Posted on Leave a comment

Pelatih Fisik Persatuan Gulat Indonesia (PGSI) Mengadu ke Ketum PPWI, Terkait Bonus Pelatih yang Tidak Dibayar

DEKADE, Jakarta – Pelatih Fisik Persatuan Gulat Indonesia (PGSI) Achmad Syaifullah mengadu ke Ketua Umum Persatuan Pewarta Warga Indonesia (Ketum PPWI) di Jakarta pada, Kamis 21 November 2024. Pengaduan tersebut terkait bonus pelatih yang tidak dibayar pada pertandingan Sea Games Tahun 2023 lalu.

Dalam keterangannya Achmad Syaifullah yang kerap di panggil Coach Ipul sebagai pelatih fisik menceritakan kepada Ketum PPWI Bapak Wilson Lalengke bahwa dalam pertandingan Sea Games tahun 2023, atlet cabang olahraga gulat yang ia latih berhasil meraih medali emas sebanyak 6 buah, medali perak sebanyak 6 buah, dan medali perunggu sebanyak 2 buah. “Saya mendapat data informasi tersebut dari Website: DataIndonesia.id bahwa setiap perolehan medali emas untuk pelatih perorangan sebesar Rp.210.000.000 (dua ratus sepuluh juta rupiah) untuk medali perak sebesar Rp.126.000.000, (seratus dua puluh enam juta rupiah) dan untuk perolehan perunggu diberikan sebesar Rp.63.000.000 (enam puluh tiga juta rupiah),” tuturnya.

Selanjutnya, Pelatih Fisik PGSI Achmad Syaifullah S.Pd yang kerap di panggil Coach Ipul menjelaskan bahwa ia tidak menerima bagian dari bonus tersebut, sementara di dalam Surat Keputusan Nomor 03 Tahun 2023 yang dikeluarkan oleh Persatuan Gulat Seluruh Indonesia pada 09 Februari 2023 yang ditandatangani Sekjen PGSI Gusti Randa, sangat jelas bahwa Achmad Syaifullah S.Pd sebagai pelatih fisik. Namun dalam kenyataannya yang dialami saat ini, bahwa memang benar Ahmad Syaifullah sampai detik ini belum mendapatkan haknya selaku pelatih fisik di PGSI.

“Saya tetap akan menuntut hak saya sebagai pelatih fisik (coach) PGSI sampai kapapun dan saya akan menempuh jalur sesuai dengan rencana, dan saya memintak bantuan pendampingan kepada Ketua Umum Dewan Pengurus Nasional Persatuan Pewarta Warga Indonesia (Ketum DPN PPWI) karena sudah setahun lebih belum ada kejelasannya,” jelasnya.

Lebih lanjut, Ahmad Syaifullah merasa senang hati bisa bertemu langsung dengan Ketum DPN PPWI Bapak Wilson Lalengke dan tidak menyangka dalam penyambutannya disambut hangat dan sangat ramah dalam penerimaan terhadap tamu-tamunya. Dalam pengaduan Ahmad Syaifullah di hadapan Ketum PPWI Bapak Wilson Lalengke, ia menceritakan bahwa kronologi tentang masalah yang dialaminya.

“Saya diundang oleh team review Cabor untuk persiapan Sea Games Kamboja Tahun 2023 pada Pada (26/1/2023). Dalam undangan tersebut membahas tentang penilaian bagaimana Cabor Gulat bisa memberikan kontribusi perolehan mendali, dan membahas jumlah atlet yang akan dipersiapkan pada ajang tersebut, pemanggilan atlet mulai dilakukan dan telah disetujui sebanyak 14 atlet dari beberapa kelas yaitu, dua gaya, Grco dan Freestyle untuk mengikuti di Sea Game,” ucapnya.

Achmad Syaifullah juga menjelaskan secara detail bahwa ia bertugas fokus dalam pembentukan dan pembinaan fisik atau lebih dikenal dengan sebutan Strength Conditioning (SC). Adapun Team Pelatnas gulat training camp bertempat di Hotel Urban 101 Rawamangun Jakarta Timur, dan untuk tempat latihan teknik bertempat di Matraman Jakarta Timur, dan di Stadion Atletik Rawamangun Jakarta Timur. Training camp dilakukan mulai 10 Februari 2023 – 11 Mei 2023, dengan tryout ke Daeggu Korea Selatan selama 21 hari yaitu,  16 April – 7 Mei 2023. Waktu pertandingan Sea Games Cabor Gulat di Kamboja selama 5 Hari dimulai 12-16 Mei 2023.

