GOESTI SOELOENG LELANANG

Rp100.000

Goesti Soeloeng Lelanang merupakan pejuang Kalimantan Barat berasal dari daerah Ngabang. Gusti Sulung Lelanang merupakan salah orang yang diasingkan ke Boven Digoel karena keberaniannya melawan penjajah Hindia Belanda. Sehingga untuk mengingat perjuangannya didirikanlah monumen “Tugu Digulis”. Tugu berbentuk bambu runcing yang berjumlah 11 buah menandakan bahwa ada 11 pejuang dari Kalimantan Barat yang pernah diasingkan ke Boven Digoel.

Description

Goesti Soeloeng Lelanang merupakan pejuang Kalimantan Barat berasal dari daerah Ngabang. Gusti Sulung Lelanang merupakan salah orang yang diasingkan ke Boven Digoel karena keberaniannya melawan penjajah Hindia Belanda. Sehingga untuk mengingat perjuangannya didirikanlah monumen “Tugu Digulis”. Tugu berbentuk bambu runcing yang berjumlah 11 buah menandakan bahwa ada 11 pejuang dari Kalimantan Barat yang pernah diasingkan ke Boven Digoel.

Goesti Soeloeng Lelanang memiliki kekerabatan dengan Kerajaan Landak dari ayahnya, Pangeran Laksamana Gusti Mahmud. Sebagai keturunan bangsawan, ia dapat mengenyam pendidikan di Hollandsche Indische School (HIS) Jatinegara, Batavia. Sekolah yang menggunakan bahasa Belanda sebagai pengantar itu setara dengan Sekolah Dasar yang dapat ditempuh 6-7 tahun.

Kemudian Goesti Soeloeng Lelanang menjadi salah satu putra daerah yang pernah mengenyam pendidikan pada Sekolah Guru (Kweekschool). Pendidikan di Kweekschool itu ditempuh oleh Lelanang setelah lulus dari HIS.

Selama bersekolah di Batavia itulah, perasaan kebangsaan Goesti Soeloeng Lelanang muncul. Kota yang kemudian bernama Jakarta itu menjadi pusat pergerakan kebangsaan Indonesia semenjak politik etis dan kesempatan pendidikan yang lebih luas bagi pribumi bergulir. Ia pun bersama kaum pergerakan lainnya mulai memunculkan pemikiran-pemikiran untuk memperbaiki nasib kaum bumiputera.

Pada 1914 ia bergabung bersama organisasi Sarekat Islam (SI) pimpinan H.O.S Cokroaminoto di Surabaya. Masa-masa pendidikan di Kweekschool itu ia isi juga dengan mempertajam pemikiran-pemikiran politiknya lewat berbagai forum diskusi maupun bersama SI.

Gusti Sulung Lelanang tidak hanya aktif sebagai mahasiswa tetapi ia juga guru pengajar di Perguruan Cikini Raya. Hingga oleh Gubernur Jendral Belanda ia ditempatkan untuk menjadi tenaga pengajar di Singkawang, Kalimantan Barat.

Berikutnya, Gusti Sulung Lelanang pulang ke daerah asalnya, Ngabang. Disana ia kehilangan pendengarannya akibat dikeroyok oleh polisi yang bernama Opas, yaitu pasukan yang isinya orang-orang pribumi yang sudah dilatih oleh Belanda. Kondisi tersebut ia rasakan hinga akhir hayatnya.

Perjuangan Gusti Sulung Lelanang berakhir ketika Jepang masuk ke Kalimantan Barat. Semua sekolah yang pernah ia rintis ditutup kecuali beberapa sekolah yang menurut Jepang boleh tetap beroperasi. Akhir hayat Gusti Sulung Lelanang terungkap pada pemberitaan Koran Borneo Shinbun 28 Juni 1944, ia bersama ribuan kaum cendikiawan di Kalimantan Barat ini dibunuh oleh Jepang.

Additional information

Weight0,15 kg
Dimensions21 × 14 × 2 cm

Reviews

There are no reviews yet.

Be the first to review “GOESTI SOELOENG LELANANG”

Your email address will not be published. Required fields are marked *