, untuk menyelidiki kemungkinan-kemungkinan pembukaan misi.

Tahun 1862 Pastor van Grinten berkeliling di pelbagai daerah orang Dayak di Kalimantan Barat. Laporan mereka optimis jika Kalimantan akan menjadi daerah pekabaran Injil yang berkembang, tetapi bertahun-tahun lamanya tidak ada berita lagi.

Hal ini dikarenakan kekurangan tenaga dan waktu itu di Kalimantan Barat kurang aman. Sering terjadi pertentangan hingga pertumpahan darah antara pemerintah dengan kongsi-kongsi yang berkuasa di sana. Hingga umat Katolik Kalimantan Barat dikunjungi oleh para misionaris dari Jakarta.

Pater de Vries dalam tahun 1865 bertemu di Singkawang dengan seorang Tionghoa yang sudah dibaptis dan yang sudah mendapat lima orang katekumen. Dalam tahun-tahun berikutnya tidak ada berita lagi.

Baca juga : Tom’S Book Publishing Pre-Launching Buku Haji Rais Abdoerracman

Dalam tahun 1872 pastor Timmermans mengunjungi Kalimantan Barat disertai oleh Petrus Chang, seorang katekis dari Tiongkok dan akan bekerja di Bangka.

Antara 7 Mei dan 12 Juli 1874 Pater de Vries mengunjungi Pontianak, Sintang, Bengkayang, Sambas, Singkawang dan Monterado.

Di Singkawang ada umat Katolik Tionghoa berjumlah 51 orang yang sudah dibaptis, ada yang menjadi Katolik di Singkawang, ada yang datang dari Bangka atau Malaya.

Di Pontianak masih terdapat enam orang Tionghoa yang Katolik, dan beberapa di Monterado. Di tiga kota ini Pater de Vries telah mengangkat seorang sensang atau katekis. Namun sensang di Pontianak ternyata mencandu, lalu dipecat.

Di Singkawang seorang wanita Tionghoa menyumbangkan sebidang tanah dengan 700 pohon kelapa. Sebuah gereja dibangun di sana, dengan sebuah kamar untuk pastor. Koster penjaga mendapat hasil dari pohon-pohon kelapa itu sebagai gajinya.

Karena umat Katolik sedikit demi sedikit bertambah, Pater de Vries dan Pater Staal SJ yakin bahwa harus ditempatkan seorang pastor tetap.

Dalam tahun 1880 sudah ada umat Katolik 110 orang, yang hampir semuanya diam di Singkawang.

Tahun 1884 beberapa pastor Mill Hill dari Borneo Inggris menawarkan diri untuk bekerja di Kalimantan Barat, tetapi ditolak oleh pemerintah Hindia Belanda.

Tahun 1885 G.G. van Rees mengizinkan didirikan stasi Singkawang yang meliputi Kalimantan Barat dengan 150 orang Katolik Tionghoa dan pulau Belitung 100 orang Tionghoa Katolik.

Di samping itu terdapat 100 hingga 200 orang Belanda sipil, dan sejumlah tentara yang bertugas secara temporer. Pater Staal SJ sebagai pastor Paroki yang pertama.

Maksud utama misi Singkawang ialah mendirikan basis bagi karya misi di antara orang-orang Dayak. Beberapa kali pastor Staal mengadakan perjalanan untuk meninjau situasi.

Nasihatnya adalah supaya misi dimulai di antara orang-orang Dayak yang diam di sekitar Bengkayang, khususnya di Kampung Sebalau, daerah itu tidak terlalu jauh dari Singkawang sehingga pastor Sebalau dan pastor Singkawang bisa selalu mengadakan kontak.

Baca juga : Forum Diskusi Komal: Belanda dan Pengembalian Harta Warisan Indonesia

Berikutnya Residen Gijsbers dari Pontianak menganjurkan agar Pater Staal juga mengunjungi daerah lain. Ia kemudian berlayar lima hari memudiki sungai Kapuas sampai Semitau, pusat orang-orang Dayak dari suku Rambai, Sebruang, dan Kantuk.

Walaupun orang-orang Daya di sana baik, namun karena jumlah mereka sekitar 1500 jiwa saja, dan perjalanan sulit sekali maka Pater Staal tetap di Sebalau.

Karena belum ada misionaris, misi Dayak diundur-undurkan. Sampai tahun 1888-1889 ketika ada kabar bahwa salah satu Zending Protestan mungkin akan bekerja di sana, setelah itu tentu daerah itu tertutup bagi Misi Katolik.

Karena sudah dijanjikan tambahan tenaga dari negeri Belanda, Mgr. Claessens mohon izin untuk membuka dua pos baru, yaitu di Bengkayang dan di Nanga Badan, dekat perbatasan Sarawak Inggris, tempat menjabat seorang Kontrolir.

G.G. Pijnacker Hordijk tidak keberatan, namun menganjurkan supaya Semitau dipilih karena lebih gampang dicapai, apalagi pos Kontrolir Nanga Badan juga dipindahkan ke sana.

Akhirnya Bengkayang tidak dipilih, karena terletak di daerah kuasa Sultan Sambas dimana para pejabatnya semua beragama Islam dan tidak ada jaminan mereka tidak akan menghalang karya misi di antara orang-orang Dayak yang masih memeluk agama beradat Tiwah.

Yang terpilih untuk misi baru itu ialah Pater H. Looymans, pastor di Padang (Sumatera Barat). Tanggal 29 Juli 1890 tiba di Kalimantan.

Belum lama ia di Semitau, karena  baginya Semitau bukan tempat yang ideal. Daerah ini merupakan pusat perdagangan bagi daerah di sekitarnya, tetapi penduduknya hanya terdiri dari orang-orang Tionghoa dan Melayu.

Selain itu kontak lebih mendalam dengan orang-orang Dayak hampir tidak mungkin, karena itu ia pindah ke Sejiram, di tepi sungai Sebruang.

Daerah ini cukup banyak penduduknya dan menerima Pastor dengan ramah tamah. Pada puncak bukit dibangun rumah sederhana. Dengan itu mulailah stasi kedua di Sejiram.

Sementara itu perkembangan Gereja Katolik di luar Kalimantan semakin meningkat, khususnya di Jawa dan Flores, sehingga sangat memerlukan tenaga.

Karena tidak ada tenaga baru, maka dua pastor yang berada di Sejiram dan Singkawang di tarik kembali. Ini terjadi pada tahun 1897.

Tahun-tahun selanjutnya Singkawang masih dikunjungi oleh seorang pastor dari Bangka dua kali setahun, sedangkan Sejiram tidak mendapat kunjungan sama sekali.

Pada 11 Februari 1905 wilayah misi Kalimantan ditingkatkan menjadi Prefektur Apostolik Kalimantan yang berpusat di Pontianak.

Setelah terjadi penyerahan wilayah pelayanan Borneo dari Ordo Yesuit kepada Ordo Kapusin (OFM. Cap), pada tahun 1905 terjadi titik balik perkembangan Gereja Katolik di Kalimantan Barat. (Tomi)

Baca di buku Sejarah Misionaris di Kalimantan Barat