“Alhamdulillah Cabor gulat memberikan hasil yang baik dengan memperoleh 14 medali dari 14 atlet, pencapaian yang ditunggu selama hampir 26 tahun, dengan perolehan sebagai berikut:

1. Memperoleh medali emas sebanyak 6.

2. Memperoleh medali perak sebanyak 6.

3. Memperoleh medali perunggu sebanyak 2.

Dari perolehan tersebut pemerintah Indonesia memberikan apresiasi kepada para pelatih adapun bonus tersebut berupa uang tunai dengan uraian sebagai berikut:

1. Untuk peraih medali emas pelatih diberikan bonus sebesar Rp.525 juta.

2. Untuk peraih medali perak pelatih diberikan bonus sebesar Rp.315 juta.

3. Untuk peraih medali perunggu pelatih diberikan bonus sebesar Rp.105 juta.

Di samping bonus tersebut di atas PP PGSI juga memberikan tambahan bonus untuk peraih medali emas sebesar Rp.300 juta, untuk peraih medali perak sebesar Rp.200 juta, dan untuk peraih medali perunggu sebesar Rp.100 juta,” ungkapnya.

Selain bonus yang didapat, pelatih juga mendapatkan reward atas perolehan medali tersebut. Namun ada hal yang sangat menyakitkan yang dirasakan dan dialami oleh Achmad Syaifullah sebagai pelatih fisik terkait kedzoliman dan ketidakadilan yang diperlihatkan dari 5 pelatih, hanya satu pelatih fisik/strength conditioning (SC) yang tidak mendapatkan bonus apa-apa.

“Saya berharap kepada Ketua Umum PP PGSI dalam hal ini Bapak Trymedya Panjaitan dapat memikirkan hal tersebut. Keberhasilan dalam hal ini semua mempunyai peran sesuai tugas/jobdesk, sesuai keilmuan yang dimiliki, berikan hak bonus saya, agar sama dengan yang lainnya,” harapnya.

Sementara itu, Ketum PPWI Wilson setelah mendengar cerita dan keluhan dalam pengaduan Achmad Syaifullah selaku pelatih fisik di PP PGSI dalam ajang Sea Game, bahwa ia berjanji akan membantu  dan menemui pihak Kemenpora untuk menanyakan masalah Achmad Syaifullah.

“Saya akan bantu terkait hal yang diceritakan dari awal hingga akhir dan saya akan bantu untuk komunikasi dengan pihak Kemenpora Deputi IV terkait masalah yang menimpah pelatih fisik Achmad Syaifullah,” pungkasnya. (Wandy/Red)

Posted on Leave a comment

Terkait Dugaan Pungli di Sekolah, PPWI Inhil Soroti Sikap Kadisdik dan Pemkab Inhil yang Memble

Dekade-Inhil – Tim DPC Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) memberikan tanggapan atas bantahan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Inhil terkait dugaan “tutup mata” Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) terhadap isu pungutan liar (pungli) di sekolah-sekolah. Pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Kadis Kominfops), Trio Beni, menjadi sorotan utama tim PPWI.

Ketua PPWI Inhil, Mely, mempertanyakan alasan Kadisdik tidak memberikan tanggapan langsung terkait isu di bidangnya. “Kalau urusan Kominfo, wajar Trio Beni yang berbicara karena itu tugasnya. Tapi ini masalah pendidikan, kenapa Kadisdik diam dan justru diwakili oleh Kadis lain? Apa sebenarnya fungsi Kadisdik di Inhil ini, dan siapa sebenarnya Trio Beni ini mengapa harus semudah itu dia yang angkat bicara?” ketus Mely dengan nada tanya.

PPWI Inhil juga mengkritisi surat edaran yang disebut-sebut telah diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Inhil. Hingga laporan PPWI kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ditayangkan, tim PPWI mengaku tidak menerima informasi terkait surat tersebut. Selain itu, saat konfirmasi ke Kabid SMP, pihak terkait justru tidak merespons dan bahkan memblokir nomor kontak pengurus PPWI.

Yang lebih membingungkan, menurut Mely, surat edaran Kadisdik yang berisi larangan pungli di sekolah-sekolah baru diterima oleh PPWI pada sore hari setelah Pj Bupati Inhil, Erisman Yahya, dilaporkan ke Kemendagri. Namun, tanggal surat edaran tersebut dibuat mundur sebulan dari waktu penerimaan. “Kalau memang surat edaran itu sudah ada, kenapa tidak diberikan sejak awal atau dipublikasikan agar masyarakat tahu isinya? Apa yang sebenarnya direncanakan hingga surat ini terkesan dirahasiakan?” ungkap Mely dengan nada kecewa.

Bukan hanya itu, saat di konfirmasi ke Pj Bupati, Erisman Yahya sendiri mengatakan sangat disayangkan, mengapa tidak satu pun media yang mempublikasikan tegurannya ke bawahannya itu. Bahkan media yang dikelola pemda pun tidak memberitakan adanya teguran tersebut. Ini menjadi pertanyaan besar, apakah ada upaya untuk menutup-nutupi persoalan ini.

PPWI Inhil Menuntut Transparansi

Melalui berita ini, PPWI Inhil meminta Pemkab Inhil, khususnya Dinas Pendidikan, untuk bersikap transparan dan profesional dalam menangani isu-isu publik. PPWI juga mendesak agar surat edaran yang diterbitkan segera dipublikasikan secara luas agar masyarakat mengetahui langkah apa yang diambil untuk menangani kasus pungli di sekolah.

“Ini masalah kepercayaan publik. Jika instansi terkait terus bersikap tertutup, wajar jika muncul kecurigaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan, dan jangan bisanya hanya menyalahkan wartawan dan menilai wartawan tidak profesional dalam membuat berita,” tutup Mely.

Sementara itu, Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, yang dimintai pendapatnya tentang ‘kekacauan birokrasi’ setelah Pj. Bupati Erisman Yahya dilaporkan ke Menteri Dalam Negeri, mengatakan bahwa salahs atu kebiasaan buruk pejabat adalah membohongi publik. “Para pejabat di Indragiri Hilir itu mencoba mengelabui publik dengan rangkaian kebohongan, tapi kedodoran. Malahan sebaliknya, lebih transparan terlihat kebungulan alias kedunguan para pejabat itu, mulai dari level Pj. Bupatinya, Dinas Kominfo, si Trio Beninya, hingga Kadis Pendidikan, dan seterusnya,” sebut alumni PPRA-48 Lemhannas RI tahun 2012 ini sambil menambahkan bahwa pemerintahan yang dikelola dengan kebohongan hanya akan melahirkan birokrasi yang buruk dan amburadul, yang akhirnya berujung pada pelayanan publik yang mengecewakan rakyat.

Transaparansi itu, tambah pria yang pernah bertugas sebagai guru PPKN di SMP Negeri Sapat, Inhil, periode 1990-1993 ini, semestinya dimulai dari dinas yang mengurusi komunikasi dan informasi. Dinas ini yang terkait langsung dengan UU Keterbukaan Informasi Publik dan bertugas untuk menyampaikan kepada masyarakat tentang program pembangunan yang dilaksanakan pemerintah daerah tersebut.

“Lah, Kadis Kominfo Inhil, Trio Beni, saja sangat tertutup, tidak bersedia memberikan informasi soal data media-media yang bekerja sama dengan dinas tersebut dalam pengelolaan informasi yang menggunakan uang rakyat. Bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan transparansi pemerintahan dari para pejabat otak bungul semacam itu? Capek deh!” sindir Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, menyikapi problematika pemerintahan di Inhil yang dinilainya memble dan bobrok tersebut. (TIM/Red)

Posted on Leave a comment

Kasatreskrim Polres Solok Selatan Tewas Ditembak Rekan Sesama Polisi

Dekade-SOLOK SELATAN – Kasatreskrim Polres Solok Selatan, AKP Ryanto Ulil Anshar, tewas ditembak oleh rekannya, Kabag Ops Polres Solok Selatan, AKP Dadang Iskandar, di area parkir Polres Solok Selatan, Sumatra Barat, pada Jumat, 22 November 2024.

Peristiwa tragis ini diduga dipicu oleh ketidaksenangan pelaku terhadap tindakan korban yang menangkap pelaku tambang ilegal.

AKP Ryanto mengalami dua luka tembak di bagian kepala, yang mengakibatkan dirinya meninggal dunia di lokasi kejadian. Jenazah korban telah dipulangkan ke kampung halamannya di Makassar, Sulawesi Selatan, untuk dimakamkan.

Kabid Humas Polda Sumatera Barat, Kombes Pol Dwi Sulistyawan, menyatakan bahwa kasus ini sedang dalam penyelidikan mendalam oleh pihak kepolisian. 

“Kami memastikan semua langkah dilakukan sesuai prosedur untuk mengungkap fakta-fakta dalam insiden ini,” ujar Kombes Dwi.

Polda Sumatera Barat juga menegaskan komitmen untuk menangani kasus ini secara transparan dan profesional demi memberikan kejelasan kepada publik. Olah Tempat Kejadian Perkara (TKP) telah dilakukan, dan sejumlah saksi sedang diperiksa guna memperkuat proses penyelidikan.

Hingga kini, pihak berwenang terus berupaya mencari motif mendalam dari insiden ini serta memastikan keadilan ditegakkan dalam proses hukum.

Posted on Leave a comment

PPWI Inhil Menyoroti Sikap Kadisdik dan Pemkab Inhil Terkait Dugaan Pungli di Sekolah

Dekade-Inhil, 22 November 2024 – Tim DPC Persatuan Pewarta Warga Indonesia (PPWI) Kabupaten Indragiri Hilir (Inhil) memberikan tanggapan atas bantahan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Inhil terkait dugaan “tutup mata” Kepala Dinas Pendidikan (Kadisdik) terhadap isu pungutan liar (pungli) di sekolah. Pernyataan yang dikeluarkan oleh Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Persandian (Kadis Kominfops), Trio Beni, menjadi sorotan utama tim PPWI.

Ketua PPWI Inhil, Mely, mempertanyakan alasan Kadisdik tidak memberikan tanggapan langsung terkait isu di bidangnya. “Kalau urusan Kominfo, wajar Trio Beni yang berbicara, karena itu tugasnya. Tapi ini masalah Dinas Pendidikan, kenapa Kadisdik diam dan justru diwakili oleh Kadis lain? Apa sebenarnya fungsi Kadisdik di Inhil ini, dan siapa sebenarnya trio beni ini mengapa harus semua dia yang angkat bicara?” tegas Mely.

PPWI Inhil juga mengkritisi surat edaran yang disebut-sebut telah diterbitkan oleh Dinas Pendidikan Inhil. Hingga laporan PPWI kepada Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) ditayangkan, tim PPWI mengaku tidak menerima informasi terkait surat tersebut. Selain itu, saat konfirmasi ke Kabid SMP, pihak terkait justru tidak merespons dan bahkan memblokir nomor kontak salah satu pengurus PPWI.

Yang lebih membingungkan, menurut Mely, surat edaran baru diterima oleh PPWI pada sore hari setelah laporan kepada Kemendagri disampaikan. Namun, tanggal pada surat tersebut jauh mundur dari waktu penerimaan. “Kalau memang surat edaran itu sudah ada, kenapa tidak diberikan sejak awal atau dipublikasikan agar masyarakat tahu isinya? Apa yang sebenarnya direncanakan hingga surat ini terkesan dirahasiakan?” ungkap Mely dengan nada kecewa.

Bukan hanya itu, saat di konfirmasi ke PJ bupati bpk Erisman Yahya sendiri mengatakan sangat  disayangkan  mengapa satu pun media tidak ada mempublikasi kan teguran nya bahkan media pemda pun  tidak ada memberitakan ada nya teguran tersebut, Ini menjadi pertanyaan besar, apakah ada upaya untuk menutup-nutupi persoalan ini.

PPWI Inhil Menuntut Transparansi.

Melalui berita ini, PPWI Inhil meminta Pemkab Inhil, khususnya Dinas Pendidikan, untuk bersikap transparan dan profesional dalam menangani isu-isu publik. PPWI juga mendesak agar surat edaran yang diterbitkan segera dipublikasikan secara luas agar masyarakat mengetahui langkah apa yang diambil untuk menangani kasus pungli di sekolah.

“Ini masalah kepercayaan publik. Jika instansi terkait terus bersikap tertutup, wajar jika muncul kecurigaan bahwa ada sesuatu yang disembunyikan,dan jangan bisa nya hanya menyalahkan wartawan dan menilai wartawan tidak profesional dalam membuat berita” tutup Mely.

“Para pejabat itu mencoba mengelabui publik dengan rangkaian kebohongan, tapi kedodoran. Malahan sebaliknya, lebih transparan terlihat kebungulan para pejabat Inhil itu, dari mulai Pj. Bupatinya, Dinas Kompinfo si Trio Beninya, hingga Kadis Pendidikan, dan seterusnya. Pemerintahan yang dikelola dengan kebohongan hanya akan melahirkan birokrasi yang buruk dan amburadul, dan akhirnya berujung pada pelayanan publik yang mengecewakan rakyat.

Transaparansi itu semestinya dimulai dari dinas yang mengurusi komunikasi dan informasi. “Lah, Kadis Kominfo Inhil, Trio Beni, saja sangat tertutup, tidak bersedia memberikan informasi soal data media-media yang bekerja sama dengan dinas tersebut dalam pengelolaa informasi yang menggunakan uang rakyat. Bagaimana mungkin kita bisa mengharapkan transparansi pemerintahan dari para pejabat otak bungul semacam itu? Capek deh!” sindir Ketua Umum PPWI, Wilson Lalengke, dari Jakarta menyikapi problematika pemerintahan di Inhil yang dinilainya sangat bobrok tersebut.

Posted on Leave a comment

Panglima TNI Gelar Open Tournament Karate 2024, Arasely Salsabela Mulven Raih Juara II

Dekade-Surabaya – Dalam rangka memperingati HUT TNI ke-79, Panglima TNI menggelar “Open Tournament Karate”, yang berlangsung di GOR Unesa Surabaya, 17-20 Oktober 2024 lalu. Dalam turnamen yang memiliki tingkat prestisius tinggi ini atlet karate asal Kota Trenggalek atas nama Arasely Salsabela Mulven meraih Juara II Kelas Kata Perorangan Pra Usia Dini Putri.

Arasely sapaan akrabnya merupakan putri pertama dari pasangan Agus Mulyono, S.H., M.H., M.AP., Anggota Polres Trenggalek dan Venny Eka Wardani, A.Md.Keb., yang berdomisili di RT.17/08, Desa Sukowetan, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur. Arasely sangat giat berlatih reguler ataupun mengikuti sistem pelatihan private di Dojo Kodim 0806/Trenggalek yang dilatih Senpai Jupri yang notabene Anggota TNI aktif di Kodim setempat dan tentu saja Senpai Ahmada Aufa Rofiqi yang mengkreasikan pola pelatihannya dalam koridor Training Center (TC).

Dalam kejuaraan kali ini, Dojo Kodim 0806/Trenggalek mengirimkan  41 atlet-atlet terbaiknya. Salah satunya atlet berbakat Arasely Salsabela Mulven yang saat ini masih duduk di bangku kelas 1 (satu) Sekolah Dasar Negeri 1 Sukowetan, Kecamatan Karangan, Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur.

Persaingan di level atas sangat ketat, bintang bintang karate Nasional ikut serta berkompetisi untuk mendapat gelar juara. “Alhamdulillah, wa syukurillah saya bangga putri kami mampu meraih Juara II Nasional dalam Open Tournament Karate. Semoga Arasely tetap semangat dan bisa meraih posisi puncak prestasi di event kejuaraan bergengsi lainnya di masa yang akan datang,” ujarnya.

Selain itu, Arasely juga pernah meraih prestasi mentereng lainnya di antaranya, Juara 1 Open Inkai Antar Pelajar Kelas Kata Perorangan Pra Usia Dini Putri Piala Kepala Dinas Pendidikan di Gor Juang 45 Nganjuk Jawa Timur dan Juara 3 open Kelas Kata Perorangan Pra Usia Dini Putri pada kejuaraan Internasional Open dan Festival Turnamen piala Kemenpora RI 2024 di Gor Among Rogo, DIY. (Red)